NILAI ANJLOK

Genduk Nicole adalah anak pintar di kampungnya. Saking pintarnya, tidak pernah nilai rapornya di bawah angka 8. Nicole akhirnya melanjutkan kuliah di universitas di Solo.
Satu semester berlalu. Sudah menjadi tradisi universitas tersebut setiap mahasiswa baru harus membawa orang tua untuk konseling saat pengambilan kartu hasil studi (KHS).
Genduk Nicole mengajak Jon Koplo, ayahnya dari kampung dan Tom Gembus, pamannya. Mahasiswa berserta orang tua bergiliran dipanggil namanya satu per satu. Tibalah nama Genduk Nicole dipanggil menemui Lady Cempluk, dosen pembimbing Genduk Nicole.
Dengan pede, Jon Koplo masuk ke ruang dosen, memandang segala penjuru ruang dan memberi senyuman kepada setiap dosen.
“Genduk Nicole ini anak yang cerdas ya. Belajar lebih giat lagi,” ujar Lady Cempluk sambil menyodorkan KHS kepada Jon Koplo.
Jon Koplo menatap seksama nilai di KHS, membolak balik kertas yang hanya selembar itu. “Ini nilai anakku, Bu?” tanya Koplo heran. “Iya, ini nilai satu semester genduk Nicole, Pak.”
“Bagaimana ini. Jauh-jauh aku kuliahkan masak mendapat nilai 4. Kamu SMA dulu mendapat nilai 8 atau 9 semua. Sudahlah, SMA lagi saja nduk.” Ucap Jon Koplo kecewa sambil memegang kening.
“Aduh, aku menemani bapakmu ke kota, kok nilaimu jelek sekali, malu aku,” ujar Tom Gembus menambahi.
Genduk Nicole hanya menangis merasa bersalah.
“Sudah.. sudah..! Tenang, ya! Dengar dulu! Nilai atau IP kuliah maksimal 4,00, Pak. Genduk Nicole mendapat nilai tertinggi di kelas,” ucap Lady Cempluk dengan nada agak meninggi.
Jon Koplo memandangi sekelilingnya nyengir. “Owalah, Gusti.. Gusti…”. ujar Koplo.
Dosen lain di ruangan hanya tertawa melihat tingkah keluarga Jon Koplo.
Pengirim : Ezza Tania
Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top