Sama-sama Ireng

Setelah dapat bagian beberapa kantong plastik daging kurban, malamnya Lady Cempluk pergi ke Pasar Sidodadi, Cilacap. Ia ingin belanja sayuran di sana. ”Masak daging tok ya bisa kolesterol dan sliliten,” begitu alasannya saat pamit kepada anak-anaknya. Sampai di pasar, Lady Cempluk tolah-toleh. Ru-panya pada hari pertama Iduladha ini banyak kios pedagang sayur yang tutup. Lady Cempluk tak putus asa. Kemudian di lapak milik Jon Koplo ia melihat sesuatu.
”Eh, hla di situ jual kentang ireng! Kubeli saja, ah! Lumayan buat dioseng,” pikir wanita beranak empat tersebut. Kentang ireng adalah kentang berukuran kecil, kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa, warna kulitnya ireng alias hitam.
”Mas, kentangnya berapa sekilo?” tanya Lady Cempluk pada pemilik kios.
”Maaf, Mbakyu, tapi
saya enggak berjualan kentang,” jawab Jon Koplo kebingungan.
”Hla itu kentang ireng jualannya sampean, kan?” tunjuk Lady Cempluk ke lantai.
”Oalaah! Itu arang, Mbak! Buat mbakar satai!” Jon Koplo terbahak sendiri.
Lady Cempluk memelotot tak percaya. Ia lalu mengamati lebih dekat. Astaga! Itu memang arang yang diremuk, mirip kentang ireng.
”Mau beli, Mbakyu?” Lady Cempluk menggeleng sambil tertawa menahan malu.

Pengirim: Gita Fetty Utami Donan, Cilacap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top