Cah ganteng disuruh ngepel…

Suatu kali, alat pengepel lantai di rumah Lady Cempluk sudah rusak. Sehingga Lady Cempluk pada suatu hari bermaksud membeli yang baru. Siang itu Lady Cempluk memutuskan untuk segera membeli ke alat itu ke supermarket. 
Maka Lady Cempluk bersama Jon Koplo, sang pacar, segera pergi ke sebuah pusat perbelanjaan (swalayan) yang cukup kondang di Solo. Dengan naik sepeda motor butut pinjaman, Lady Cempluk bersemangat juga untuk berangkat, ”Itung-itung sambil jalan-jalan ya Mas,” kata Lady Cempluk kepada sang kekasih.

Sampai di toko yang Lady Cempluk maksud, Lady Cempluk segera muter-muter di arena perbelanjaan tiga lantai tersebut. Sasaran utama apalagi kalau bukan konter peralatan rumah tangga yang berada paling pojok di lantai dasar. Lady Cempluk segera memilih alat pel yang dia maksudkan.

Sampai di sana, dia pun dibuat sedikit bingung. ”Wah Mas jenisnya kok banyak sekali,” kata Lady Cempluk kepada Jon Koplo.

Dia memperhatikan satu persatu, ada yang sengaja dikemas rapi serta dibungkus plastik dan ada pula yang tidak dikemas, sehingga kain pelnya tampak dhiwut-dhiwut telanjang.

Setalah milang-miling, Lady Cempluk pun akhirnya memilih yang modelnya tidak dikemas. Karena harganya dianggap lebih murah dibanding peralatan pel lainnya.

Setelah mengambil satu, Lady Cempluk pun kemudian memberikan alat pel itu kepada pacarnya, Jon Koplo. ”Mas tolong dibawaain ya, biar praktis. Soalnya saya kan masih bawa keranjang nih,” katanya.

Sebagai seorang pacar yang teramat setia dan sayang, Jon Koplo pun ho’oh-ho’oh saja ketika mendapat amanat dari sang pacar. Dia dengan tenang membawa peralatan pel tersebut sambil mengiringi Lady Cempluk berbelanja kebutuhan yang lain.

Lady Cempluk mondar-mandir dari satu konter ke konter lain, sementara Jon Koplo ya ikut-ikutan monda-mandir di belakangnya, tentu saja sambil membawa peralatan pel yang dhiwut-dhiwut tadi.

Nah ketika Jon Koplo muter-muter sambil menjinjing alat pengepel tersebut mereka melewati konter makanan dan es krim. Ndilalahnya, di situ ada seorang ibu-ibu yang sedang menuntun anaknya dan membeli es krim.

Dasar anak-anak, es krim tersebut langsung dimakan. Ibunya pun segera membuka bungkusnya. Anak itu dengan senangnya melumat es krim tersebut. Lagi-lagi dasar anak, es yang ia makan pun tercecer-cecer di lantai supermarket.

Lantai toko itu dalam sekejab menjadi basah dan klenyet-klenyet. Mengetahui hal itu, sang ibu bingung kalau-kalau dimarahi Pak Satpam dan malu dengan para pengunjung lainnya. Entah mengapa tiba-tiba si ibu tersebut memanggil Jon Koplo yang sedang ngotong-ngotong alat pel.

”Eh Mas… Mas… tolong dong bersihkan lantai ini,” kata ibu-ibu tersebut.

Jon Koplo yang mendapat panggilan itu pun clingak-clinguk dan merasa malu dikira sebagai tukang pel supermarket. Mukanya mak prempeng, langsung merah padam. ”Saya ini bukan petugas cleaning service Bu,” jawab Jon Koplo.

Ibu-ibu yang bernama Genduk Nicole itu pun terkejut sendiri dan buru-buru minta maaf kepada Jon Koplo. Genduk Nicole itu semakin merasa bersalah setelah seorang ibu yang cukup cantik bilang, ”Oalah Bu… Bu sampeyan itu bagaimana lha wong bocah baguse kaya Anjasmara kok dikon ngepel…”

Mendengar itu Jon Koplo tampak semakin merah padam dan segera ngloyor pergi. Mengetahui hal itu, sebenarnya Lady Cempluk sewot tapi namanya salah tampa ya gimana lagi. Mereka berdua malah bercanda… ”Alih profesi jadi klining servis nih ye…”  – Kiriman Dewi W, Kentingan RT 01/11, Jebres, Solo.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top