Prahara Diujung Renjana

Masih pagi buta. Tersebab hal receh, seketika menjurus pada petaka. Amarah One tertumpah hingga memecah keheningan. Seisi rumah terkena sabetan kemarahannya. Hingga Onang, anak semata wayangnya yang masih balita, tak berani mendekat. Onang yang baru saja turun dari ranjang memilih bersembunyi di balik pintu kamar. Kemarahan One terus berlanjut hingga seharian. Suhu rumah naik tajam bak bara api.
“Kok bisa-bisanya hilang! Jelas-jelas di meja. Siapa yang mengambil?!”
Praaaang! Stoples dilemparnya. Benda-benda yang ada di dekatnya menjadi sasaran amukan One. Tak hanya sekali One mengamuk seperti ini. Hal itu akan terjadi jika hatinya lagi kalut. Kekalutan yang susah dimengerti. Meski hanya sebuah masalah kecil, pada akhirnya akan menjadi malapetaka besar.
Pernah suatu ketika One mengamuk sejadi-jadinya karena tak sengaja Onang menumpahkan makanan di baju One. Tumpahan itu hasil dari rengekan Onang yang meminta untuk disuapi One. Tapi, One tak kunjung menuruti kemauan putranya. Akhirnya malah mendatangkan sebuah amarah bagi One. Onang harus merasakan sumpah serapah yang begitu memekakkan telinga. Ia hanya bisa menangis pilu, tak bisa memahami apa yang sedang teterjterjadi.adi.
Malamnya, Onang harus rela tidur di luar kamar karena dikunci oleh One. Sedangkan cuaca dingin tengah melanda desa. Esoknya Onang harus merasakan demam yang membuat tubuhnya menggigil kedinginan. One hanya bisa menatap pilu. Entah ada rasa sesal atau tidak, One juga tak tega melihat anaknya lemas tak berdaya. One merawat Onang selayaknya nurani seorang ibu.
Bahkan, ketika saudaranya ada yang menginap di waktu One dirundung amarah, nasihat pun terelakkan. One dibuat tuli. Seakan amukan One tiada yang sanggup melawannya. Selayaknya manusia yang kesetanan. Apa sebenarnya yang ada dalam diri One? Ia mudah sekali marah, berapi-api, seakan siap membakar di sekitarnya. Rumah seakan bagai tempat sumpah serapahnya meraja yang seharusnya bisa menjadi pelipur lelah.
Padahal ketika One berada di luar rumah, ia begitu manis. Para tetangga menyebutnya wanita berhati emas. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan akan dibantunya. Bahkan, ketika ada orang lain yang membutuhkan bahan makanan, ia tak segan berbagi atau memberi pinjaman uang. Tapi kenapa, ketika ia telah masuk ke rumahnya sendiri, hidup bersama Onang, suasana jadi berbeda. Begitu mencengkeram. Hawa panas berpendar. Amukan One pun masih berlanjut. “Siapa yang seharian berseliweran di sini? Kaukah yang ngambil uang mamak, Nang?” Tuduhan pun tertuju pada anak yang masih polos itu.
Onang terdiam. Sepertinya ia tak memedulikan tuduhan One yang ditujukan padanya. Ia hanya memainkan gagang pintu tempat persembunyiannya dengan menunduk takut-takut. Takut sumpah serapah kembali memekakkan telinga. Benar saja, amukan One semakin menjadi. Semua otot wajah tertarik menyeringai dengan tatapan tajam.
“Ya, kan … pasti kau, Nang, yang mengambil. Siapa lagi? Karena kau suka memasukkan uang ke celenganmu, kan!” Bentaknya.
“Jika kau tak mau mengaku. Tak usah cari-cari mamak jika kau butuh sesuatu. Pergi kau!”
Braaak! One membanting pintu kamar sekuat-kuatnya. Hingga dinding terasa ikut bergetar. Bahkan, Onang sampai terkesiap melonjak kaget. Ketakutannya semakin menjadi. Ia sempat terdiam sejenak. Kemudian tangisan Onang pun tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya memanggil One. “Mamak … Mamaaaak ….” sembari menggedor-gedor pintu kamar.
Tiada jawaban. Hal itulah yang membuat Onang semakin menangis tiada henti. One tetap pada pilihannya dengan tak menghiraukan anaknya. Ia begitu tega menutup telinga akan tangisan anaknya. Akhirnya dengan sendirinya, Onang terdiam sesenggukan. Terlihat kelelahan akibat terus-menerus menangis. Ia duduk tersungkur bersandarkan luar pintu kamar yang terkunci. Sembari kedua tangan mungilnya memegang gagang pintu luar kamar. Matanya perlahan terpejam. Onang terlelap lesu.
Malam pun menyambut hening. One begitu betah di dalam kamar tanpa suara. Entah apa yang sedang One lakukan di kamarnya, hingga tiada hati untuk keluar. Sedangkan Onang masih tetap di tempat yang sama. Ia terlelap bersandarkan pada pintu luar kamarnya hingga pagi menjelang.
***
Suara kokok ayam jantan membangunkan One. One seakan melupakan kejadian semalam. Ia bergegas keluar kamar. Bagaimanapun ia harus beraktivitas seperti biasanya. Menjadi seorang ibu bagi Onang dan guru PAUD di desanya.
“Aaaaaaaa … Tidaaaak!” Tiba-tiba One menjerit sejadi-jadinya ketika membuka pintu kamar. Teriakannya berubah jadi tangis yang menggelegar. “Onaaaaaaang! ….” Tubuh Onang layu dengan hidung mimisan yang sudah kering. Wajah Onang begitu pucat. Tubuhnya pun begitu dingin. One meraba-raba detak jantung dan saluran napas Onang. Tapi, Onang sudah tak bernyawa. Onang telah pergi seperti apa yang diinginkan One dalam ucapannya semalam dalam amarahnya. Pergi untuk selamanya.
***
Setelah pemakaman anaknya, One seakan tak memiliki daya. Ia terus menengadah ke langit dengan tatapan kosong di teras rumah. Mulutnya berkomat-kamit lirih. Entah apa yang sedang diucapkannya. Kedua matanya tampak sendu dan berkaca-kaca. Tampak penyesalan yang begitu menyiksa dirinya.
Kesedihan One terus berlanjut hingga berhari-hari. Hampir sepekan ia terus menengadah ke langit dengan tatapan kosong di teras rumah. Siapa yang tak iba melihat One seperti mayat hidup. Jika bukan karena tetangganya yang peduli, mungkin One sudah ikut menyusul kepergian Onang.
Semakin hari tubuh One semakin layu dengan wajah pucat kurus kering. Ia tak akan makan jika tak ada yang mengingatkan. Setiap hari para tetangga berusaha untuk menyemangati. “Yang sabar, One. Anak adalah titipan. Gusti Allah bebas mau ngambil kapan aja. Ambil hikmahnya. Yang sabar ya,” ucap Mak Wani, tetangga sebelah kiri rumahnya. Bagaimanapun di mata tetangga, One adalah wanita baik. Tapi, One tetap dengan dunianya sendiri. Dunia dengan tatapan kosong. Ia seakan mengunci diri dari siapa pun. Hingga akhirnya datang sang pelipur lara.
“Maafkan aku, Sayang,” kata seorang lelaki yang menghampiri One sembari memeluknya dari belakang.
One terdiam. Tiada gubrisan yang terlihat dari sikap One. Tatapan One masih kosong tak peduli.
“Maafkan aku. Pasti kau begitu berat hidup merawat buah hati kita seorang diri. Sedangkan aku begitu egois menggebu mencari nafkah lahir tanpa memikirkan batinmu. Aku terlalu lama di perantauan,” lelaki itu tak menyerah untuk mendekati One agar mau menerimanya.
Mendadak air mata One menetes perlahan. Terlihat tatapan matanya menerawang memikirkan sesuatu. Air matanya mulai berlinang dan akhirnya tangisnya tumpah juga. Lelaki itu membalikkan badan One.
“Jahat kau, Kang. Jahat!” One memberontak, memukul-mukul dada lelaki itu. Lelaki itu memeluknya erat. One tetap masih berontak. Tak ingin menyerah, pelukan semakin erat hingga One terjatuh juga dalam dekapan lelaki itu.
Malam pun semakin mencengkeram seakan sedang menyampaikan sajak dalam kesunyian. Jika renjana menghampiri Tertumpahlah lara tiada terobati Hingga akhirnya menyemai murka Tinggalkan sesal selamanya.
***

