Nahas betul nasib Sobari sore itu, manakala melintasi ladang Marsalim dia menjumpai dua sosok mayat manusia. Mayat-mayat itu tergeletak tak jauh dari sulur-sulur rumpun semangka dengan posisi tertelungkup dan berdekatan dengan bangkai seekor domba.
Semula Sobari menduga dua sosok mayat tersebut adalah boneka. Namun, dugaannya langsung menguap begitu dia membaliknya. Dua mayat tersebut ternyata mayat Marsalim dan Ladung Gembala.
Temuan itu kontan membuat Sobari lari lintang pukang menuju kampung Lubuk Kisam. Hilang niatnya berburu belut, berganti niat menyebarkan warta maut. Dia berteriak-teriak kepada semua orang, mengabarkan apa yang baru saja dilihatnya.
Kampung Lubuk Kisam menjadi gempar. Peristiwa itu menjadi perbincangan hangat di mana-mana. Kematian Ladung Gembala dan Marsalim meninggalkan banyak tanda tanya.
Desas-desus pun merebak. Orang-orang berkata, Marsalim mencuri domba Ladung Gembala. Perkara itu membuat mereka berkelahi dan sama-sama mati. Namun, tuduhan itu diragukan keabsahannya, tersebab lelaki bujang tua yang hidup sendiri itu mempunyai ladang semangka paling luas di kampung Lubuk Kisam. Rasanya tidak mungkin mencuri seekor domba apabila untuk membeli sepuluh ekor saja bukan sesuatu yang sulit baginya.
Desas-desus yang beranak-pinak itu akhirnya sampai pula ke telinga Hasim, adik lelaki Marsalim. Hasim berupaya membela martabat mendiang kakaknya dan hanya dibalas cibiran belaka.
Semua orang tahu, betapa buruk hubungan adik beradik itu selama ini. Warga kampung Lubuk Kisam sudah paham penyebab buruknya hubungan tali darah Hasim dan Marsalim. Keduanya tak bertegur sapa oleh musabab pembagian hak waris yang tak merata. Sejak Angku Danizar meninggal dunia, Marsalim mewarisi sebagian besar harta benda peninggalan ayahnya, termasuk ladang semangka yang menjadi tempat Marsalim meregang nyawa. Sedangkan Hasim, lantaran dia cuma saudara lain ibu, hanya mendapat sepetak rumah sempit di pinggir kampung Lubuk Kisam.
Orang-orang yakin, lelaki itu sebenarnya senang mendengar berita kematian Marsalim, terlihat pada tamsil di wajahnya ketika kuburan Marsalim selesai diuruk. Alih-alih kesedihan, pada wajah lelaki bertubuh jangkung itu justru menyemburat senyum kegembiraan. Senyum culas itu menghapus niat orang-orang mengucapkan rasa bela sungkawa.
***
Sepekan sebelum peristiwa menggemparkan itu terjadi, Hasim mendatangi pondok Marsalim. Dia datang meminta bantuan, karena sudah satu pekan pabrik kerupuk Mamak Sapardin yang menjadi tempatnya bekerja selama ini jatuh bangkrut dan membuatnya terpaksa menjadi pengangguran.
“Abang ’kan tahu, aku ini punya anak-bini. Tak mungkin bisa membiayai hidup mereka kalau aku menganggur seperti ini,” ucapnya setengah mengiba. “Belum lagi Samsul dan Rahmi, sekolah mereka masih butuh banyak biaya.”
“Maaf, aku tak bisa membantumu,” kilah Marsalim. “Kalau cuma beras segantang, akan kuberikan kepadamu. Ini terakhir aku menolongmu. Selepas ini, jangan pernah datang lagi menemuiku.”
Maka dengan segelimang gamang yang tak ditampakkan, mengendaplah dendam di dada Hasim. Mula-mula, hanya sebesar biji semangka, namun dipupuk rasa kecewa yang tak tertanggungkan, dendam itu lama kelamaan membesar juga. Seiring banyak kesulitan yang membelit hidupnya, makin besar pula kemarahannya.
Sepekan lepas pertemuan itu, Hasim bermaksud mendatangi Marsalim sekali lagi, meminta pinjaman uang untuk melunasi seragam Rahmi. Anak sulungnya itu sudah tiga hari tak masuk sekolah, lantaran malu terus ditagih kepala sekolah. Namun niat itu memudar manakala dia melihat kerumunan domba Ladung Gembala.
Niatnya semula adalah mencuri seekor domba dan menjual dagingnya ke kota. Namun entah setan apa yang menyurup ke pikirannya, hingga siasat keji itu pun muncul di kepalanya.
Dia berulang kali melihat ke ladang semangka Marsalim dari kejauhan. Di kepalanya muncul beragam siasat dan rencana. Ilham jahat itu kemudian berdenyar manakala terdengar embik lirih domba Ladung Gembala.
Hasim melihat binatang gemuk berbulu putih itu sedang merumput dengan leher terikat tali. Sementara itu, Ladung Gembala tertidur pulas di bawah pohon ketapang tua yang tumbuh di lereng Bukit Sembayung. Lelaki penyendiri itu memang saban sore menggembalakan domba-dombanya di padang rumput itu sambil mengawasinya dari kejauhan. Tak ada satu pun warga kampung Lubuk Kisam yang tak tahu kebiasaan itu, termasuk Hasim.
