SANDAL MBAH GEMBUS

Musim haji telah tiba. Ada sebuah kisah lucu yang dialami Mbah Gembus yang terjadi pada musim haji beberapa tahun lalu. Mbah Gembus, priyayi sepuh yang lugu asal desa di Sragen itu baru kali pertama ke luar negeri.
Menunaikan ibadah haji atau naik haji memang menjadi impian umat Islam.
Sebenarnya, semua jemaah yang hendak beribadah haji sudah mendapatkan materi dari awal keberangkatan hingga akhir ibadah, termasuk tentang adanya metal detector di bandara. Mendapati penjelasan dari pembimbing haji, Mbah Gembus hanya diam seribu bahasa. Jan-jane ya kepengen takon, naging ora ngerti sing arep ditakokke ki apa [Sebenarnya ingin bertanya tetapi tak tahu apa yang akan ditanyakan]. Mbah Gembus Cuma bisa membatin, “Mengko rak ya diwuruki nek wis tekan panggone [Nanti paling ya diajari saat sampai di tempatnya].”
Saat di bandara, Mbah Gembus beserta rombongan mengantre diperiksa. Mbah Gembus berseragam haji dan mengenakan sandal kulit selop kesayangannya. Tak ketinggalan balsem dan minyak kampak masuk di tas kecilnya.
Mbah Gembus merasa tidak ada yang ganjil sedikit pun. Jemaah lain merasa tidak ada yang tertinggal. Satu per satu anggota jemaah mengantre pemeriksaan di bandara sesuai prosedur. Mbah Gembus beserta rombongan harus melewati metal detector dan semua barangbarang bawaan akan melewati pemeriksaan x-ray.
Tiba giliran Mbah Gembus diperiksa. Awalnya amanaman saja. Ketika petugas memeriksa Mbah Gembus, pendeteksi metal tersebut berbunyi, tiiit….tiiit….tiiit. Dengan sigap tapi tetap ramah, petugas memeriksa Mbah Gembus. Petugas bandara tidak menemukan barang berbahan metal di koper Mbah Gembus. Seakan tidak percaya, petugas bandara tersebut kembali memeriksa Mbah Gembus. Lagi-lagi petugas bandara belum berhasil memecahkan kasus Mbah Gembus. Alat pendeteksi itu tetap berbunyi, tiiit….tiiit….tiiit….. ketika digunakan untuk memeriksa Mbah Gembus.
Jon Koplo, petugas bandara itu, akhirnya menyerah dan bertanya, “Jan-jane njenengan niku mbeta napa, ta Mbah?[Sebenarnya Anda itu membawa apa Mbah]?”
Mbah Gembus malah kebingungan sendiri. “Lo, kulo mboten mbeto barang sing neka-neka niku, Mas [Lo saya tak bawa barang neka neka Mas].”
Pelan-pelan Jon Koplo mendekatkan alat itu ke bagian sandal Mbah Gembus. Bunyi tiiit….tiiit….tiiit….. semakin tak terkendali. Jon Koplo pun memberanikan diri untuk meminta Mbah Gembus melepas selop kulitnya. Diperiksalah sandal Mbah Gembus tersebut.
“Blaik, sandale njenengan pakone ngeten niki, ta [Wah, sandal Anda pakunya begini]?” kata Jon Koplo.
Mendengar kalimat Koplo, jemaah lain tersenyum lebar. Ternyata selop Mbah Gembus penuh paku, tak memakai lem untuk merekatkan.
Pengiri: Aji Wicaksono Guru SD Al Islam 2 Jamsaren, Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top