CELANA MLOTROK

Di kolam renang itu Jon Koplo membisu. Dia berdiri di pinggir kolam, dengan air setinggi dagunya. Beberapa kali ia memegangi dahi dengan penuh penyesalan. Matanya mengarah ke sana ke mari mencari sesuatu.
Namun, dia tak menemukan barang yang dicari. Yang dicari adalah celana kolor yang dia pakai berenang. Sebelumnya, Jon meloncat dari pinggir kolam ke dalam air dengan penuh semangat.
Ternyata, saat masuk air, celananya melorot. Celana itu menghilang terbawa air.
Begitu menyadari kolornya hilang, Koplo berusaha mencari ke sana ke mari tetapi tak kunjung ketemu. Bisa jadi celananya tenggelam.
Yang pasti, wajah Jon Koplo pucat pasi karena kedinginan dan celananya hilang. Orang-orang yang berenang makin banyak, sementara yang berada di pinggir kolam sambil berjermur tak kunjung meninggalkan tempat.
Koplo malu hendak keluar dari kolam. Ia memilih mepet dinding kolam. Membisu. Badannya menggigil sudah berjam-jam di dalam air. Dia menyesal kenapa ia memakai celana kolor yang sudah longgar.
Untung dia masuk memakai celana dalam. Namun, dia malu jika keluar air hanya mengenakan segitiga pengaman itu.
Ia teringat peristiwa sebelum ia berangkat ke kolam renang. Ibunya, Lady Cempluk, pada pagi haru menyuruh Koplo mengantarkan ke pasar. Namun, Koplo menolak. Koplo punya rencana pada Minggu itu untuk berlibur ke kolam renang.
Kini, Koplo menyesal mengabaikan permintaan ibunya. Bahkan Koplo sampai berpikir apakah ini adalah murka Tuhan karena menolak permintaan ibunya?
Oh ya, bagaimana akhir nasib Jon Koplo? Akhirnya dia nekar keluar dari air dengan hanya mengenakan segitiga pengaman. Dia berjalan minggring-minggring ke tempat dia menyimpan baju ganti.
Pengirim: Danang Cahya F.
Banaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top