Nglethak penjalin? Atos tenaaan…

Ketika Jon Koplo menyaksikan iring-iringan truk pengangkut tebu di jalan raya Solo-Sragen beberapa hari lalu, dia mendadak klecam-klecem dhewe. Dia ternyata mempunyai ”kenangan indah” berkait dengan truk tebu itu bersama sohibnya, Tom Gembus. 
Begini, Jon Koplo dan Tom Gembus adalah dua karib yang masih duduk di bangku kelas III sebuah SMP di Solo. Keduanya tinggal di Jajar dan sama-sama aktivis remaja mesjid atau disingkat RMJ. Keduanya tak pernah melewatkan salat berjamaah di mesjid terbesar di kampungnya yang kebetulan berada di pinggir jalan.

Suatu sore, selepas bersama-sama menunaikan Salat Asar, Koplo dan Gembus sengaja kongkow-kongkow di teras mesjid sambil menyaksikan lalu-lalangnya lalu lintas di jalan protokol Kota Bengawan itu. Nah sekitar pukul 16.00 WIB, dari arah Kartasura tiba-tiba melintas truk-truk pengangkut tebu. Sebenarnya Koplo dan Gembus malas untuk ikut-ikutan nggereti tebu sambil beradu lari dengan truk. Untuk sekian menit lamanya, kedua warga Jajar itu cuma menyaksikan sejumlah tukang becak yang ngetem berlari-lari nggereti tebu.

”Wah, Mbus asyik juga ya… kayaknya kok gampang. Dan lihat, tebunya juga bagus-bagus, sajak legi tenan,” ujar Koplo memecah keasyikan Gembus menyaksikan aksi kejar-kejaran antara puluhan tukang becak yang bergiliran menanti truk tebu lewat di Jl Basuki Rachmat.

”Jangan aneh-aneh ah.. Plo. Berbahaya! Kalau sampai terjatuh, celaka kamu nanti,” jawab Gembus yang langsung memperingatkan sohibnya karena merasa waswas.

Namun dasar Koplo yang satu ini memang bandel, dia makin lama-makin nyedhaki para tukang becak yang asyik dengan hasil buruannya. Gembus yang sedari tadi sudah mulai pesimis, sohibnya itu akan menurut perkataan dirinya, tak urung juga mengikuti dari belakang.

”Enak lho le… nek pengen, ngenteni wae. Truk tebu sing liwat kene mengko biasane tekan Maghrib. Pokokke nek nggeret sing paling dawa metune. Mesti iso kegeret, talenane ora kenceng (Tebunya enak lho dik… kalau kepingin, tunggu saja. Truk tebu yang lewat biasanya sampai Maghrib. Pokoknya kalau mau menarik, cari yang paling panjang ke luar dari bak truk. Pasti bisa ketarik, talinya tidak terlalu kencang,” celoteh seorang tukang becak kepada Koplo yang sudah terlihat kemecer.

Belum selesai makan, si tukang becak tersebut sudah kembali sprint alias berlarian mengejar iringan truk tebu. Kali inipun empat lonjor tebu berhasil digaetnya dari truk terakhir. ”Mbus, aku tak nyoba ya. Itu… ada truk yang jalannya agak pelan,” ucap Koplo sembari menunjuk sebuah truk yang tengah menikung di pertigaan Farokka, menuju Jl Basuk Rachmat.

Gembus sudah mau menga untuk mengingatkan sohibnya. Sebab dia ragu karena truk yang lajunya kelihatan ngaya itu, tebunya ditutupi terpal dan hanya kelihatan ujung-ujung batangnya di bagian belakang bak truk.

Benar saja, Koplo langsung tancap gas memburu truk tersebut. Gembus yang melihat dari kejauhan, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa karibnya itu berhasil nduduti tiga sampai enam ”tebu”.

”Tapi kok pendek-pendek ya, tebu yang didapat Gembus,” gumam Gembus sendirian.

Belum selesai penasaran tokoh kita yang alim ini, Koplo sudah agak dekat dengan tempat dirinya berdiri. Tetapi bukannya gembira mendapat hasil, namun si Koplo malah mingsuh-mingsuh.

”Ora sah kokean omong. Deloken dhewe! Wis kebacut tak klethak…. Mau kok ya kowe rak gelem ngelekke! (Tidak usah banyak bicara. Lihat sendiri. Sudah terlanjur saya gigit! Tadi kok ya kamu tidak mengingatkan!),” sungut Koplo sembari melempar seluruh ”tebu” yang didapatnya.

Gembus yang kaget karena ucapan kasar Koplo, sontak terpingkal-pingkal. ”Oalah Plo… Plo. Aku jano yo wis arep ngomong. Truk tebu kok didekliti? Tapi awakmu bacut plencing kaya wong dioyak jaran! Ha…ha…ha… Darani tebu, diklethak jebulle penjalin… ha… ha… ha. Entekno dhewe… (Oalah…Mbus…Mbus. Saya sebenrany sudah mau memperingatkan. Truk tebu kok ditutup terpal? Tapi kamu sudah keburu kabur duluan.

Ha…ha…ha….Kamu kira tebu ta, ternyata potongan rotan, padahal sudah telanjur kamu gigit…ha…ha. Makan sendiri sana…),” kata Koplo setelah menyadari apa yang membuat sohibnya mencak-mencak.  – M Isnaeni

 

Tinggalkan Balasan

Back to Top