MENYELAMATKAN BAYI KOMODO

Lisma Laurel
Ini pertama kalinya bagiku mendatangi Labuan Bajo. Ibu dan ayah mengajakku liburan ke sini. Katanya, Ayah akan mengajak kami ke Pantai Bidadari. Ibu menambahkan kalau Pantai Bidadari bagus sekali. Letaknya di sebuah pulau yang bernama sama. Kata Ibu lagi, aku pasti tidak akan menyesal apabila menghabiskan waktuku di sana. Berenang di laut biru, melihat biota laut, berlarian di pasir putih, dan…
“Tapi pasti ada komodonya, Bu,” ucapku dua hari lalu, ketika masih di rumah.
“Tidak. Di Pantai Bidadari tidak ada komodonya.”
“Benarkah?”
Ibu mengangguk. Maka, kami pun pergi ke Labuan Bajo. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya kami sampai juga. Namun, karena ini sudah malam, Ayah mengajak kami menginap di rumah seorang temannya. Dan sekarang aku tidur sekamar dengan anak teman Ayah itu. Namanya Reo. Dia kalau tidur ngorok. Karenanya aku tidak bisa tidur.
Aku berharap pagi segera datang. Tapi langit masih gelap. Sekarang masih jam satu. Aku bertopang dagu di balik jendela. Bosan. Ya, aku sangat bosan sekali. Andai pagi cepat datang dan aku bisa pergi ke Pantai Bidadari. Eh, tapi mungkin lebih baik lagi aku menghabiskan liburan di rumah saja. Bermain playstation.
Lalu, ketika aku sedang melamunkan betapa enaknya bermain perang-perangan, aku melihat dua orang berbadan jangkung lewat. Salah satu di antara mereka membawa kandang. Angin malam menyibak kelambu kandang itu. Aku terkejut melihatnya. Ada bayi komodo di sana. Bukankah bayi komodo dilarang ditangkap?
Aku menggoyang-goyangkan badan Reo, menyuruhnya untuk bangun.
“Apa, sih?” tanyanya dengan mata setengah terbuka.
“Komodo dilarang diambil, kan?”
“Iya, tidak boleh. Nanti dapat hukuman.”
“Tapi aku melihat orang di depan rumahmu mengambil komodo?”
Reo membelalak, “Paman Namlea? Ah, tidak mungkin. Paman Namlea bekerja sebagai penjaga Taman Nasional Komodo, tahu?”
“Aku gak tahu. Tapi kenapa Pamanmu itu membawa pulang bayi komodo, tahu?”
“Aku juga tidak tahu. Tapi dia bukan pamanku. Dia tetangga, yang aku panggil paman.”
“Ah… tahu, ah, pokoknya aku harus menyelamatkan bayi komodo itu. Komodo adalah hewan purbakala. Tidak boleh diperjualbelikan.”
Aku keluar kamar. Reo mengikutiku dari belakang. Kami mengendap-endap ke luar rumah, memanjat pagar Paman Namlea dan menuju ke kamar yang lampunya hidup. Aku dan Reo berjongkok di bawah jendela kamar yang terbuka. Kami mulai mendengarkan.
“Kira-kira ini harganya berapa?”
“Emm… mahal pastinya.”
“Ah, benarkan apa kataku? Mereka mau menyelundupkan bayi komodo. Tolong! Bayi komodo mau dijual!” Aku berteriak.
Selagi Paman Namlea dan seorang temannya keluar dari rumahnya, aku berlari ke rumah Reo, meninggalkan Reo yang berdiri di samping jendela. Sepertinya Reo sangat terkejut mendengar teriakanku yang tiba-tiba itu.
“Ayah! Ibu! Tante! Om!”
Semua orang terbangun.
“Ada apa, Bagas?”
“Paman Namlea mau menjual bayi komodo ke luar negeri! Cepat, kita harus melaporkannya! Kita juga harus menolong Reo!”
Tapi belum sempat kami keluar, Paman Namlea, Reo, dan seorang lelaki lainnya masuk.
Paman Namlea berkata, “Ini kesalahpahaman, bayi komodo yang kami bawa adalah bayi komodo yang sakit. Dokter,” tunjuk Paman Namlea kepada temannya, “akan merawat bayi itu di kliniknya, sekaligus dokter ini akan melakukan penelitian kepada si bayi komodo.”
Ternyata, setelah di cek kebenarannya oleh ayah Reo, apa yang dikatakan Paman Namlea benar. Akulah yang salah paham. Aku menunduk malu.
Paman Namlea menghampiriku. Dia berucap, “Lain kali jangan ambil kesimpulan dulu, ya Bagas. Tapi terima kasih karena kamu sudah mau peduli dengan keselamatan komodo. Bagaimana kalau besok Paman ajak kamu ke Taman Nasional Komodo?”
Aku, tentu saja mengangguk. Aku akan ke Taman Nasional Komodo, tapi sebelumnya ke Pantai Bidadari dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top