AMBIL SANDAL KIAI

Tiap kali terjadi pemadaman listrik, awalnya Jon Koplo merasa bahagia. Ia tidak perlu mengaji Al Qur’an dan tidak mengaji Kitab. Aktivitas pesantren yang padat menjadi sedikit longgar. Pesantren tempat Jon Koplo mondok memang belum mempunyai mesin diesel.
Jadi, para pengurus pesantren meliburkan kegiatan pesantren pada malam pertama pemadaman. Baru pada malam kedua pemadaman, kegiatan pesantren berjalan seperti biasa. Lampu menyala berkat bantuan (meminjam) diesel milik kepala desa. Namun pada malam pertama pemadaman kali ini, Jon Koplo tidak bahagian, melainkan sebaliknya.
Seperti biasa Jon Koplo masuk masjid tatkala azan berkumandang. Ia tak turun masjid hingga salat isya selesai. Penerangan cahaya hanya empat senter yang diletakkan di depan imam, di belakang makmum, dan di kanan-kiri makmum. Kiai Tom Gembus menjadi imam salat Magrib dan Isya.
Selesai salat isya, Jon Koplo turun dari masjid menuju kamarnya. Ia tak salat sunah rawatib. Ia ingin cepat-cepat tidur. Sementara itu kiai Tom mengerjakan beberapa salat sunah, dilanjutkan dengan berzikir dan berdosa. Mendoakan para santrinya agar menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Jarak turunnya Jon dengan Kiai Tom sekitar satu jam.
Koplo sudah terlelap ketika Kiai Tom mengetuk kamar pondoknya. “Assalamualaikum,” Kiai Tom mengucap salam sambil mengetuk pintu.
Koplo benar-benar letih malam itu. Panggilan salam dan ketukan pintu Kiai Tom tak mampu membuatnya terjaga. Baru pada panggilan salam ketiga, Koplo bisa mendengar. Ia kemudian membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.
“Wa’alaikumsalam. Maaf, barusan tertidur, Kiai.”
“Enggak perlu minta maaf. Seharusnya saya yang minta maaf telah mengganggu tidurmu.”
“Tidak mengganggu, Kiai. Justru saya senang Kiai menemui saya. Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya?”
“Enggak begitu penting sebenarnya. Mau tanya, Koplo sendirian di kamar ini?”
“Iya Kiai. Awalnya sembilan orang, tapi mereka pindah kamar semua.”
“Oooo.. Berarti tidak ada orang lain yang masuk ke sini mulai turun dari masjid?”
“Insya Allah tidak ada, Kiai.”
“Emm.. Iya iya iya. Sandalnya dibutuhkan lagi?”
“Tidak Kiai. Malam ini saya tidak akan kemana-mana. Kan tidak ada kegiatan pondok. Mau tidur saja. Ngantuk,” jawab Koplo. Ia belum sadar juga dengan kata-kata Kiai Gembus.
“Iya iya iya. Beli dimana sandalnya? Aku suka. Warnanya hijau.”
“Bukan hijau, Kiai. Warna biru. Saya tidak punya sandal warna hijau.”
“Nah itu,” kata Kiain. Cahaya senter Kiai Gembus diarahkan ke sandal di depan pintu kamar Koplo.
“Ini bukan punya saya. Mungkin tertukar di masjid.”
Lalu pak Kiai mendekatkan senter ke kakinya. Koplo melihatnya. Kaki Kiai Gembus tak pakai sandal.
“Maaf Kiai, sandalku copot kemarin sore. Turun dari masjid tadi, saya asal bawa. Tidak tahu kalau yang dipakai ternyata punya, Kiai. Ini akibat dari pemadaman listrik, kiai.”
Kiai Tom tersenyum. “Iya iya,” jawabnya.
Setelah Kiai Gembus pulang ke rumahnya, Koplo masuk kamar. Ia tidak bisa tidur. Ia kepikiran dengan kejadian tadi. Wah, kuwalat nih, asal ngambil sandal Kiai.
Pengirim : Muhtadi Chasbien
muhtadichasbien@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top