”Nyontek, kok jujur…”

Jon Koplo adalah sosok mahasiswa yang mungkin tak perlu dicontoh karena dia termasuk mahasiswa pemalas belajar. Tapi gara-gara sifat malasnya itu, suatu kali Jon Koplo harus memetik buah kisinan. 
Ceritanya begini, Jon Koplo yang seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Solo ini sedang menghadapi masa-masa ujian semesteran. Nah, kebetulan besok adalah hari ujian terakhir.

Malam sebelum ujian, Jon Koplo bukannya belajar, tapi justru sibuk membuat catatan-catatan kecil di kertas atau yang sering disebut ”contekan”. Tokoh kita yang top markotop ini kalau membuat contekan tidak hanya selembar, melainkan berlembar-lembar. Apalagi materi yang diberikan oleh dosennya pada semester itu banyak sekali.

Singkat cerita, pagi itu Jon Koplo sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. ”Piye Plo, wis sinau durung (Bagaimana Plo, sudah belajar belum)?” tanya Lady Cempluk, temannya kuliah.

”Oh, ya uwis ta (Oh, ya sudah),” jawab Jon Koplo.

”Aku masih ada yang belum paham. Itu materi yang terakhir,” kata Lady Cempluk pada Jon Koplo. ”Oh iya, sama,” sahut Jon Koplo seolah-olah dia tahu materi yang dimaksud oleh Lady Cempluk. Padahal Jon Koplo sama sekali tidak mengerti materi apa yang sedang dibicarakan.

Pukul 08.00 tepat, ujian dimulai. Jon Koplo yang biasanya selalu memperoleh tempat yang strategis, saat itu tampaknya sedang tidak beruntung karena dia berada di deretan paling depan. Sehingga hal itu sedikit banyak mempengaruhi mental Jon Koplo dan membuat dia agak gugup.

”Waduh, gawat ini. Bisa nyontek apa tidak, ya?,” gumam Jon Koplo. Tapi Jon Koplo tetap optimistis bahwa ”misi” dia akan berhasil.

Menit demi menit telah berlalu. Jon Koplo masih mencari saat yang tepat untuk bisa mengeluarkan kertas contekan dari saku celananya. Saat pengawas ujian sedang keluar dari ruangan, Jon Koplo pun gage-gage mengeluarkan kertas contekannya dan diletakkan di bawah kertas lembar jawaban. Dengan kelihaiannya, Jon Koplo ”sukses” menyalin jawaban dari kertas contekannya itu.

Sebelum waktu habis, Jon Koplo sudah menyerahkan kertas jawabannya kepada pengawasnya ujian. Teman-teman Koplo gumun dengan Jon Koplo yang sudah selesai mendahului mereka.

”Wih, dengaren Jon Koplo isa nggarap, cah,” komentar Genduk Nicole yang duduk di belakang Jon Koplo. Dalam hati Jon Koplo, ujian kali ini akan mendapatkan nilai A.

Tetapi pembaca, apa yang terjadi ternyata perkiraaannya meleset 180 derajat dari yang diperkirakan. Nilai ujian yang dia peroleh adalah E alias nol. Jon Koplo terbengong-bengong saat melihat papan pengumuman nilai. Dia tidak bisa menerima hasil itu dan berniat protes kepada dosen bersangkutan.

Saat menghadap dosennya di kantor, Jon Koplo menjelaskan apa yang terjadi pada nilainya. ”Pak, saya bisa menjawab semua soalnya, masak dapat nilai jelek?” kata Jon Koplo pada Tom Gembus, dosen yang mengampunya.

”Apa iya ta, kalau kamu bisa mengerjakan pasti nilai kamu bagus. Coba, nama kamu siapa, tak lihat di arsip nilai saya,” ujar Tom Gembus.

”Jon Koplo Pak,” sahut Jon Koplo cepat. Tom Gembus kemudian membuka-buka arsip nilainya. Setelah dibolak-balik, akhirnya nama Jon Koplo ditemukan juga. Tom Gembus tampak tersenyum saat melihat arsip itu.

Jon Koplo yang melihat pemandangan itu menjadi penasaran. ”Bagaimana, Pak. Bapak keliru menulis nilai, kan?,” tanya Jon Koplo.

”Saya tidak keliru, tapi di sini ada keterangannya kalau kamu nyontek. Lha ini, kertas contekannya masih saya simpan,” ujar Tom Gembus sambil memperlihatkan kertas contekan itu.

”Lho!,” Jon Koplo terperanjat, bagaimana kertas contekan itu bisa sampai di tangan Tom Gembus.

”Jangan kaget, soalnya kemarin waktu saya mengoreksi hasil ujian kamu, saya menemukannya di dalam lembaran jawaban kamu. Jadi, katut,” kata Tom Gembus.

Muka Jon Koplo mendadak berubah merah padam mendengar penjelasan Tom Gembus itu. ”Kamu itu nyontek, tapi mbok jangan terlalu jujur seperti itu. Masak kertas contekannya dilampirkan di lembar jawaban,” komentar Tom Gembus.

Tentu saja muka Jon Koplo tambah memerah mendengarnya. Apalagi di situ dosen-dosen yang lain tertawa geli karena menyaksikan kelakuan Jon Koplo yang konyol itu. Oalah!.  – Kiriman Achmad Umar, Fakultas Teknik Jurusan Industri 1997 UMS.

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top