BAJU DOBEL

Lady Cempluk kali ini kangen kepada sanak saudaranya yang tinggal nan jauh di Pulau Sejuta Air, di pulau Kalimantan bagian Selatan. Untuk menuju kota itu tak ada jalan darat yang bisa diewati, hanya ada dua pilihan, lewat udara atau lewat laut. Karena harga tiket melambung, Lady Cempluk bersusah payah menabung demi bisa pulang kampung.
Akhirnya seizin suaminya, Cempluk terbang dari Solo ke Kalimantan.
Waktu penerbangan yang dinanti pun tiba. Lady Cempluk membawa lima tentengan berupa satu koper, satu kotak kardus berisi oleh-oleh, satu tas ransel, tas kecil tempat HP dan dompet. Jon Koplo, suaminya, mengantar Lady Cempluk ke Bandara Adi Sumarmo.
Mengingat barang bawaannya cukup banyak, Cempluk mencari troli untuk menuju tempat check-in. Di depan meja check-in, petugas Tom Gembus meminta identitas diri berupa KTP dan tiket elektronik di HP Lady Cempluk.
Kemudian Tom Gembus menimbang barang-barang Cempluk. Ternyata barang bawaan itu melebihi batas maksimal masuk bagasi yang hanya 15 kg. Padahal barang bawaan Lady Cempluk seberat 22 kg. Ada kelebihan bagasi sekitar 7,5 kg.
“Bu Lady Cempluk, mohon maaf, Anda harus membayar kelebihan bagasi seberat 7,5 kg terlebih dahulu. 1 kg seharga 120.000,” kata Gembus.
Cempluk terperanjat, kaget bukan kepalang. Dia tak bisa menerima hal itu, tidak mau bayar kelebihan bagasi tersebut.
Dengan terpaksa Cempluk menunda check-in walaupun sudah antre panjang. Dia mencari akal supaya tidak bayar kelebihan bagasi. Dengan rasa malu yang disembunyikan, Lady Cempluk akhirnya membuka koper dan membongkar isinya. Dia pakai beberapa pakaian bertumpuk-tumpuk di badannya sehingga badannya yang sudah gendut itu makin keliatan tambah melebar dan bundar.
Banyak mata penumpang lain memandang dan tersenyum melihat akal-akalan Cempluk ini. Ada yang mengacungkan jempol karena bisa mengelabui petugas saat Cempluk check-in lagi.
Di depan Tom Gembus, barang-barang itu ditimbang lagi. Beratnya hanya 15 sehingga tak perlu ada pembayaran kelebihan bagasi. Tom Gembus tidak memperhatikan perubahan badan Cempluk. Penumpang lain seperti sepakat tutup mulut tentang hal itu. Mereka justru membantu Cempluk lolos sampai naik pesawat.
Pengirim : Hidayati
SMPN 1 Mojogedang, Karanganyar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top