BERTUKAR TEMPAT, SIAPA TAKUT! Bagian 1

OLEH: KAK IAN

Fikar adalah teman sebangku Adnan. Mereka masih duduk di bangku kelas V. Fikar adalah anak dari kalangan orang berada. Maklum Fikar pindahan dari kota Jakarta. Ia pindah ke Solo karena mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan kerja di kota itu. Akhirnya Fikar pun berteman dengan Adnan. Tapi walaupun Fikar orang berada ia sangat baik pada Adnan.
Sedangkan Adnan adalah anak dari seorang tambal ban. Pekerjaan ayahnya sehari-hari memperbaiki ban yang kempes, bocor maupun rusak. Semua jenis ban kendaraan ayahnya pun bisa memperbaikinya.
Tapi Adnan tidak bersyukur atas apa yang dimilikinya. Akhirnya ia mendekati Fikar yang saat itu sedang membuka buku pelajaran.
“Bagaimana kalau kita bertukar tempat?” akhirnya Adnan mengutarakan maksudnya itu.
“Maksudnya? Aku tidak paham maksud kamu, Nan.”
“Maksud aku begini. Aku tinggal di rumah kamu dan kamu tinggal di rumahku. Selama sepekan saja,” Adnan menjelaskan gagasannya itu pada Fikar.
Fikar terdiam sejenak. Ia memikirkan gagasan dari Adnan itu.
“Bagaimana, Kar? Apa kamu bisa!”
“Hmm, kalau begitu aku bilang sama ayah dan bundaku lebih dulu, ya! Semoga saja mereka mengizinkannya. Apalagi mereka sudah tahu kalau kamu teman baikku di kelas.”
“Baiklah! Nanti sepulang sekolah aku tunggu di bengkel ayahku. Bagaimana?”
“Baik!
Adnan saat ini sangat gelisah. Sudah setengah jam ia menunggu Fikar belum juga menampakkan wajah. Padahal mereka sudah janjian tadi pagi di dalam kelas. Jika mereka akan bertemu di bengkel milik ayah Adnan.
Tidak lama kemudian kegelisahan Adnan terobati ketika ada sebuah mobil mewah berhenti di depan bengkel ban milik ayahnya itu. Seusai berhenti turunlah seseorang dari mobil. Dan tampaklah sosok anak seusia Adnan. Ternyata sosok anak itu adalah Fikar.
“Maaf-maaf ya aku terlambat datang. Soalnya aku mampir dulu ke minimarket untuk belanja. Kan nanti tinggal di rumahmu,” ujar Fikar menjelaskan keterlambatannya itu.
Adnan yang tadi kesal atas keterlambatan Fikar kini wajahnya bersemu. Ia senang karena teman sebangkunya itu diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk bertukar tempat. Dan itu adalah gagasan dari Adnan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top