”Padhakke sopir truk wae…”

Kisah yang boleh dibilang tragis tur ngisin-isinke ini dialami siapa lagi kalau bukan lakon kita si Jon Koplo. Koplo yang kali ini, adalah seorang pembantu dekan (PD) III yang membidangi masalah kemahasiswaan sebuah perguruan tinggi swasta lumayan ngetop markotop di Kota Solo. 
Kisahnya diawali ketika seluruh PD III di fakultas yang ada di universitas itu diundang oleh Kopertis, itu lembaga yang ngurusi perguruan tinggi swasta, ke Semarang. Maka Jon Koplo, Tom Gembus dan kawan-kawannya dari enam fakultas yang ada di situ berangkat bersama-sama.

Jon Koplo selama ini memang dikenal sebagai salah satu pembantu dekan sing ngeyelan, sekalipun usianya telah lebih dari setengah abad. Hanya saja dia suka tersinggung kalau diajak bercanda. Sementara temannya, Tom Gembus, yang masih lajang sukanya mbanyol tur seneng gawe wirang kanca.

Karena karakter yang bertentangan inilah, keduanya sering kali tidak cocok dalam pergaulan sehar-hari. Meski demikian, justru karena perbedaan sikap itulah yang sering kali mengundang tawa teman-temannya serombongan.

Nah, dalam perjalanan dari Solo menuju Semarang pun tak luput dari canda tawa akibat banyolan Tom Gembus dan ngeyel-nya Jon Koplo.

Misalnya saja, dalam perjalanan itu Tom Gembus mbedheki Jon Koplo dengan teka-teki yang sederhana tapi sempat membuat Koplo cekakaan, ngguyu ora barbar. ”Pak Koplo, saya kasih teka teki ya, mengapa bebek goreng itu enak rasanya,” kata Gembus membuka pembicaraan.

”Lho, ya tidak usah ditanyakan. Bebek goreng itu pasti enak. Itu namanya bedhekan ora mutu,” jawab Koplo sedikit ngeyel.

”Siapa bilang tidak bermutu. Justru ini sangat bermutu. Ayo jawab saja, bisa tidak,” kata Gembus.

”Wegah, aku tidak mau menjawab teka-teki tidak bermutu,” jawab Koplo tetap ngeyel, sekalipun jelas pertanyaan itu hanya bagian dari canda.

”Ya sudah, kalau gitu tak kasih tahu ya Pak Koplo. Bebek goreng itu enak karena ada huruf ‘B’ nya. Kalau tidak ada… ya nggak tahu kayak apa rasanya,” kata Gembus menjelaskan.

”Lho kok isa… Weh hiya ya… hua… ha… ha… ha,” tawa Koplo pun meledak tak henti-hentinya. Beruntunglah sepanjang perjalanan 100 km lebih itu tidak ada sesuatu yang membuat Koplo menjadi naik pitam akibat canda Tom Gembus.

Singkat cerita, setelah rapat di Kopertis selesai, rombongan intelektual kampus ini pun balik ke Solo. Sepanjang perjalanan, mereka kembali berdiskusi tentang segala hal. Tentu saja tidak lupa dengan bumbu canda Tom Gembus dan tawa Jon Koplo yang sering meledak-ledak.

Nah saat rombongan ini memasuki kawasan Boyolali, mereka mulai merasakan perutnya keroncongan. Maklum saat di Semarang tadi mereka hanya mendapat jatah snack dan teh manis. ”Kita makan siang di sini dulu kawan-kawan, setuju…” teriak Gembus yang kemudian dijawab secara serentak oleh Jon Koplo dan kawan-kawan.

Maka rombongan mobil para dosen itu pun menepi di sebuah warung yang kebetulan lumayan ramai pengunjung. Bahkan truk-truk besar pun ikut parkir di sekitar warung itu. ”Wah masakan di warung ini pasti enak, pembelinya saja begitu banyak. Ok kita makan siang di sini ya kawan-kawan,” kata Tom Gembus yang diiyakan oleh kawan-kawannya.

Begitu masuk, memang pembeli terlihat pembeli di depan si penjual yang belakangan diketahui bernama Lady Cempluk. Karena kurang sabar dan ndilalahnya si Koplo memang tukang ngeyelan, dia pun langsung mengambil piring, nronjol orang yang antre dan menjulurkan piringnya ke Lady Cempluk. ”Bu… bu… bu… niki riyen Bu…” kata Koplo lumayan keras.

”Kosek ta Mas… sabar, wong padha-padha sopire truk wae kok nyusu-nyusu…” balas Lady Cempluk seningit.

Mendengar jawaban itu, Koplo langsung jenggirat kaget sambil mak prempeng kisinan dan buru-buru mundur. Sementara Gembus dan kawan-kawan yang ada di belakangnya serentak ngakak ”Hua… ha… ha… ha…”  – Kiriman Ir Agus, FP UTP

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top