Panitia kok nyeker…

Jon Koplo, ”pendekar kampung” sebuah desa di Sukoharjo ini selalu berperan aktif demi kemajuan desanya. Setiap ada hajatan, pasti namanya tercatat sebagai panitia. Demikian pula saat pemilihan kepala desa (Pilkades) 9 Desember 2006 lalu. 
Jumat malam (8/12) semua panitia Pilkades berencana mengunjungi keempat calon Kades di rumahnya masing-masing. Selain untuk bersilaturahmi, mereka juga ingin memberikan dukungan agar semua calon bisa mewujudkan Pilkades yang aman dan damai.

”Kesempatan, Plo, bisa ikut silaturahmi ke semua calon kepala desa,” kata Tom Gembus, sahabatnya yang kebetulan juga jadi panitia.

”Benar, Mbus. Yang jelas acaranya bakal Romantis alias entuk rokok dan mangan gratis,” sahut Koplo.

Malam itu berangkatlah semua panitia menuju ke rumah Lady Cempluk, calon Kades yang pertama. Sampai di sana ternyata sudah banyak orang, entah saudara, kerabat atau kader pendukung calon tersebut. Kedatangan mereka disambut dengan penuh antusias. Setelah bersalam-salaman dengan among tamu, mereka duduk lesehan di tikar yang sudah digelar.

Acara pun berlangsung santai dan gayeng. Tak lupa pula aneka hidangan pun tersaji mbanyu mili.

Setelah acara selesai, mereka pamit untuk melanjutkan silaturahmi ke rumah calon Kades berikutnya. Semua panitia bergegas meninggalkan rumah Bu Cempluk, kecuali Jon Koplo yang masih clingak-clinguk mencari sesuatu.

”Ada apa, Plo?” tanya Tom Gembus.

”Sandhalku ilang, Mbus,” jawab Jon Koplo.

Mendengar jawabannya kontan saja Gembus ngguyu kekel. Seorang panitia lainnya kaget mendengar Gembus tertawa.

”Ada apa ta, Mbus, kok malah ngguya-ngguyu?” tanyanya.

”Ini lho, Jon Koplo. Masak panitia kelangan sandhal.”

Kontan saja semua orang yang mendengar jawaban Gembus ikut-ikutan tertawa. Dijadikan bahan tertawaan seperti itu, Jon Koplo mundur isin dan mohon pamit pulang ke rumah dengan kaki telanjang alias nyeker.

Tidak hanya sampai di situ, setelah mengambil sandal yang baru, Jon Koplo segera menyusul panitia yang sudah sampai di rumah calon Kades ketiga.

Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah Jon Koplo. Sesampainya di sana, tiba-tiba ada seorang tetangganya nyeletuk, ”Sandhale ditaleni wae Mas, ben ora ilang,” yang disusul dengan tawa riuh orang-orang di situ. Jon Koplo hanya bisa cengar-cengir sambil menahan malu. Rupanya Tom Gembus sudah menceritakan insiden itu kepada para tetangganya.

 – Kiriman Iwan Setiyoko, Temulus RT 01/RW 02, Pondok, Grogol, Sukoharjo 57552.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top