Karet KB yang pertama

Jon Koplo adalah seorang dosen muda sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) yang lumayan kondang di bumi Surakartan. Ketika kisah ini terjadi, dia baru saja menikah. Persisnya masih dalam masa bulan madu, karena sekitar dua pekan sebelumnya dia baru saja menyunting gadis idamannya, seorang Mojang Priangan sebut saja bernama Lady Cempluk. 
Hanya saja, sebagai seorang dosen muda yang karirnya mulai menanjak serta isterinya yang seorang pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah instansi pemerintah di Bandung, membuat mereka belum bisa merancang secara matang bagaimana masa depan keluarganya.

Yang paling bisa disepakati mereka berdua adalah soal rencana jangka pendek tentang menunda kehamilan, alias tak ingin mempunyai anak terlebih dahulu mengingat kehidupan keluarganya yang belum tertata benar.

Nah berkait dengan rencana jangka pendek itulah Jon Koplo mempunyai pengalaman yang sangat ”memilukan” sekaligus ngisin-isini menyangkut tentang kali pertama membeli alat kontrasepsi karet KB alias kondom di sebuah apotek. Terus terang pengetahuan Jon Koplo tentang kondom memang sangat minim dan agak sungkan untuk membeli barang semacam itu di sebuah apotek. Maklum, dia kan masih muda dan masih pengantin baru lagi.

Tapi demi mendukung rencana perkawinan mereka, maka dengan setengah hati, bimbang dan perasaan agak malu Jon Koplo memberanikan diri pergi ke apotek untuk membeli barang yang bernama karet KB tersebut.

Sampai di apotek kok ndilalahnya yang menjaga apotek cewek semua dan masih muda-muda lagi. Maka tak pelak lagi, Koplo bertambah grogi dan bimbang hatinya. ”Jadi nggak, jadi… nggak. Harus jadi,” kata Koplo akhirnya.

Maka dengan menutup semua keraguan dan rasa malu, Jon Koplo menanyakan kepada salah satu mbak penjaga apotek. ”Eh… anu Mbah. Ada karet KB tidak?”

”Oooh… tentu saja ada Mas. Lengkap,” kata si Embah yang belakangan diketahui bernama Genduk Nicole itu.

”Masnya butuh yang besar atau yang kecil?” tanya Genduk Nicole lebih lanjut.

Mendapat pertanyaan seperti itu, mak prempeng, Jon Koplo tambah glagepan. Soalnya terus terang saja Jon Koplo belum pernah melihat apalagi menggunakan kondom.

Sebelum menjawab pertanyaan Genduk Nicole, Jon Koplo pun terdiam sejenak sembari berpikir… ”Kalau kecil, jangan-jangan nanti kekecilan. Tapi kalau besar bagaimana kalau ternyata kebesaran,” begitu yang berkecamuk di pikiran Jon Koplo.

Maka daripada nanti salah maka dengan suara agak pelan bahkan sedikit berbisik, Jon Koplo bertanya kepada Genduk Nicole. ”Eh… Mbak… Mbak, biasanya kalau orangnya seperti saya ini, pakai yang besar atau yang kecil sih,” katanya polos bin lugu.

Mendengar jawaban sekaligus pertanyaan seperti itu, Genduk Nicole mendadak tertawa ngikik. ”Hii… hi… hi… begini lho Mas… kalau yang dimaksud ukuran karet KB besar atau kecil itu semuanya sudah standart. Yang saya maksud besar dan kecil itu bukan ukuran kondomnya, tapi isi kemasannya. Kalau besar isinya 12 dan yang kecil kemasan isinya hanya tiga.”

Mendapat jawab seperti itu, Jon Koplo langsung mak prempeng abang ireng menahan malu. Apalagi di sebelah Koplo juga sudah ada beberapa pembeli yang ikut-ikutan mesam-mesem mendengar pertanyaan Koplo yang konyol tadi. Maka dengan nada mantap, Koplo langsung meminta ukuran yang besar. ”Biar tidak beli-beli lagi,” kata dia sambil mbrabat pergi diiringi tawa cekikikan para cewek penjaga apotek.

– Kiriman M Khoiruman SE, Jl Kapten Tendean 108 Nusukan, Solo.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top