Niate nglayat dadine piknik…

Pergi melayat orang meninggal memang merupakan perbuatan yang terpuji. Dengan catatan bila dilakukan dengan ikhlas serta tanpa pamrih. Artinya mendatangi tempat orang kesripahan itu memang benar-benar dilandasi niat untuk turut berbela sungkawa. Tapi tidak demikian halnya dengan Lady Cempluk.
Saat melayat Jon Koplo, tetangganya yang meninggal dunia, Lady Cempluk punya pengalaman seru. Soalnya, acara melayatnya malah menjadi acara piknik keluarga. Lha kok isa?

Cerita berawal saat keluarga Jon Koplo kesripahan. Berhubung Jon Koplo berasal dari Desa Juwiring Klaten, maka Jon Koplo pun dimakamkan di desa kelahirannya sana.

Sejak pagi uthuk-uthuk, Lady Cempluk sudah siap-siap ngecim kursi di belakang sopir.

Soalnya kursi di belakang sopir memang paling strategis. Dugaannya benar! Banyak anak kampung yang rebutan mencari tempat duduk di belakang sopir. Untung, Cempluk berhasil duduk di belakang sopir.

Singkat cerita, mengingat Jon Koplo masih punya rumah di Juwiring, maka atas permintaan keluarganya yang di desa jenazah Jon Koplo disemayamkan dulu di rumahnya untuk diadakan prosesi pemakaman ala desa tersebut. Cempluk bersama rombongan yang lain, terpaksa harus menunggu terlebih dahulu di depan rumah.

Ternyata prosesi pemakaman berlangsung lama. Padahal perut Cempluk sudah melilit-lilit saking laparnya. Maklum sebelum berangkat dia hanya sempat sarapan sedikit. Sementara tuan rumah blas ora nyepaki suguhan.

Saking tidak kuatnya menahan lapar, Cempluk mengajak Genduk Nicole, sesama pelayat dari Solo, untuk jajan. ”Kita ke Pasar Juwiring dulu, yuk, Nduk,” ajak Cempluk pada tetangganya itu.

”Meh ngapa menyang pasar, Mbak?” tanya Genduk Nicole nggumun.

”Golek maem. Katanya di sini ada soto yang enak. Wetengku luwe ki,” kata Lady Cempluk.

”Ora ah, Mbak. Mengko ndak ketinggalan bis,” tolak Genduk Nicole.

”Alaaah, mung sedhelok thok, kok. Paling-paling prosesi pemakamannya masih lama,” kata Cempluk seraya beranjak dari tempat duduknya. Tapi Genduk Nicole tetap saja menolak.

Cempluk pun nekat berangkat sendiri sambil menggandeng Tom Gembus pergi ke Pasar Juwiring yang letaknya lumayan jauh dari tempat pemakaman itu. Lady Cempluk pernah diberitahu kenalannya, bahwa di Pasar Juwiring ada warung soto yang enak. Maka dia pun segera masuk ke tempat itu. Setelah diincipi, Lady Cempluk mengakui kelezatan soto itu. Sehingga dia memesan lebih dari dua mangkok. Saking keenakan menikmati sotonya, Cempluk tak sadar kalau dia terlalu lama meninggalkan rombongannya.

Ketika kembali ke tempat pemakaman itu, upacaranya sudah selesai. Karena tempat pemakaman desa tersebut sudah sepi. Sementara rombongan bus para pelayat dari Solo sudah pulang. Wah…aku ditinggal ki! Batin Cempluk nelangsa.

Sorenya, dia bertemu Genduk Nicole. ”Nduk, kowe mau ora ngandani sopire ta? Kalau aku lunga mangan?” tutuh Cempluk pada gadis tetangganya itu.

”Saya kira tadi Sampeyan sudah di dalam bus yang satunya,” jawab Genduk Nicole beralasan.

Akhirnya Cempluk cerita, dia terpaksa harus jalan kaki dari Kartasura. Soalnya waktu ditinggal bus, dia langsung naik angkutan umum. Mungkin karena bingung, ternyata bus yang dinaiki jurusan Klaten. Akibatnya Cempluk harus naik bus lagi menuju Solo. Padahal uang yang dibawanya tinggal beberapa ratus rupiah, karena sebagian habis untuk membeli soto. Sementara uangnya hanya cukup untuk naik sampai Kartasura.

”Ya ora apa-apalah. Hitung-hitung piknik. Habis salah sendiri sih, siapa suruh tadi ke pasar. Memangnya mau layat apa mau jajan soto,” ledek Genduk Nicole. Lady Cempluk hanya cengar-cengir sambil memijit-mijit kakinya yang pegal-pegal, karena harus jalan dari Kartasura ke rumahnya sambil menggendong Tom Gembus.  

– Kiriman Sri Wahyuni, Jl Sri Nalendro RT 02/X Danuksuman, Solo 57156.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top