Sebuah Patung Ibu

Siang baru saja berlalu tapi hawa panasnya belum mau hilang. Aku yakin sebentar lagi mendung akan datang lalu hujan. Meski begitu, dengan sepeda Polygon, aku nekat keluar meninggalkan rumah. Rumah yang kurasakan lebih mirip loteng angker karena sepinya menyayat. Sebuah loteng yang menurutku hanya pantas dihuni jin, peri dan makhluk gentayangan lainnya.

Aku pergi dari rumah, berarti aku meninggalkan rutinitasku, jadwal les yang seabrek. Sudah jadi kegiatanku setiap hari, aku disibukkan dunia macam begitu. Sebagian besar waktuku habis untuk les, les dan les. Meski masa jeda pun aku tetap harus menuruti kemauan mama melakukan itu semua. Tidak ada waktu untuk bersosialisasi, baik dengan sesama penghuni kota atau dengan alam sekitarnya.

Tentunya berbeda untuk hari ini, pasti aku tidak akan dihujani teori-teori ilmu yang menurutku membosankan.

Hatiku kini galau, memikirkan pengumuman kelulusan besok. Jangankan memikirkan nilainya, memperkirakan lulus tidaknya, aku tak mampu. Mungkin orang akan menganggap masalahku ini sepele, hingga tidak heran mereka akan mengataiku berlebihan, alay istilah remaja sekarang. Tapi bagiku tidak demikian karena sejuta kata sumpah serapah dan caci maki selalu terngiang di telingaku dan selalu menghantuiku. Belum lagi jika membayangkan tendangan kaki dan sabetan sapu lidi yang bisa mampir ke tubuhku ini. Seketika aku merinding ketakutan membayangkannya. Mamakulah yang akan melakukan semua itu. Dia lebih galak dari seekor singa betina, bahkan anjing betina.

Aku terus saja bersepeda menembus jalan pinggiran kota dan tak terasa kini telah sampai di jalan menuju ke arah Taman Balekambang.

Bagi sebagian orang, apa yang jadi alasanku melakukan pelarian ini akan dianggap mengada-ada. Menganggapku suka membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak terlalu penting. Dianggap manja. Aleman, begitu guru-guru sering bilang. Ah, guru-guru memang suka menasihati tanpa mencoba mau mengerti apa yang sebenarnya dihadapi muridnya. Bagi mereka, yang penting menasehati. Oleh itulah terkadang nasehatnya tanpa
kompromi.

Masuk pintu gerbang taman, lamunanku terhenti, aku harus membayar parkir sepedaku. Untung aku membawa uang yang kuambil dari laci toko mama tadi. Setelah menaruh sepeda, aku masuk taman, melihat situasi di dalam taman. Sebuah taman yang menurutku belum sepenuhnya jadi, belum bisa dinilai istimewa. Atau sebenarnya memang selamanya tidak akan pernah jadi istimewa? Sebuah taman yang nanggung. Sebuah taman yang tidak akan mampu membuat orang-orang berduit mau dolan ke sini. Coba lihat saja, apa yang bisa membuat mereka akan tertarik? Rusa? Di rumah mereka punya rusa yang lucu-lucu. Kolam? Di rumah mereka punya kolam yang luasnya dua kali dari kolam di taman ini. Dan tentunya kolam mereka jauh lebih indah dan bersih. Pancuran? Bahkan pancuran-pancuran yang ada di taman itu sebagian sudah macet. Lalu orang-orang yang ada  di sini? Bagi orang berduit akan menganggap orang-orang yang berkunjung ke sini adalah orang yang tidak selevel dengan mereka.

Dari sekian orang jenis begitu, papa dan mamakulah di antaranya, terutama mamaku. Yang dipikirkan setiap hari, tidak ada yang lain selain masalah materi. Otak mereka hanya berisi tentang kerja dan kerja, Semua itu untuk mendapatkan uang yang dia harapkan semakin hari semakin besar. Segala keperluan selalu diukur dengan uang. Jika segala urusan bisa diselesaikan dengan uang, mereka akan segera melakukannya. Mereka adalah para budak uang sejati.

