ROH PELUKIS

Faris Al Faisal

Syayidin terkejut. Seseorang lelaki yang sama persis dengan dirinya duduk di kursi depan studio lukisnya. Lelaki itu pun sebenarnya terkejut juga melihat Syayidin datang. Namun ia segera berdiri, tersenyum, menyambut layaknya seorang tuan rumah yang ramah.
“Selamat datang!” katanya. Ucapan yang seharusnya diucapkan Syayidin bila menyambut kedatangan tamu tamunya untuk dilukis.
Syayidin segera menurunkan lukisan-lukisan di gendongannya dan meletakkannya begitu saja. Mungkin ada salah satu dari bingkainya yang retak atau bahkan patah. Padahal harga satu lukisannya bila terbeli kolektor bisa mencapai puluhan juta atau bahkan ratusan juta. Sebagai pelukis aliran ekspresionisme, gaya lukisannya berupa warna tebal dan dramatis serta goresan kuas yang impusif dan ekspresif konon dapat diserupakan dengan Vincent van Gogh, pelukis pasca impresionis Belanda yang menciptakan kurang lebih 2.100 karya lukis sepanjang hidupnya.
“Kamu ini siapa?” tanya Syayidin bingung. “Mirip sekali dengan saya. Seharusnya saya yang menyambutmu. Apa sudah lama menunggu?” tanya Syayidin lagi. “Saya baru pulang dari pameran lukisan di Open Art Space Marge Gallery, Busan, Korea Selatan,” lanjutnya kemudian.
Lelaki itu malah kelihatan kesal. “Aneh sekali Anda ini! Justru sayalah yang seharusnya bertanya, ada tujuan apa Anda berkunjung di studio lukis ini,” tukasnya. “Apa ingin beli lukisan? Dilukis? Atau merencanakan pameran lukis?” Beruntun pertanyaan itu ditanyakan lelaki yang mirip dengan Syayidin itu.
Syayidin terpaku. Ia masih bingung karena seperti bicara di depan cermin dengan bayangannya sendiri. Apalagi apa yang lelaki tadi ucapkan adalah persis gayanya bila menanyakan maksud kedatangan tamunya.
Pada saat itu dari dalam rumah, muncul seorang perempuan yang Syayidin sangat mengenalnya. Rupanya istrinya. Dalam hatinya Syayidin berharap istrinya akan segera menyambutnya dengan hangat setelah sebulan lebih pergi ke Busan, Korea Selatan dan bisa segera menyelesaikan perselisihan itu. Namun justru istrinya mendekati lelaki yang mirip dengannya.
“Siapa lelaki itu, Mas? Seperti kembaranmu saja,” tanya istri Syayidin bingung.
“Entahlah! Dia mengaku Syayidin,” ucap lelaki yang mirip Syayidin.
“Loh, kok bisa?” cetus istri Syayidin merasa aneh. Dipandangi dua lelaki di depannya. Seolah ia sedang mengenali dan memilih Syayidin suaminya. Namun, perempuan itu kesulitan karena memang keduanya nyaris pinang dibelah dua.
“Dik, ini saya Syayidin, suamimu. Saya pulang,” ucap Syayidin meyakinkan.
Perempuan itu memejamkan matanya sebentar. “Mana mungkin kamu suamiku, ini mas Syayidin,” ucapnya mendekati lelaki yang mirip Syayidin. “Kamu pasti mas Syayidin palsu. Iya kan?”
“Saya Syayidin, Dik!”
“Tidak! Kamu pasti mengaku-aku.”
Kemudian istri Syayidin merengkuh ingin memeluk tangan lelaki yang dikira suaminya. Namun nahas, ia malah seperti menyentuh benda abstrak, menyentuh bayangan. Tubuhnya hampir jatuh kalau tidak segera berpegangan pada tiang kayu jati ukir rumahnya.
“Awh, Mas Syayidin! Kenapa kamu lepas pegangan tanganku?” Perempuan itu mengaduh pada lelaki yang dikiranya Syayidin.
