”Kapok tenan Bune..!”

Obat ternyata punya kemiripan dengan pisau bermata dua. Jika benar dan tepat penggunaannya, memberi manfaat. Tapi jika tidak, jelas, maka marabahayalah yang justru menghadang. 
Coba simak pengalaman pahit bin konyol Jon Koplo yang terjadi akhir Februari 2002 lalu ini.

Warga Desa Sambirejo, Plupuh, Sragen yang berwatak humoris namun kadang rada-rada (nuwun sewu) kebablasen ini pintar menjaga kondisi tubuhnya. Hingga setua (kurang lebih 55 tahunan) Pak Jon Koplo ini jarang terdengar sakit, terlebih sampai opname segala.

Namun sebaliknya dengan ibu Lady Cempluk, sang isteri. Sudah sekian tahun ini tokoh utama wanita kita ini keparingan ”ganjaran”, menderita penyakit kencing manis alias gula alias lagi diabetes melitus.

Secara telaten Pak Jon Koplo memeriksakan sang isteri ke dokter ahli. Kadang juga yang mengantar memeriksakan si anak, Mas Tom Gembus. ”Cah, kesehatan ki dijaga sing tenanan…”, begitu nasihat Pak Koplo suatu hari kepada anak-anaknya.

Rupa-rupanya ia sadar betul betapa mahalnya arti kesehatan setelah isterinya sakit itu. Salah satu ciri/tanda orang yang mengidap penyakit gula adalah sering-sering pipis. Itu pertanda harus waspada.

Nah berkait dengan itu, suatu malam Pak Jon Koplo agak resah. ”Tak seperti biasanya, aku kok sering pipis seharian tadi…,” batinnya.

Dipikir-pikir apa yang menjadi penyebabnya, tak ketemu juga. Karena ingat isterinya juga sering mengalami gejala itu, maka dia pun mengadu kepada isterinya, ”Bune, tolong ambilkan obatmu. Aku minta satu,” pinta Pak Jon Koplo.

”Lho, iki kanggo aku Pak. Kamu itu sakit apa, sih?”

Pak Jon Koplo berkisah, seharian sudah buang air kecil berkali-kali. Akhirnya sang isteri diam saja, ”Terserah sampeyan Pak”.

Obat yang sehari-harinya diminum Bu Cempluk itu pun kemudian diminum Jon Koplo. ”Mudah-mudahan pipisku segera mampet,” pikirnya.

Setelah larut mulai tiba, Pak Koplo bergegas menuju tempat tidur. Tak berapa lama kemudian, Bu Cempluk pun menyusul ke kamar. Suasana desa yang sepi nan damai itu terusik. Suara binatang malam semacam jangkrik dan burung malam seketika kalah-tenggelam oleh suara jeritan bu cempluk. ”Pakne.. iki piye iki…, tulung!”

Seisi rumah, bahkan tetangga dekat pun ikut terbangun. Di kamar itu Pak Koplo terkulai lemas, badannya anyep-anyep. Panik dan bingung semuanya. ”Ini tadi gimana ta Bu critane?”, tanya Tom Gembus, si anak sulung.

Sang Ibu pun bercerita soal obat yang diminum suaminya tadi. ”Wo, lha dalah tenan Pak-e iki”, gumam Gembus.

”Lha wong obat penyakit gula kok diminum sembarangan, kok ya coba-coba.”

Kepada orang banyak Mas Gembus yang Guru Biologi ini menerangkan. ”Obat penyakit diabetes ini fungsinya membongkar glukosa menjadi glikogen, sehingga orang yang sehat yang minum obat ini bisa kehabisan glukosa atau gulanya, sehingga badan menjadi lemas…” Keadaan pun agak hening.

”Terus bagaimana ini, Mbus”, tanya Bu Cempluk masih panik. Gembus pun bergegas meminta tolong tetangganya memanggilkan Pak Dokter yang terdekat.

”Pak, eling Pak, eling. Nyebut Pakne…,” Bu Cempluk terbata-bata sambil meminumkan teh manis, pelan-pelan.

Sebentar kemudian dokter datang. Tanpa diminta, Bu Cempluk mengisahkan mula-bukane. ”Nggih Bu…, ingkang sabar”, kata Pak Dokter sambil manggut-manggut.

Therapi alias penyembuhannya ternyata sama persis dengan pendapatnya Gembus. Teh terus diminumkan…, hingga akhirnya Pak Koplo sadar, terbangun dan malah terbengong-bengong. ”Kok dadi layatan ta aku iki? Waduhh… bune kapok tenan aku…” bisiknya.

Akhirnya semua bersyukur, meski ada juga yang tega menyalahkan Pak koplo. Geger-geger pukul 23.30 WIB itupun berakhir. Beberapa tetangga sempat nggrundel, lha wong sehat kok ngombe obat diabet…”  – Kiriman M Amin, Kaliyoso RT 04/01, Jetis Karangpung, Kalijambe, Sragen 57275.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top