Jon Koplo baru saja sampai di rumah setelah menempuh perjalanan Solo-Gemolong dari kampusnya. Ia mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kota Solo. Sesampainya di rumah, ia meletakkan jaket dan merogoh saku namun tak mendapati dompet kesayangannya. Padahal dompetnya berisi kartu dan surat-surat penting serta beberapa uang. Ia pun merogoh tas dan saku celananya namun hasilnya nihil. Bahkan dompet itu tak ada di jok sepeda motornya. Ia panik dan mengajak adiknya, Genduk Nicole, untuk mencari di sepanjang jalan sampai kampus sesuai rute. Namun hasilnya nihil.
Nicole menyarankan untuk langsung melapor ke kantor polisi untuk mencari surat kehilangan karena surat-surat di dompet sangat penting. Koplo pun menyetujuinya dan akhirnya mereka langsung menuju polsek. Di polsek, Koplo melaporkan apa yang telah terjadi kepada polisi yang sedang bertugas. Dia menjelaskan dengan terperinci apa saja yang telah hilang dan polisi membuatkan surat kehilangan. Tak berselang lama, HP Koplo berbunyi, ada panggilan dari ibunya, Lady Cempluk. Langsung saja diangkat.
“Halo, Bu. Ada apa?” tanya Koplo ketika mengangkat telepon itu.
“Kamu sama adikmu sedang di mana? Ibu sampai rumah kok kamu sama adikmu enggak ada. Biasanya kamu wis pulang.” Suara itu terdengar jelas.
“Ini di kantor polisi, Bu. Cari surat kehilangan, Bu. Dompetku hilang,” kata Koplo memberi tahu ibunya.
“Lo, hla ini dompetmu di rumah. Dari tadi pagi enggak mbok bawa.”
“Weladala.”
Muka koplo memerah. Ia tak tahu bagaimana menjelaskannya kepada Pak Polisi. Akhirnya ia mengatakan kepada Pak Polisi bahwa dompetnya tidak hilang.
“Lha bagaimana ta, Dik. Kamu lupa naruh-nya berarti, hla itu dibawa ibumu.”
“Iya, Pak, hehehe,” jawab Koplo dengan muka bersemu merah menahan malu. “Ya sudah, saya pamit.”
“Lo-lo, mau ke mana kok terburu-buru. Sini duduk dulu,” kata Pak Polisi mencegah.
“Ada apa lagi, Pak?” Koplo bingung.
“Kamu ke sini berdua boncengan pakai sepeda motor dan enggak pakai helm. Tahu kan maksud saya. Ini surat pengganti dari surat kehilangan yang telanjur saya buat dan malah kamu kembalikan. Ini surat tilang, datang ke pengadilan Selasa pekan depan,” terang Pak Polisi.
“Weladala.”

Pengirim: Eko Setyawan,
Ngipik Desa Bangsri, Kec. Karangpandan, Karanganyar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top