”Burung” Koplo pun aboh…

Jon Koplo memang gemar nonton sepakbola. Bukan saja klub-klub manca negara dan nasional yang sedang bertanding di Liga Bank Mandiri, namun klub-klub amatiran alias klub ndesit bin sepakbola Tarkam tak luput dari perhatiannya. 
Jadi, soal begadang hingga larut malam hari demi siaran langsung bola di televisi adalah hal yang sangat biasa. Ia juga tak segan ngluruk ke kampung atau kota sekitar demi memanjakan matanya melihat gulingan si kulit bundar.

Sebagai seorang laki-laki dan telah memiliki usia yang pantas untuk dikhitan (maklum sohib kita ini sudah kelas 6 SD), Jon Koplo pun dikhitan. Bukan oleh Pak Dokter atau juru khitan, namun oleh mantri kesehatan di kampungnya, Pak Tom Gembus.

Meski hanya mantri, dia telah terbiasa ”mengamputasi” barang paling pribadi milik anak-anak di wilayah itu. Nah karena Pak Mantri Tom Gembus ini sudah lumayan terkenal, maka orangtua Jon Koplo pun tak ragu untuk menyupitkan anak kesayangannya itu ke mantri Kesehatan Tom Gembus.

Dan syukur alhamdulillah, prosesi khitanan Jon Koplo bisa berjalan dengan lancar. Jon Koplo sudah bisa jalan-jalan dengan biasa, meski agak sedikit mekakah-mekekeh.

Hanya saja, ketika lukanya belum sembuh benar, ada berita bahwa kesebelasan kebanggaan masyarakat Sragen, yakni PSI Sra akan bertanding dengan Persika dikandang sendiri, yakni Stadion Taruna Sragen.

Nah, pada hari H pertandingan, sebagai maniak bola nomor wahid, Jon Koplo pun ngacir bersama kawan-kawannya menonton pertandingan tersebut. Nah di sinilah malapetaka dimulai.

Setelah antre membeli karcis, ia dan penonton lain segera menyerbu ke dalam stadion. Pertandingan-pun segera dimulai. Pertandingan yang cukup seru itu memancing emosi penonton. Ketika PSI Sra berhasil menekuk lawannya 3-0, pada setiap bola masuk gawang jingkrak-jingkrak penontonpun mengguncang lapangan.

Begitu pula dengan Jon Koplo, meskipun ”burungnya” masih diperban karena lukanya belum kering benar setelah disupit, dia rupanya lupa diri. Sehingga ia pun ikut jingkrak-jingkrak sak kemenge ketika gol demi gol disarangkan oleh PSI Sra.

Seketika itu dia memang tak merasakan pengaruhnya. Baru di akhir pertandingan ia mulai merasakan agak perih di antara dua pahanya. Sekalipun demikian, dia tak terlalu menghiraukannya dan langsung pulang ke rumah.

Tapi keesokan harinya, tak dinyana dan tak diduga… weeeh lha dalah… ”burung”-nya bertambah besar alias membengakak bin aboh. Lehernya menyembul, membentuk kantung udara yang lumayan besar.

Dia pun hanya bisa merintih-rintih menahan sakitnya. Melihat kejadian itu selaruh anggota keluarga jengkel campur gemas. Lukanya yang semula sudah akan sembuh kini parah lagi.

Dia pun kemudian dikirim ke Pak Mantri Tom Gembus. ”Ooo lha kowe kakehan tigkah. Kamu ngapain saja Le… Le. Lukanya kan belum sembuh, lha kok sudah pencilakan,” kata Tom Gembus anyel.  – Kiriman Herbayu Ragil Kanugrahan, Sragen.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top