Nguping Wong Bakulan

Awal cerita Genduk Nicole sedang menunggu barang yang sedang ia beli lewat toko online, bahasa anak zaman now lagi COD-an. Ketika sedang menunggu barang yang ia beli, Nicole menunggu di pinggir jalan di dekat bapak-bapak penjual ornamen kemerdekaan karena mendekati 17 Agustus. Sudah jamak, menjelang HUT RI, banyak pedagang menggelar lapak di pinggir jalan.
Setelah beberapa lama Nicole di situ, ada mbak-mbak yang ingin membeli bendera. Sebut saja namanya Lady Cempluk. Cempluk mendatangi penjual bendera bernama Jon Koplo.
“Mangga Mbak? Nyari apa?” ujar Koplo.
“Bendera kayak gini harganya berapa njih, Pak,” tanya Cempluk.
Koplo pun menyebut harga bendera itu. “Walah mahale,” ujar Cempluk. “Harganya sudah pasaran Mbak. Sendirian saja ta Mbak?” tanya Koplo sambil bercanda.
“Iya Pak, Indonesia merdeka saja karena bersatu bukan berdua atau bertiga,” kata Cempluk dengan nada ngegas.
Padahal dari bahasa tubuhnya, Koplo hanya ingin guyonan, tapi Cempluk mungkin agak sensitif dan menjawab dengan nada agak tinggi dan wajah judes.
“Hla, namuk [hanya] bercanda lo Mbak hehehe,” kata Koplo.
“Ini harganya ndak bisa dikurangi ta Pak?” tanya Cempluk.
“Walah, ngapunten Mbak, ndak bisa ditawar. NKRI harga mati,” kata Koplo.
Mendengar perbincangan antara Cempluk dan Koplo itu, Nicole yang berada di dekat situ tertawa kegirangan. Eh ternyata Cempluk dan Koplo melihatnya.
Biasanya yang galak penjualnya tapi ini malah pembelinya. Bicara Cempluk agak ngegas namun diskak mat oleh Koplo. Ternyata Cempluk urung membeli bendera. Dia pergi dengan alasan tak cocok harga.

Pengirim: Desi Agung Handayani
Sukoharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top