Bolak-balik Hasim memikirkan rencananya. Sesekali dia merasa ragu, hati kecilnya mencegah niat itu terlaksana. Namun suara lain di kepalanya terus-menerus mendorongnya.
Hasim merasa bimbang. Dia tak mungkin melakukannya sendiri. Dia tak mungkin meninggalkan Ineh mengasuh tiga anaknya seorang diri, sementara dirinya membusuk di balik penjara. Namun setelah pungkas sigaret sebatang, keputusan itu pun diambilnya.
***
Domba betina itu awalnya terikat pada sebatang pohon randu yang tumbuh di tengah-tengah padang rumput, sementara angin sejuk dari arah Bukit Sembayung membuat Ladung Gembala tertidur. Dia baru terjaga saat seekor elang menguik keras di dahan ketapang yang melindapinya bagai memberi firasat yang tak baik.
Mendapati dombanya hilang dengan cara yang ganjil. Ladung Gembala menjadi panik. Dia mengitari hampir seluruh tempat dengan membekal sebilah arit dan hati yang mantap; domba itu telah dicuri. Pencarian baru berhenti diladang semangka milik Marsalim. Di sanalah dia mendapati domba betina itu tergeletak mati.
Gemeretak geraham Ladung Gembala, prasangka buruk meriap di kepalanya. Lelaki yang telah kadung muntab itu berteriak-teriak, meminta Marsalim keluar dari pondoknya. Tak begitu lama, lelaki itu pun keluar. Sebilah parang ditangannya. Parang yang terlihat tajam dan bilahnya dipenuhi noda merah seperti darah. Noda merah itu membuat Ladung Gembala yakin, Marsalim-lah pelakunya.
“Aku sudah menunggumu,” tegur Marsalim dingin
“Memang aku yang menyembelihnya. Dombamu itu sudah merusak putik-putik semsemangkaku dan merusak pula harapanku.”
Jawaban Marsalim membuat merah muka Ladung Gembala. Satu jam sebelumnya, domba betina gemuk itu memang telah merusak ladang semangka milik Marsalim, membuat lelaki yang terkenal paling pemberang di kampung Lubuk Kisam itu naik darah dan menyembelihnya. Namun bagaimanapun, membunuh domba itu suatu balasan yang keterlaluan, pikir Ladung Gembala.
“Tega betul kau, Marsalim,” sesalnya dengan mata menyala.
“Domba yang kaubunuh itu memiliki tiga anak yang masih menyusu. Andaikata kau tak membunuhnya, aku akan mengganti kerugianmu. Semuanya.”
“Domba ini sudah mati.” Mar-salim mendengus, sebelah kakinya menginjak bangkai domba Ladung Gembala. “Kita impas. Kalau kau tak suka, kita selesaikan saja dengan cara orang lama.”
“Domba itu tidak bersalah,” sergah Ladung Gembala.
“Kaulihat, di lehernya masih ada tali. Itu tandanya dombaku ini selalu kuikat dan tak kubiarkan sembarangan mencari makan. Kalau dia masuk ke ladangmu, cuma ada dua kemungkinannya, domba ini ada yang melepaskannya atau memang kau yang mencurinya.”
“Lancung betul mulutmu,” gertak Marsalim sambil melambaikan parangnya ke muka Ladung Gembala. “Seharusnya kauminta maaf padaku, sebab semua ini kesalahanmu. Meskipun seluruh dombamu itu kauberikan padaku sebagai gantinya, tak akan bisa mengembalikan putik-putik semangka itu seperti semula.”
“Bukan aku yang harus mengganti kerugianmu. Tapi kau sendiri yang harus mengganti domba itu. Bila perlu dengan nyawamu.”
“Ambil sendiri kalau kau mampu!”
Bala itu bermula dari jawaban Marsalim yang semena-mena, membakar habis kesabaran Ladung Gembala. Kemudian dengan penuh dendam, Ladung Gembala mengayunkan sabit di tangannya. Gerakan itu lekas ditangkis oleh Marsalim. Langit sore yang terang menjadi saksi. Kematian adalah hal yang mustahil dihindari. Sabit dan parang melayang-layang, diiringi tatapan girang Hasim di kejauhan.
Telah diperincikannya matang-matang bahwa Marsalim pasti akan membunuh domba Ladung Gembala. Hasim tahu betul, lelaki bujang tua yang kikir itu tak akan diam jika ladangnya rusak. Dia pasti akan bertikai dengan Ladung Gembala. Pertikaian itu akan mengantarnya pada dua perkara: masuk penjara atau mati terbunuh oleh Ladung Gembala. Dua-duanya memberi untung bagi Hasim, sebab dengan cara itulah dia melunasi dendam-dendamnya dan mengambil alih ladang semangka itu untuk menjamin hidup anak dan bininya. (*)

Adam Yudhistira

Bermukim di Muara Enim, Sumatra Selatan.
Buku kumpulan cerpennya ”Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon”
(basabasi, 2017).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top