Dua tahun berlalu.
“Ini bekal kerjanya, Kang.” One memberikan bekal makan siang pada Senot sembari mencium telapak tangannya. Lelaki yang pernah meninggalkannya setelah kelahiran Onang, anak pertama mereka. Kepergian selama lima tahun lamanya di luar negeri hanya untuk mengais nafkah.
“Iya, Sayang,” balas Senot sembari mencium kening One. Sebenarnya One tak menginginkan Senot meninggalkannya sejauh dan selama itu. Meski nafkah yang dikirimkan sangatlah lebih dari cukup. Bukan harta berlimpah yang diinginkan One, tapi tumbuh bersama dalam sebuah keluarga utuh. One begitu cemburu setiap kali melihat para tetangga bisa tertawa ria di rumah mereka meski hidup dalam kesederhanaan.
“Nang, jangan rewel, ya. Temani Mamak di rumah, ya, Sayang. Bapak berangkat kerja dulu.” Senot beralih mencium kening bayi mungilnya yang sedari tadi berada dalam gendongan One. Kemudian Senot pergi berlalu. Pergi ke desa seberang sebagai tempat kerjanya yang baru.
Setelah kepergian Onang dan sekembalinya Senot, One seakan menemukan gairah baru dalam hidup. Terlebih kemudian, Tuhan memberikan kesempatan kedua baginya, menjadi seorang ibu. Lahirlah Onang kecil sebagai pengganti Onang yang telah tiada. Senot pun memilih untuk tak kembali ke pekerjaan lamanya, menjadi seorang TKI. Meskipun hasil yang didapat lebih dari cukup.
One terus saja menatap Senot dalam kepergiannya dengan senyum simpul yang terlukis. Kemudian tatapannya menengadah ke langit, ‘kekasihku telah kembali’.
One melangkah masuk ke dapur. Beberapa saat kemudian terdengar Senot kembali.
“Loh, Kang, kok balik? Enggak jadi kerja?”
Senot terdiam sejenak. Wajahnya berkeringat.
“Maaf, istriku. Aku ingin mengajakmu dan Onang kecil pergi jalan-jalan ke pantai saja. Khusus hari ini aku tidak pergi ke tambang pasir. Aku ingin menebus segala salahku di masa lalu.”
One terheran menatap gelagat suaminya. Rasa haru disimpan dalam hati. Renjana yang tak terobati dan sempat membawa prahara, kini telah pulih menebar wangi. (*)

Zhyla Ismi, mahasiswi Universitas Negeri Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top