RESEP GODHONG KATES

Lady Cempluk pagi itu membeli sarapan ke tetangga sebelah. Matanya langsung tertuju pada menu gudangan alias urap aneka sayuran.
Dia membeli beberapa bungkus. Pas sampai rumah, suaminya suka dengan gudangan yang dibeli Lady Cempluk. Dia lahap menghabiskan seraya berkomentar, ”Gudangane seger bu, godhong katese ora pahit [gudangannya segar Bu, daun pepayanya tak pahit].”
Saat membeli sarapan di tempat dia membeli gudangan, Lady Cempluk bertanya kepada si penjual resepnya.
”Budhe, godhong katese eco niki. Kok mboten pahit niku resepe napa [Bude, daun pepayanya enak. Kok tak pahit resepnya apa]?”
”Wealah godhong kates wae econe kaya napa ta Bu. Gampil niku, digodhok kaliyan lempung. Mangke lak mboten pait [Walah, daun papaya saja enaknya apa. MUdah itu, direbus bareng lempung].”
Lady Cempluk yang mendapat sebuah resep amat berharga kembali pulang. Selang berapa hari dia mulai menyiapkan godhong kates kembali untuk dimasak. Tak lupa dia mengambil beberapa bongkah lempung. Selesai memasak menggunakan lempung, dia mengolah daun papaya menjadi oseng-oseng.
Selesai memasak, dia menata bak chef kemudian meminta suaminya untuk mencicipinya.
”Gimana Mas rasanya?” Suaminya memakan beberapa suap oseng-osengnya.
”Enak Bu…enggak pahit.”
Cempluk semringah sampai akhirnya melihat ekspresi suaminya berubah.
”Kenapa Mas?”
”Iki apa Bu? Kok ngeresngeres kaya kerikil?”
Cempluk nyengir. ”Oh mungkin kerikil Mas, tadi aku rebus daunnya pakai tanah lempung.”
”Terus lempungnya dari mana?”
”Dari samping kamar mandi Mas. Adanya di situ.”
Suaminya langsung muntahmuntah. ”Bu…ya Allah, air kamar mandi sering merembes ke samping je. Gak mental aku nek lempunge kena banyu apa aroma WC [gak tega aku kalau lempungnya terkena air atau aroma WC].”
Cempluk nyengir lagi sembari garuk-garuk kepala.
Pengirim: Zukhruf El H.
zulhabibah01@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top