“Aku tak melepasmu,” kata lelaki itu membantah.
Syayidin mendekati istrinya. “Kamu tak apa, Dik?”
“Kamu mau apa? Jangan sentuh saya,” cegah istrinya.
Syayidin mundur dan berbalik ke arah lelaki itu. Mata lelaki itu ditatapnya dari ujung rambut sampai pangkal kakinya. Syayidin seperti ingin memastikan siapa lelaki di depannya yang sudah dengan berani mengaku ngaku dirinya. “Jadi kamu ini siapa?”
“Saya Syayidin,” jawabnya tak berubah.
“Bohong! Kamu bukan Syayidin!” bentak Syayidin.
“Kamu yang dusta,” kata lelaki itu membalas Syayidin.
Syayidin kesal. Emosinya menggumpal. Ia memukul lelaki itu sekuat tenaga, tapi kepalannya justru seperti menghajar ruang kosong sampai tubuhnya yang gempal itu hampir terjungkal. Sementara lelaki itu tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser dan bergerak sedikitpun.
“Kamu pasti hantu. Tubuhmu seperti bayangan. Tak dapat disentuh oleh manusia. Ayo mengakulah, kamu bukan Syayidin,” ucap Syayidin memeriksa pengakuan lelaki itu.
Istri Syayidin diam-diam seperti sedang berpikir. Dahinya tampak berkerut-kerut. Ia mulai mengingat peristiwa saat-saat sebelum suaminya pergi. Kemudian lonceng kepalanya berdentang, perempuan itu seperti mengingat sesuatu. Bukankah Mas Syayidin pernah bilang akan mengikuti pameran lukisan ke Korea Selatan? Nah, siapakah di antara keduanya yang sudah ke sana? Pikirnya.
“Sebenarnya ini aneh. Sepertinya mustahil. Tapi baiklah. Tidak mungkin kalau kalian berdua adalah Syayidin. Pasti hanya ada satu. Dan satunya adalah palsu. Saya memang bingung untuk membedakan kalian karena sangat mirip,” jelas istri Syayidin.
“Saya ini Syayidin,” ucap lelaki yang mirip Syayidin.
“Sayalah Syayidin,” jawab Syayidin tak ingin kalah.
Bersahut-sahutan keduanya mengaku. Seakan tak ada yang ingin mengalah untuk mengakhiri perselisihan itu. Kedua bersikukuh untuk meyakinkan perempuan itu agar mempercayai penjelasannya.
“Baiklah, baiklah!” ucap istri Syayidin.
“Coba, kalau kalian berdua merasa sebagai Syayidin suami saya. Sebelum ada kejadian ini Mas Syayidin pernah mengatakan perihal rencananya untuk Open Art Space Marge Gallery. Nah, siapa di antara kalian yang pergi ke Busan, Korea Selatan?”
Dua lelaki yang memperebutkan dirinya Syayidin itu saling pandang. Lelaki yang mirip Syayidin masih terpaku sementara Syayidin segera beranjak memungut lukisan-lukisannya yang dibiarkan tergeletak tadi. Lalu menyandarkannya pada dinding beranda studio lukisnya. Ia tampak membuka tali pembungkusnya. Mengambil album foto yang ditempatkan di antara lukisan-lukisannya.
“Saya yang ke sana, Dik! Lihatlah foto-foto ini!” Syayidin memberikan album foto tersebut. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Menunjukkan lagi foto dan video kegiatannya selama Open Art Space Marge Gallery di Busan, Korea Selatan.
Istri Syayidin memeriksa dan mengamati. Ia mulai mempercayai setelah melihat bukti tersebut. Namun, ia tidak ingin gegabah. Ditatapnya lelaki yang mengaku Syayidin itu. Lelaki yang hampir satu bulan ini tinggal serumah dengannya.
