Njagong dadakan

Jon Koplo, seorang penjual jam di daerah Karanganyar siang itu mengajak keponakannya, Tom Gembus, mengambil barang dagangan di kawasan Klaten. Mereka berdua berdandan necis biar kelihatan oke di depan sang juragan. 
Koplo sengaja memilih jalan lewat Colomadu supaya tidak terlalu ramai.

Sampai di daerah Kartasura tampak ada beberapa polisi mengadang dan memberi tanda supaya berbelok. ”Pasti ada pemeriksaan surat kendaraan,” batin Koplo sambil menepikan motor di samping sebuah gedung pertemuan, kebetulan di situ banyak motor yang parkir.

”Banyak yang kena Tilang ini,” batin Koplo, ”Bentar ya Le, ada mokmen” kata Koplo kepada Gembus.

”Ya Pakde,” jawab Gembus sambil turun dari motor.

”Maaf Pak, langsung saja masuk lewat gerbang depan. Motornya parkir di sini saja,” kata seorang polisi yang menghampirinya. Eee… ndilalah Koplo kok ya monat-manut saja. Koplo lalu nggandheng Gembus menuju pintu gerbang yang dimaksud Pak Polisi.

Tapi mak jegagik, Koplo kaget waktu sampai di depan gerbang. ”Kok kaya nggon nganten ya? Pak Polisi tadi piye ta, lha mokmen-nya di mana?” Koplo ora mudheng karo ndesani banget. Pas lagi thingak-thinguk, tiba-tiba ada bapak-bapak berbaju batik nyamperin Koplo dengan gaya SKSD alis sok kenal sok dekat.

”Wah, mari Pak, langsung masuk saja, acaranya sudah dimulai,” kata si Bapak tadi.

Jon Koplo mulai paham. Rupanya di situ ada polisi dadi nganten. Dalam hati ia ngakak sendiri. Pasti ia dikira tamu. Kebetulan jam sudah menunjukkan makan siang, maka dengan semangat Koplo langsung nggandheng Gembus masuk ke dalam.

”Njagong bentar Le… kancane Pakdhe dadi nganten,” bisik Koplo sambil berjalan menuju pintu gerbang diikuti bapak tak dikenal berbaju batik tadi.

”Katanya ada mokmen Pakdhe?” tanya Gembus.

”Sss…ttt!”  

– Kiriman Yunita Dinarlia SP, Tirtomarto RT 03/RW 01, Dukuh, Banyudono, Boyolali.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top