Cilik-cilik kok tuku VCD unyil…

Sebetulnya Lady Cempluk yang asli salah satu kota di daerah Pantura sana ini sudah tidak asing lagi dengan suasana dan hiruk-pikuk kota Solo. Soalnya, dia di Solo bukan hanya sehari-dua hari thok. Melainkan sudah berbulan-bulan kerja di Solo. Lucunya, dia masih saja gagap alias terheran-heran dengan segala sesuatu yang terjadi di Solo.
Seperti yang dialaminya belum lama ini. Saat itu, Lady Cempluk dan Mas Ketemu Gedenya, sebut saja Jon Koplo, berniat untuk membeli kaset VCD. Maklumlah, meski pun sudah nonton pilem-nya di bioskop tetap saja masih ada keinginan untuk nonton lagi di rumah.

”Mas, jan-jane James Bono iku pileme apik, ya. Tapi kalau kita terus-terusan nonton di bioskop, bisa tongpes alias kantongnya kempes no. Makanya, beli kaset VCD-nya saja ben marem. Kan bisa ditonton rame-rame di rumah,” kata Lady Cempluk beralasan.

Mendengar alasan yang rada-rada masuk akal itu, Jon Koplo pun tidak bisa berkata tidak. Begitulah, akhirnya kedua sejoli tersebut pergi ke salah satu toko kaset VCD yang ada di Solo.

Di tempat itu keduanya langsung disambut oleh Mbak-Mbak penjaga toko yang manis-manis dan ramah-ramah.

”Ada yang bisa saya banting eh…bantu, Mbak, Mas?” tanya salah satu dari mereka ramah, sebut saja Genduk Nicole.

”Sik, Mbak. Tak ndelok-ndelok dhisik,” begitu kata Jon Koplo yang memang masih ingin melihat-lihat seluruh koleksi pilem-pilem anyar yang dimiliki toko tersebut.

Maka dia dan Lady Cempluk pun hanya ngilang-ngilingi kaset-kaset yang dijajar rapi di dalam etalase toko.

Sampai tiba-tiba keasyikan keduanya terpecahkan oleh kedatangan seorang pemuda. Pemuda itu datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung bertanya kepada Genduk Nicole. Agaknya, pemuda itu sudah sering datang ke situ.

”Nduk, Nduk, Triple X-nya wis metu durung?” tanyanya dengan suara yang lumayan gandang alias keras.

Begitu mendengar pertanyaan pemuda itu, Lady Cempluk langsung jenggirat kaget.

Lhadalah! Mase iki jan ora kira-kira! Masak tanya VCD ”unyil” kok terang-terangan? Apa gek-gek pembeli kaset-kaset seperti itu di Solo sudah tidak perlu isin-isin lagi? Batin Cempluk syok.

”Durung metu, Mas. Coba besok ke sini lagi. Katanya barangnya mau datang besok,” jawab Genduk Nicole tak kalah santainya.

Namun, Lady Cempluk ora arep neges-neges kaset macam apa yang ditanyakan laki-laki itu. Pokoknya, begitu sudah mendapatkan kaset yang dia incar, dia pun mengajak Jon Koplo pulang ke rumah.

Di rumah Jon Koplo, Lady Cempluk dibikin sport jantung untuk kedua kalinya, saat adik Jon Koplo sebut saja Tom Gembus yang lagi asyik thengak-thenguk nonton tipi, tiba-tiba bertanya, ”Mbak, Triple X-nya ada nggak.”

Lady Cempluk pun langsung mencak-mencak tak karuan. ”Eh…kamu ini, masih kecil-kecil sudah mencari VCD ‘begituan’. Mbok yen tekok ki ora usah terang-terangan.

Ora ilok. Lagi pula, apa mbakyumu ini punya tampang seperti orang yang suka pilem-pilem unyil begitu ta?” tanya Cempluk emosi.

Disemprot seperti itu, terang saja Tom Gembus yang rumangsa ora keliru ngomong, cuma bisa domblang-domblong.

”Lho lha kepriye ta, Mbak? Aku kan cuma tanya VCD-nyaTriple X itu sudah ke luar belum. Apa sih salahnya?” tanya Gembus bingung.

Untunglah, Jon Koplo yang mendengar huru-hara itu dari belakang, mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Maka dia pun tergopoh-gopoh datang dan menjelaskan kepada Lady Cempluk.

”Pluk…Pluk, sabar. Triple X itu bukan pilem saru. Tapi pilem barat terbaru. Bintangnya Van Diessel,” jelas Jon Koplo sabar.

Begitu mendengar penjelasan Koplo itu, merah padamlah muka Cempluk.

Oalah! Tak pikir pilem unyil! Pantes saja kok pada wani terang-terangan menanyakan kaset VCD itu! Batin Cempluk kisinan dhewe.  

– Astrid Prihatini WD

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top