Coca Cola rasa brotowali

Kejadian ini memang sudah lama dialami Tom Gembus. Tapi, dia masih sering kelingan jika tak sengaja melihat deretan botol Coca-Cola. Bagaimana tidak kelingan. Lha wong dia mempunyai pahit dalam arti sesungguhnya saat meneguk botol Coca-cola di rumah Jon Koplo.
Ceritanya sore itu Tom Gembus dolan ke tempatnya Jon Koplo, sahabat kenthel-nya sejak masih duduk di bangku SD. Entah memang takdir untuk together terus, sampai kuliah mereka tetap satu kelas.

”Plo, sudah nggarap tugase Bu Nicole?” tanya Gembus yang baru saja mematikan mesin motornya.

”Oo.., tugas nggawe makalah tentang Tragedi Bali, ta? Uwis rampun ndek bengi je. Itu di atas meja. Jupuken dewe,” jawab Koplo yang lagi sibuk nyervis motornya.

Karena sudah terbiasa dan rumah Jon Koplo sudah dianggap seperti rumahnya sendiri, Tom Gembus pun langsung masuk ke kamar Koplo. Di dalam kamar Jon Koplo, Tom Gembus melihat tugasnya Jon Koplo sudah beres. Wah! Siiip! Berarti aku isa nganggo komputere Koplo ki! Sorak Gembus hepi saat melihat komputernya Jon Koplo yang nganggur.

”Plo, aku nunut ngetik nang kene ya. Mumpung ana komputer ngangur,” teriak Gembus dari dalam kamar Koplo.

”Yoi, Prend!” sahut Koplo mengiyakan.

Begitulah, Tom Gembus pun mulai menyusun kata-kata untuk nggarap makalah tersebut. Tapi konsentrasinya jadi hilang gara-gara hawa panas. Wah…, panas banget iki hawane! Kata Gembus dalam hati. Woo lha, pantes! Wong pas jam setengah loro! Batin Gembus dalam hati.

”Plo, ana panganan ora? Aku ngeleh tur ya ngelak banget,” teriak Gembus.

”Ana nang dapur. Tadi ibuku baru saja selesai masak,” balas Koplo tak kalah kerasnya.

Gembus yang sudah terbiasa di rumah Koplo langsung nggeblas ke dapur. Lapar plus hausnya sudah tidak bisa lagi ditahan. Dibukanya kerudung saji.

”Wah…, ada pahe-pahe. Wah…, digoreng lagi. Favoritku ini. Aduh…, perutku kok jadi lapar banget,” batin Gembus yang girangnya bukan main melihat daging ayam goreng di atas meja. Langsung saja diambilnya piring dan diisinya dengan nasi yang memang masih kebul-kebul sampai munjung. Cepat dilahapnya nasi plus ayam goreng yang ada di hadapannya itu.

”Wah…, enak tenan masakane ibuke Koplo. Ora kalah karo iwak pitik neng iklan TV kae,” kata hati Gembus yang masih saja melahap makanan yang ada di depannya.

Tapi karena yang dimakan tidak ada duduhe, akibatnya Tom Gembus pun kesereten. ”Waduh…, aku kesereten iki,” keluh Gembus. Gembus akhirnya mbukak kulkas. ”Wah…, asik! Ana Coca-Cola nganggur iki. Wah…, jan seger tenan. Mangane pahe, ngombene Coca-Cola,” batin Gembus girang melihat ada botol Coca-Cola yang ada di atas kulkas. Segera diambilnya gelas. Dengan antusias dituangkannya isi dalam botol Coca-Cola itu.

”Lho, kok ora munthuk, ya, banyune,” batin Gembus heran. ”Ah, mesti iki kesuwen sing nyimpen,” batin Gembus ngayem-ngayem dirinya sendiri.

Dengan semangat 45 diminumnya ”isi” Coca-Cola yang sudah ada di gelas yang dipegangnya. Tapi sejurus kemudian…Hueek! Bheh…bheh… Gembus pun gaber-gaber ora karuan sampai lidahnya mau keluar. ”Hoek….hoek…iki apa iki. Kok rasane kaya ngene. Hoek…hoek…!” kata Gembus misuh-misuh.

Mendengar teriakan Gembus itu, Koplo yang ada di depan rumah lari tergopoh-gopoh untuk melihat keadaan sohib tercintanya.

”Heh, ana apa, Mbus? Kok kowe hoek-hoek kaya ngana? Ana apa?” tanya Koplo bingung melihat ulah Gembus yang sibuk ngelapi mulutnya dengan tangan.

”Ana apa mbahmu kuwi. Kuwi Coca-Cola rasa apa. Coca-Cola kok rasane kaya racun,” kata Gembus yang mukanya merah. Koplo lalu melihat botol Coca-Cola yang ada di atas kulkas. Spontan Koplo tertawa cekikikan. Gembus makin nggondok.

”Ditakoki kok malah ngguyu,” Koplo malah makin keras tertawanya. ”He…, kowe kuwi nguyu apa kok nganti cekikikan.”

”Jadi kamu tadi minum minuman yang ada di botol Coca-Cola itu. Pantes wae hoek-hoek ora karuan,” kata Koplo. Gembus tambah ngakak. ”Ngerti ora, Mbus. Sing tok ombe mau Coca-Cola rasa brotowali,” kata Koplo yang masih ngakak. Mendengar kata brotowali Gembus wajahnya langsung merah kaya tomat. Sejurus kemudian Gembus ikut tertawa.

”Pantas rasane paite ora mekakat. Jebule aku mau ngombe jamu rasa brotowali. Oalah, pantes,” kata Gembus.

”Critane ndek wingi ibu menyang pasar terus ada yang titip jamu buat Lik Cempluk sing omahe etan kana. Lha, ndilalahe yang ada cuman botol Coca-Cola. Ya, uwis. Pakai botol Coca-Cola wae. Jebul, kamu malah sudah ngicipin duluan. Piye, Mbus. Enak ta rasane Coca-Cola aroma brotowali,” ejek Koplo yang tambah membuat Gembus muring-muring.

– Kiriman Susi Prasetyaningtyas, Candi RT 02/RW 04, Candirejo, Semin, Gunungkidul, Yogyakarta 55854.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top