Pulang kuliah ala pencuri

Kuliah dengan menggunakan pintu sebagai jalan keluar masuk itu sudah biasa, tapi kalau keluar lewat jendela itu baru luar biasa. Kisah ini dialami oleh Jon Koplo, Genduk Nicole, Lady Cempluk dan dua sohib lainnya. 
Kisah ini terjadi di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Kota Solo. Hari itu, setelah jam kuliah selesai para mahasiswa tersebut pada mabur karepe dhewe, ada yang langsung ngacir ke kantin untuk ngisi perut dan ada juga yang langsung ngobrol dengan teman lainya.

Selesai mengisi perut di sebuah kantin yang terletak di dalam kampusnya, Jon Koplo lari menghampiri Lady Cempluk, ”Pluk, kamu mau kemana?” tanya Jon Koplo. ”Kuliah filsafat Pancasila,” jawab Lady Cempluk.

”Ya sudah bareng, tempatnya di mana tha pakai nurun segala?” tanya Koplo sang aktivis yang memang jarang kuliah alias mbolos.

”Ya seperti biasa ke gedung darurat, kowe ngerti dewe tha, yen gedung kita itu penuh sehingga kita harus mengungsi, jadi tidak hanya korban banjir dan perang saja yang bisa ngungsi kita kuliah juga ngungsi,” ujar Cempluk.

”Halo teman-teman apa kabar, gimana sudah siap belum makalah untuk diskusi nanti?” Lady Cempluk yang agak malesan itu dengan kemayu-nya menyapa Genduk Nicole. ”Udah dong kita kan warga Pancasilais,” jawab Genduk Nicole.

Beberapa saat kemudian Pak Dosen pun datang, setelah salam acara diskusi dimulai. Giliran pertama kelompok Genduk Nicole, Lady Cempluk dan dua orang teman kelompoknya mempresentasikan makalah bertema Utopis dan Ideologi.

Genduk Nicole cas-cis-cus di depan teman-temannya menerangkan ini-itu dengan bahasa semrawut yang lebih mirip benang ruwet. Setelah kelompok itu selesai, dilanjutkan kelompok yang lain hingga akhirnya kuliah filsafat Pancasila itu selesai.

Sehabis kuliah itu, mahasiswa yang lain langsung kabur ke kandangnya masing-masing-masing. Dasar Jon Koplo yang seorang aktivis ditambah Genduk Nicole yang keminter terjadilah diskusi ronde dua, bicara ngalor-ngidul dengan semangat seperti wakil rakyat saja. Lady Cempluk dan dua sohibnya hanya melongo mendengarkan dua orang temannya itu.

Tanpa terasa jam kerja sudah lewat. Berarti para pekerja di instansi itu pun akan segera pulang. Dan tanpa sepengetahuan mereka pintu gedung telah dikunci oleh petugas.

Karena sudah merasa ngantuk nggak ketulungan Lady Cempluk mengundurkan diri dari kancah debat dan minta pamit untuk pulang. Setelah keluar Lady Cempluk kaget bukan main.

”Ketiwasan-ketiwasan…,” Lady Cempluk yang asli wong Solo itu girap-girap masih dengan gayanya yang kemayu.

Sontak semua teman-teman yang masih ada di dalam ruangan berhamburan keluar. ”Apa-apa, ada apa?” Jon Koplo tergugah karena memang di situ ia cowok sendiri.

”Aduh ketiwasan, Jon pintu gedung ini sudah dikunci,” kata Lady Cempluk.

Kelima mahasiswa ribut sak karepe dhewe, bingung bagaimana jalan keluar nanti. Tiba-tiba makcling Genduk Nicole punya ide cemerlang, yakni keluar lewat jendela.

”nggak mungkin nggak mungkin,” kata Koplo. ”Kalau lewat jendela gimana, kita tahu sendiri kalau jendela itu dikrangkeng,” sahut teman lainnya.

”Begini, Jon kamu punya obeng nggak untuk membuka sekrup-sekrup ini.” Dengan sigap Jon Koplo cari-cari di tasnya yang sudah kusam. Jon Koplo kemudian membuka semua skrup demi skrup krangkeng jendela. Walhasil besi itu dapat dibuka, semua sedikit lega.

”Sudah sekarang geret kursi itu, Jon!” suruh Lady Cempluk.

Akhirnya dengan gaya ala pencuri mereka keluar, naik kursi masuk jendela, baru melompat keluar.

Rupanya bersamaan dengan keluarnya kelima mahasiswa itu, salah seorang satpam memergokinya. Satpam yang bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal itu langsung berusaha menangkap para mahasiswa tersebut, karena dikira pencuri. ”E…e…e.. ngapain kalian lewat jendela, kalian mencuri ya…?” tanya Pak Satpam.

”Nggak pak, nggak, kami nggak mencuri, tapi kami terperangkap di dalam gedung karena habis kuliah kami ngobrol dulu. Bapak sendiri kok nggak dengar ramai-ramai di dalam gedung,” jelas Jon Koplo.

”O…begitu, maafkan, Bapak nggak tahu,” Pak Satpam tersebut sambil tertawa sendiri geli melihat kelima mahasiswa itu.  – Kiriman Suyatni, Kacangan 2/5, Tawangsari, Kerjo, Karanganyar.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top