”Makeee… aku kekecrek…”

Bagi sebagian besar warga Indonesia, Hari Raya Lebaran boleh dikatakan sebagai hari yang paling berkesan dan membahagiakan. 
Tapi ternyata hal itu tidak berlaku bagi sahabat kita Jon Koplo. Bagi dia, Lebaran tahun lalu justru menjadi hari yang paling menyiksa dalam hidupnya. Lha kok bisa?

Begini kisahnya. Sahabat kita Jon Koplo yang satu ini memang seorang bocah yang baru berumur sekitar enam tahun. Sebagai anak-anak, tentu saja wajar jika dia selalu ingin mengetahui hal-hal baru, apalagi jika melihat benda yang dirasa asing.

Nah pada hari petama bulan Syawal, sudah menjadi adat di kampungnya, jika selesai mengikuti Salat Id maka penduduk akan melakukan silaturahmi keliling kampung sambil menghadiri kenduri.

Kebetulan pula, si Koplo ini memiliki seorang kakak, sebut saja Tom Gembus, yang belum lama bekerja sebagai seorang Satpam di sebuah perusahaan.

Maka pada hari Lebaran itu, semua berkumpul. Tapi setelah Salat Id, Tom Gembus pun kemudian keliling kampung untuk bersilaturahmi serta ikut kenduri ke rumah beberapa warga, karena ini memang sudah menjadi adat kebiasaan di sana. Sedang Jon Koplo, karena masih kecil, disuruh menunggu di rumah bersama emaknya.

Nah ketika Jon Koplo tengah duduk-duduk di kursi depan, dia melihat sebuah kecrek alias borgol milik kakaknya yang tergeletak di meja itu. Ketika itulah keisengannya muncul. Dia lalu mengambil borgol itu untuk dibuat mainan.

Seorang bocah, seperti juga Jon Koplo ini, tentu saja tidak tahu kalau borgol sudah terkunci akan sulit dibuka, kecuali dibuka dengan anak kuncinya. Tangan yang sudah dimasukkan ke dalam borgol, pasti tidak bisa dikeluarkan.

Karena keisengannya itulah, dia coba-coba memasukkan tangannya ke dalam lubang borgol. Setelah itu, ”mak crek,”, kecrek itu dia tutup. Tangan kiri Jon Koplo ini lalu ”terperangkap” ke dalam borgol. Semakin ia berusaha melepaskan semakin erat Borgol itu menguncinya.

Yang lebih konyol, satu lubang borgol yang lain, ternyata telah ia kaitkan dengan kursi yang ia duduki. Maka lengkaplah sudah keadaan Koplo yang benar-benar tidak bisa bergerak dan mulai panik.

Rasa takut dimarahi kakaknya atau orangtuanya, membuat Jon Koplo hanya bisa menangis. ”Makeeee…tanganku maceeet,” teriaknya sembari mbeker-mbeker. Jon Koplo tak bisa beringsut kemanapun karena tangannya sudah terborgol dengan kursi yang ia duduki.

Mendengar suara tangis anaknya, Lady Cempluk pun segera memeriksa apa yang terjadi pada diri Jon Koplo. Setelah tahu apa yang terjadi Jon Koplo justru mendapat tambahan omelan dari ibundanya. ”Bocah ora nggenah, kecrek dinggo dolanan, kapokmu kapan saiki nek kaya ngono kuwi,” teriak Lady Cempluk sambil ikut berusaha membebaskan anaknya dari kuncian borgol.

Tapi walaupun sudah kemringet, Lady Cempluk pun tak mampu membebaskan anaknya dari cengkeraman borgol yang biasa untuk mencencang penjahat itu. Karena sudah judheg, Lady Cempluk akhirnya pergi mencari Tom Gembus untuk membuka borgol.

Tapi Tom Gembus sudah jauh pergi mengikuti kenduri keliling kampung. Baru setelah sekitar pukul empat sore dia kembali dan membebaskan Jon Koplo, karena anak kuncinya memang dia bawa.

Itulah nasib Koplo. Ketika teman-temannya bermain dengan memakai baju baru di hari Lebaran, Jon Koplo tersiksa sendirian dengan kursinya seharian?  – Kiriman Warno Jatisrono, Wonogiri.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top