Mumet mikir bayarane…

Umume wong lara yen berobat ke dokter, tentunya akan lekas sembuh. Namun kalau ada pasien yang sudah diobati dokter malah tambah mumet…sing salah dokternya apa pasiennya?
Ceritanya, teman kita yang satu ini, Jon Koplo kena sakit demam yang tinggi disertai mumet sirahe.
Karena sakitnya agak lumayan gawat, maka Lady Cempluk, isteri Jon Koplo, yang merasa khawatir membawa suaminya itu ke salah satu rumah sakit di Solo.

”Pak, ayo, tak terke nang rumah sakit. Mengko ndak larane tambah parah, malah kapiran kabeh,” kata Lady Cempluk sambil memasukan pakaian Jon Koplo ke dalam tas.

”Oalah Bu, Bu…nang rumah sakit kan biayanya mahal. Lha gek duite iku seka ngendi?” jawab Jon Koplo.

”Ora usah mikir biayane, sing penting kan awake sehat. Perkara biaya mengko dipikir nang mburi,” kata Lady Cempluk meyakinkan Jon Koplo.

Akhirnya berangkatlah Jon Koplo ke rumah sakit. Setelah diperiksa Pak Dokter di rumah sakit, ternyata Jon Koplo disuruh mondok alias opname. Pertimbangan Pak Dokter mungkin lantaran sakitnya Jon Koplo sudah agak kasep jadi butuh perawatan intensif.

Begitu mendengar kata mondok, tambah nggak karuan saja pikiran Jon Koplo. Untung saja ada Lady Cempluk yang selalu menenangkan suaminya.

Untungnya dokter yang menangani Jon Koplo adalah dokter Tom Gembus yang terkenal sebagai dokter yang suka guyon. Jadi Jon Koplo agak merasa sedikit terhibur. ”Apa yang dirasakan, Pak?” tanya Tom Gembus sambil memulai memeriksa Jon Koplo.

”Koplit, Pak, mulai demam, batuk-batuk, plus pusing,” jawab Jon Koplo lemes.

”Wah…Bapak ini, kok kayak pesen sega goreng saja, komplet,” celetuk Tom Gembus mencoba untuk guyon.

”Dokter siji iki malah cengengesan, ora ngrasakke wong lara tenan,” gumam Jon Koplo dalam hati rada mangkel.

Akhirnya Jon Koplo diberi suntikan bius dan obat penenang, supaya cepat tidur dan istirahat. Padahal Jon Koplo wedine ora karuan karo sing jenenge jarum suntik. Tapi dengan sedikit dipaksa, maka disuntiklah Jon Koplo dan langsung tertidur pulas.

Beberapa saat kemudian, Tom Gembus balik lagi ke kamar Koplo untuk mengecek keadaan pasiennya itu. Di situ dia menemui Lady Cempluk yang tengah nunggoni suaminya.

”Bagaimana, Bu, keadaan Bapak?” tanya Tom Gembus pada Lady Cempluk.

”Itu, Dok, dari tadi belum bangun juga,” jawab Lady Cempluk smabil menunjuk suaminya yang masih nglipus.

”O…ya…ya nggak apa-apa, malah bagus,” kata Gembus lagi.

Entah karena kebrebegan jagongane Tom Gembus dan Lady Cempluk atau karena efek obat biusnya sudah habis, terbangunlah Jon Koplo dari istirahatnya setelah beberapa lama. ”Gimana Pak, sudah agak baikan?” tanya Tom Gembus yang melihat Jon Koplo wis melek kethil-kethil.

”Wah…begini, Pak, masih pusing,” jawab Jon Koplo sambil memegangi kepalanya. ”Oh…nggak apa-apa. Itu efek dari bius yang saya berikan. Besok paling juga sudah ilang,” hibur Tom Gembus.

”Perasaan saya kok bukan karena obat bius Pak Dokter. Lha wong saya itu masih pusing karena memikirkan darimana nanti saya membayar biaya rumah sakit ini,” jawab Jon Koplo dengan agak mbesengut.

Mendengar itu, Tom Gembus nggak bisa komentar apa-apa, cuma bisa klecam-klecem sambil memandang Lady Cempluk. Wah…ya kalau itu tidak ada obatnya! Batin Tom Gembus.  

– Kiriman Said Masykuri, Jl Pandanaran 252 c Boyolali.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top