Tumbas surip…

Genduk Nicole adalah seorang ibu rumah tangga yang nyambi dodolan dengan membuka warung kecil-kecilan di rumahnya yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Langkah membuka warung tersebut terpaksa ditempuh warga kampung Donoharjo, Wonogiri itu empat tahun lalu agar asap dapurnya tetap ngepul. Soalnya suaminya yaitu Tom Gembus terkena PHK dan keempat anaknya membutuhkan biaya sekolah.
Di kampungnya sana, warung milik Genduk Nicole terkenal murah. Tak heran jika warungnya laris-manis alias tidak pernah sepi pengunjung. Suatu pagi yang cerah, Genduk Nicole kedatangan seorang pembeli yang bernama Jon Koplo, seorang bocah cilik. Jon Koplo adalah cucu dari Mbah Lady Cempluk tetangganya Genduk Nicole.

”Tumbas…,” kata Jon Koplo dengan logat anak-anaknya yang lucu.

”Tumbas apa, Plo?” tanya Genduk Nicole.

”Tumbas Surip,” Jawab Jon Koplo.

”Beli Surip gimana, ta? Bercanda kamu. Mbah Surip kan rumahnya sana. Mengko tak kandhanke Mbah Surip, lho,” kata Genduk Nicole menahan geli.

”Iya, Bu, aku nggak bercanda. Simbah menyuruhku beli Surip,” balas Koplo dengan tampang super serius.

Sementara itu, Tom Gembus yang duduk tak jauh dari situ, hanya mesam-mesem mendengar percakapan isterinya dengan Jon Koplo. Ia pun nimbrung untuk membantu isterinya memahami apa yang dimaksud oleh Jon Koplo.

”Sik…sik…. Yang kamu maksud surip itu apa, Plo? Nama makanan kecil atau nama apa?” tanya Tom Gembus sabar.

”Eh..eh…aku lupa. Pokoknya Surip, gitu kata Simbah?”

”Gimana ta, Plo. Kok lali? Ya sudah sekarang kamu pulang dulu, tanya sama Mbahmu dulu,” kata Tom Gembus geli campur gemes.

Jon Koplo menuruti nasehat Tom Gembus itu. Dia pun segera mlayu mak nil…nil…nil… pulang ke rumahnya. Tak berapa lama Jon Koplo datang bersama Simbahnya.

”Oalah bocah dikongkon kok lali,” ucap Lady Cempluk sesampai di warung Genduk Nicole.

”Iya Mbah saya sampai bingung, yang dimaksud Surip itu apa ta Mbah?” tanya Genduk Nicole.

”Itu lho, Nduk, Surip sabun cuci,” ucap Mbah Cempluk dengan stil yakin.

Genduk Nicole dan Jon Koplo sama-sama mlongo dan saling berpandangan.

”Welhadalah…setahuku nggak ada sabun cuci yang bermerk Surip,” batin Jon Gembus.

”Nyuwun ngapunten, Mbah. Di sini nggak ada sabun cuci yang namanya Surip,” kata Genduk Nicole.

”Ah masak…kemarin aku juga juga beli Surip di sini, kok,” kata Mbah Cempluk sambil ngilang-ngilingi etalase. Sampai suatu saat pandangan Mbah Cempluk tertuju pada barang yang dimaksudkannya.

”Lha itu ada…,” ujar Mbah Cempluk seraya menunjuk salah satu merk deterjen bubuk.

Genduk Nicole dan Tom Gembus pun buru-buru melihat barang yang dituding Mbah Cempluk. Lalu mereka bertukar pandang tapi kali ini sambil tertawa terpingkal-pingkal.

”Oalah..Mbah, maksudnya Surf ta. Lha kok Sampyen ngaranine Surip! Nganti aku bingung,” kata Genduk Nicole geli.

”Lha ya Surip ta jenenge iki,” ujar Mbah Cempluk dengan tampang tak berdosa.

”Surf, Mbah, bukan Surip,” Gembus membenarkan cara baca Mbah Cempluk.

”Ya wis, sakerepmu kana. Ini uangnya. Ayo, Plo, mulih,” kata Mbah Cempluk rada mangkel karena dieyeli terus dari tadi, sambil buru-buru nggandeng putune pulang ke rumahnya. Sementara Genduk Nicole dan Tom Gembus hanya senyum-senyum geli. ”Oalah! Simbah karo putune kok pada bae!” batin Gembus sambil gedek-gedek.

– Kiriman Wahyu Nurcahayatun, Donoharjo RT 02/01, Wuryorejo, Wonogiri.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top