Sementara lelaki yang mengaku juga Syayidin tampak mulai bingung. Ia mencari-cari sesuatu untuk membuktikan kalau ia adalah Syayidin.
“Bagaimana? Apa Mas bisa menunjukkan bukti yang saya inginkan?” tanya istri Syayidin.
“Sa sa, saya memang tidak ke Korea Selatan,” jawabnya tergagap.
“Jadi?” tanya istri Syayidin menyelidik dan mencari jawaban.
“Lelaki ini pasti Syayidin palsu,” kata Syayidin mantap.
Keadaan itu justru membuat istri Syayidin tampak resah. “Lantas siapa lelaki yang berada di rumah ini, Mas?”
“Apa kamu pernah tidur dengannya, Dik?” tanya Syayidin.
“Tidak Mas, ia memilih tidur di studio lukis. Bahkan saya baru menyentuhnya tadi, tapi yang saya sentuh seperti bayangan,” jawab istrinya.
“Apa ia minum dan makan masakanmu, Dik?”
“Tidak juga, katanya ia selalu berpuasa. Namun entah di mana jika ia berbuka.”
Syayidin menatap tajam lelaki di depannya. Lagi-lagi ia seperti menatap wajahnya sendiri. Melihat tubuhnya sendiri.
“Ayo katakanlah, siapa kamu ini?” tanya Syayidin menyelidik.
Lelaki itu terdiam sesaat kemudian menjawab, “Saya adalah rohmu.”
Syayidin terkejut sekali. Namun istrinya jauh lebih terkejut.
“Lantas roh siapa yang ada di tubuhmu ini, Mas Syayidin?” tanya istrinya bingung.
“Ah, saya tak tahu, Dik! Saya bingung dengan peristiwa ini. Semua membingungkan seperti misteri.” Syayidin benar-benar pusing. Kedua tangannya meraba-raba rambut kepalanya yang panjang sebahu, mengelus-elusnya berkalikali, memastikan jika rohnya masih ada, tidak keluar dari tubuhnya, dan tidak tertukar dengan roh yang lain. Ia kemudian mengajak bicara lelaki yang tak ain adalah rohnya sendiri.
“Jika kamu adalah rohku, mengapa kamu melakukannya?” tanya Syayidin penasaran.
“Saya ini adalah roh pelukis. Jika saya ikut denganmu di Open Art Space Marge Gallery di Busan, Korea Selatan, itu berarti dalam waktu yang lama saya harus beristirahat melukis karena ikut memamerkan lukisan. Saya tak mau jika seperti itu. Saya ingin terus melukis sekalipun tanpa jasad,” jelas roh Syayidin.
Syayidin melihat sekeliling studio lukisnya. Puluhan lukisan ekspresionisme dengan berbagai simbol dan tentu memiliki makna fi losofi telah terbingkai dan tergantung rapi di dinding. Beberapa di antaranya belum selesai. Tentu itu yang melukis adalah rohnya.
Istri Syayidin sendiri terpana mendengar pengakuan lelaki itu yang ternyata adalah roh dari suaminya. Tangan kanannya dibekapkan di mulutnya. Seperti ada yang tertahan dan sulit diucapkan. “Jadi kalian sebenarnya adalah jasad dan roh Mas Syayidin?”
“Sudahlah, saya akan kembali ke tubuhmu. Dan roh yang ada di tubuhmu, saya kembalikan ke tempat asalnya,” ucap roh Syayidin kepada jasadnya.
Syayidin telah melihat rohnya kembali. Dan istrinya tampak lemas dan perlahan terkulai pingsan. Beberapa tetangga Syayidin berdatangan. Mereka segera membantu Syayidin membopong istrinya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa busa yang ada di ruang keluarga. Kejadian itu tidak Syayidin ceritakan kepada orangorang itu. Biarlah mereka akan tahu setelah kisah itu ia ceritakan kepada seorang penulis cerpen.
Indramayu, 2019
Faris Al Faisal, tinggal di Indramayu. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (Formasi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top