Demikian juga yang terjadi di kehidupanku. Semuanya mereka selesaikan dengan cara praktis. Seingatku, kehidupanku seperti ini sudah kualami sejak kecil. Orang macam begini, menurutku termasuk orang yang tidak pernah mau melihat ke hati. Orang yang hanya menilai laku yang disikapkan
orang lain terhadap dirinya akan dipandang dengan cara yang sangat praktis pula dan satu-satunya alat kepraktisan yang digunakan itu adalah uang.

Mamaku juga termasuk orang yang suka menganiaya, terlebih menganiayaku. Karena menurutnya aku dilahirkan goblok, hingga mama sering mengataiku dengan kata pekok. Sikap mama menunjukkan kalau dia tidak percaya telah mempunyai anak yang isi otaknya tidak sehebat dirinya, karena mama sering mengatakan kalau sewaktu sekolah dulu, dirinya selalu masuk dalam deretan daftar sepuluh besar di sekolahnya.

Sampailah aku di dekat area kolam kecil yang di tengahnya ada sebuah patung ibu sedang duduk. Aku duduk di pinggir kolam. Kuperhatikan patung ibu itu. Kembali aku berpikir tentang mamaku. Apakah mamaku pantas disebut ibu?

Mamaku tidak pernah memberi pengertian, tapi dia suka memaksakan doktrin keras. Mamaku tidakpernah berkata lembut, tapi dia  suka berkata-kata kasar. Mamaku tidak pernah memberi motivasi, tapi dia pengecam tulen. Mamaku tidak pernah memberi hati tapi dia seorang penganiaya sejati. Jelas jauh dari ciri sosok ibu yang baik. Berbeda dengan apa yang pernah kualami di rumah temanku, Olive, sewaktu liburan semester kemarin.  Meski di lingkungan keluarga yang sangat kaya, tetapi suasana di rumahnya sangat nyaman. Sebuah rumah yang megah tapi jauh dari kesan angker. Terasa damai. Waktu itu aku heran, apa yang membedakan dengan rumahku? Kupikir sama saja dengan rumahku, baik bangunan maupun fasilitas di dalamnya.

Sekaranglah baru kusadari, apa yang jadi sebab rumah Olivia terasa nyaman. Tidak lain karena di rumah itu ada sosok ibu yang baik. Ibu yang berhati, kalau boleh aku menamainya. Tatap matanya teduh, tidak sedikitpun terpancar kemurungan di wajahnya. Serba mendamaikan. Sebuah rasa yang sama kurasakan ketika aku sedang memperhatikan sosok patung ibu ini. Bukan! Bukan berarti keseharian mama Olivia memakai kebaya. Pakaian mama Olivia tidak ubahnya dengan apa yang dipakai mamaku. Sekali lagi kukatakan, hal ini bukan masalah fi sik luarnya tapi aku  merasakan apa yang ditimbulkan dari dalam diri mereka.

Aku terus memperhatikan patung itu. Aku terhanyut, hingga tak sadar dengan waktu dan sekelilingku. Ternyata senja mulai ditelan malam. “Anginia,” sebuah panggilan terdengar.

Aku terkejut. Panggilan yang sangat lembut. Suara yang belum pernah kudengar selama ini. Kuusap air mataku yang belum sempat reda. Aku menoleh ke arah suara panggilan itu. Kulihat mamaku telah berada di dekatku.

“Mama sudah membaca suratmu. Kamu tidak usah sedih lagi. Maafkan semua kesalahan Mama ya. Ayo pulang, Nak. Mama tidak akan marah jika nilaimu besok kurang baik. Bahkan jika kamu sampai tidak lulus pun Mama tetap tidak akan marah. Mama sadar, selama ini Mama terlalu memaksakan kehendak.”

Meski mendung tebal menggantung di awan dan senja benar-benar lenyap ditelan malam, namun bagiku tidak terasa gelap, karena tiba-tiba gulita di dalam diriku telah sirna. Akhirnya aku pulang bersama mama, meninggalkan patung ibu itu, dan tidak berselang lama hujan mulai turun.

Tinggalkan Balasan

Back to Top