MUKENA PELANGI

Pada Idul Adha lalu, Lady Cempluk salat Idul Adha bersama anak perempuannya, Genduk Nicole. Atas permintaan Genduk Nicole, mereka salat Id di masjid lingkungan sekolah anaknya di Sukoharjo yang memang terbuka untuk umum.
”Aku kepingin salat di masjid sekolahan, Bu. Iki surat edaran dari sekolah, murid-murid diimbau salat di masjid sekolah,” kata Genduk Nicole sambil menyerahkan surat edaran sekolah.
Lady Cempluk membaca sekilas, langsung mengiyakan. ”Ra papa sesekali salat agak jauh dari rumah, cuma setahun pisan,” demikian batin Lady Cempluk.
Nah, pukul 06.00 WIB kurang, Lady Cempluk berboncengan dengan Genduk Nicole ke masjid sekolah. Sampai di sana, sudah ramai oleh jemaah. Saf salat tampak penuh. Lady Cempluk bergegas menarik tangan anaknya, mencari barisan saf yang kosong. Dilihatnya di dalam aula sekolah yang dipakai untuk jemaah wanita masih ada satu baris yang kosong.
”Ayo, Nduk di sana masih ada yang kosong,” kata Lady Cempluk.
”Aku di sini aja, Buk. Di teras aja. Ada temanku. Aku mau salat bareng temanku,” kata Genduk Nicole sambil menunjuk temannya.
Lady Cempluk sebenarnya ingin salat di teras saja biar enggak susah cari anaknya selesai salat, namun pekewuh lantaran panitia masjid mendatanginya.
”Mangga Ibu langsung masuk aula, baris yang kosong segera dipenuhi” kata mbak panitia sambil tersenyum manis.
Lady Cempluk terpaksa masuk sendiri yang ternyata barisan yang dimaksud cukup jauh dari anaknya.
Saat hendak menggelar sajadah, bukan main kagetnya Lady Cempluk, mukena yang dibawanya ternyata tertukar dengan mukena Genduk Nicole. Mukenanya yang berwarna putih polos, ternyata terbawa Genduk Nicole. Yang ada di tangannya adalah mukena warna warni mirip pelangi yang lagi jadi tren teman-teman Genduk Nicole.
”Wah…masa aku pakai mukena ini. Isin ta ah. Ini kan mukena anak gaul. Masa aku wis tuwa pakai mukena anak-anak.”
Lady Cempluk celingak-celinguk mencari Genduk Nicole yang tak terlihat lagi karena ketutupan jemaah yang lain. Apalagi terdengar pengumuman salat segera dimulai. Tidak ada jalan lain, Lady Cempluk terpaksa menggunakan mukena
milik Genduk Nicole dengan perasaan campur aduk. Seorang ibu di sebelah mengamatinya. Tanpa diminta, Lady Cempluk menjelaskan dengan malu-malu. ”Anu…niki mukena anake kula. Ketuker kaliyan mukena kula. Bocahe ning mburi.”

Pengirim: Yang Nofiar Desmayani Jl. Dempo Raya, Mojosongo, Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top