Korban Zonasi

Beberapa bulan lalu, berita tentang sistem zonasi pada seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) sangat viral. Masyarakat awam sangat gusar dengan sistem zonasi. Sistem zonasi yang memiliki tujuan mulia agar tidak ada lagi stempel sekolah favorit dan sekolah pinggiran, justru tidak menguntungkan bagi sebagian calon siswa.
Calon siswa yang memiliki nilai UN tinggi, belum tentu bisa masuk ke sekolah pilihan-nya. Bagi calon siswa yang nilai UN tinggi, tapi rumahnya tidak berada di zona 1 dengan sekolah yang akan dituju, bisa kalah bersaing dengan siswa yang nilainya kurang tapi rumahnya berada di zona 1.
Tom Gembus adalah salah satu lulusan SMP yang tinggal di perumahan. Perumahan tersebut jaraknya dekat dengan SMAN (dulu SMA favorit di Karanganyar), sekitar 500 meter diukur dari udara. Tapi menurut perhitungan, rumah Gembus berada pada zona 2.
Lady Cempluk dan Jon Koplo, orang tua Gembus, berniat menyekolahkan di SMK. Namun, tetangga-tetangga menyarankan untuk mendaftar ke SMAN terdekat tadi. Koplo dan Cempluk tidak begitu yakin Gembus bisa diterima di SMA tersebut mengingat nilainya sangat rendah.
Malam itu, Genduk Nicole diajak suaminya untuk memenuhi undangan makan-makan. Beberapa orang tetangga ikut dalam rombongan se-perumahan itu. Setelah berada di rumah makan dan menunggu pesanan datang, salah satu tetangga bertanya. “Iki ulang tahune sapa, je?”
“Bukan ulang tahun. Melainkan syukuran korban zonasi,” jawab Jon Koplo.
“La wong dadi korban kok malah syukuran?”
“Ya, gara-gara sistem zonasi, anakku jadi korban, korban yang beruntung. Anakku nilainya cuma sedikit, masuk zona 2, tapi lumayanlah masih masuk ranking. Coba kalau tidak ada zonasi, di SMA dan SMK negeri enggak bakalan diterima,” kata Koplo.
Nicole, Koplo, dan warga la innya tertawa terbahak-bahak.

Pengirim: Noer Ima Kaltsum
Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo
Lalung, Karanganyar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top