Woalah… jebule tabrakan ta

Nama Jon Koplo sudah begitu dikenal masyarakat yang tinggal di salah satu desa yang kini sedang usrek gara-gara Pemilihan Kepala Desa alias Pilkada. Pasalnya, di desa itu Jon Koplo yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan pak dokter (biar pun dia bukan jebolan dari sarjana kedokteran) kini memang baru naik daun berkat usaha pengobatan alternatifnya.
Dengan modal sedikit wes-ewes dan ”PD” alias pengen duit yang begitu besar, dokter Koplo pun berusaha untuk selalu mengembangkan sayap, membesarkan usahanya. Kian hari pasien dokter Koplo pun kian bertambah. Antrean paling banyak terutama pada malam hari. Sayangnya, meski pun usahanya sudah terkenal, namun tempat usaha Jon Koplo masih peteng ndhedhet. Hingga suatu malam diprotes salah satu pasiennya. ”Pak Koplo, mbok ya latare niki dipasangi lampu merkuri gitu biar tidak seperti warung remang-remang,” keluh pasiennya kurang nyaman dengan kondisi tersebut.

”O gampang, kalau cuma lampu merkuri saja besok saya belikan dan langsung dipasang biar terang benderang,” jawab Koplo dengan semangat karena tidak ingin mengecewakan pelanggannya.

Secara kebetulan malam itu Jon Koplo bertemu Tom Gembus tetangganya. ”Mas Tom Gembus, besok ada acara apa tidak?” tanya dokter Koplo.

”O…tentu saja ada, Pak, saya kan sudah kerja di Solo,” jawab Gembus sambil pethitha-pethithi nuntun motore, simbahe tiger alias motor plethuk.

”Begini, Mas Gembus, misalnya besok saya titip dibelikan lampu merkuri lengkap sekalian dipasangkan, Sampeyan kabotan apa ora?” pinta Jon Koplo.

Karena dasar Tom Gembus itu uteke utek bakul, sing pikirane isa mbathi thok-thokan, tentu saja Tom Gembus pun mengiyakan permintaan Jon Koplo itu. ”Wah…ya ndak masyalah, Pak. Besok malam pasti sudah nyala!” jawabnya penuh semangat.

”Ini ada uang empat ratus ribu rupiah, nanti kalau kurang minta lagi, dan ini lima puluh ribu rupiah untuk beli bensin,” kata dokter Koplo.

”Terima kasih, besok kalau ada pekerjaan cari saya lagi Pak,” jawab Gembus. Karena mendapat rezeki nomplok tanpa perlu usaha banyak, Tom Gembus pun rela bolos kerja untuk memenuhi permintaan Jon Koplo. Dasar jiwa bakul, Tom Gembus pun mencari cara termudah dan termurah. Maka, bukannya dia ke Kantor PLN terdekat untuk mengurus lampu merkuri itu, dia malah nggantol ke dak listrik rumah biar pun tanpa izin ke PLN.

”Ah…wis dadi! Asik ki, padang tur ngirit tanpa pajek,” batin Gembus yang telah berhasil dengan gemilang memasang lampu merkuri sambil mengagumi hasil karyanya. Setelah itu, dia pun lapor ke Jon Koplo bahwa pekerjaannya telah beres.

Namun betapa terkejutnya Tom Gembus, beberapa saat sepulang dari rumah Jon Koplo, melihat mobil PLN yang melaju cepat dan tiba-tiba mak jegagik mandeg di depan rumah Jon Koplo. Melihat itu, makin deg-degan-lah hati Gembus.

”Waduh…cilaka tenan iki! Gek-gek konangan PLN,” gumam Tom Gembus sambil mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah Jon Koplo.

”Pak…Pak Koplo niki pripun, konangan PLN lha niko montore wonten ngajengan,” kata Gembus masih dengan ngos-ngosan.

”Wheladah, iya tenan ki. Terus enaknya gimana ya?” tanya Jon Koplo yang tak kalah paniknya. ”Wis, ngene bae, kae pegawene PLN disogok bae. Pasti lak beres,” lanjut dokter Koplo mengungkapkan satu-satunya ide yang terlintas di benaknya.

Tom Gembus yang tidak punya ide lain, hanya manthuk-manthuk. ”Setuju. Pokoknya kita damai saja, Pak,” angguk Gembus.

Saat keduanya masih bingung mikir, tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah luar rumah. Mereka melihat petugas PLN ngotong-ngotong pasien yang semaput dan bersimbah darah. ”Pak…Pak…tulung niki,” kata salah satu petugas PLN kepada Jon Koplo. Sementara Jon Koplo dan Tom Gembus akhirnya menarik napas lega.

”Wheladah, jebule tabrakan ta, Mbus. Tiwas aku sing mikir tenanan,” seru dokter Koplo sambil tertawa dan bergegas menolong pasiennya.

Tom Gembus yang sama-sama leganya, ikut ngguyu kepingkel-pingkel. Sedangkan petugas PLN hanya mlongo bin ndlongop ora mudheng blas sambil mengeluh, ”Tabrakan kok diguyu.  

– Kiriman Much Alwan d/a Turus Karangpelem, Kedawung, Sragen.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top