Pernikahan Gopal

Sampai usianya yang sudah hampir kepala empat, Gopal masih bertahan melajang. Sebenarnya berulang kali ibunya membujuk agar ia segera  menikah. Bahkan sudah dua atau tiga kali pernah mencoba menjodohkannya dengan kerabat yang jauh dan juga anak temannya. Usaha itu tak terwujud.

Gopal tampak seperti pada pendiriannya. Menulis dan membaca buku-buku yang tak satu pun buku itu dipahami oleh ibunya.

Orang-orang di kampungnya menganggap orang semacam Gopal adalah tabu, tidak lazim. Karena itulah ia menjadi pergunjingan. Pertanyaan- pertanyaan spekulatif muncul di hati orang-orang. Ada yang berpikir ia mengalami gangguan seksual. Ada juga yang berpendapat, ia bersifat dingin dan anti wanita.

Ada yang berpikir Gopal suka melacur. Tapi ada pula yang beranggapan Gopal belum mendapatkan jodoh. Ada di antara mereka mencoba  menjodohkannya dengan seorang perempuan. Namun ini pun tidak mudah karena Gopal, entah bagaimana, membuat si perempuan jadi takut.

Pada sebuah malam, di pos ronda, Gopal mendapat serangan ramai-ramai dari tetanggatetangganya. Pada mulanya pembicaraan mereka ringan dan  penuh dengan candatawa. Tapi ketika malam mulai larut dan orang-orang di pos itu mulai berkurang jumlahnya, suasana berubah agak serius.

“Apakah arti pernikahan bagi seseorang? Mengapa setiap orang berpikir, menikah adalah sebuah keniscayaan?”

“Lha, supaya bisa berkembang biak!” jawab seseorang.

Mendengar itu, Gopal tersenyum. Lalu katanya, “Tidak usah menikah juga bisa berkembang biak.”

“Tidak halal!” yang lain mencoba menanggapi. Sahut orang itu membuatnya tertawa. “Cinta!” yang lain ikut angkat bicara. “Karena cinta!” Ungkapan itu malah membuatnya terpingkal-pingkal.

“Astaga! Apakah kau tak pernah jatuh cinta?” Orang-orang tak mengerti kenapa itu membuatnya tertawa.

Setelah tawanya reda, Gopal berkata, “Cinta itu satu hal dan pernikahan adalah hal lain. Tak harus berkaitan.”

“Kau akan banyak melakukan dosa.”

“Cobalah kau tak berpikir tentang dosa dan pahala”

“Bagaimana dunia jadinya?”

“Tak jadi soal. Manusia tetap harus berbuat baik dan meninggalkan yang jahat. Apapun bentuknya.”

“Bagaimana bisa?”

“Kenapa tidak?”

“Baik. Taruhlah begitu. Bagaimana dengan zina?”

Sekali lagi ia tertawa. Rupanya dalam diskusi ia senang tertawa. “Jangan naif. Kalau kau tak berpikir soal agama, zina takkan ada. Begitu aturannya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku juga.”

“Iya. Membingungkan sekali.”

“Begini,” Gopal mengubah sikap duduknya seolah apa yang hendak dikatakannya suatu yang maha penting dan karena itu harus dengan posisi duduk tertentu. “Berpikirlah bahwa melakukan persetubuhan tanpa dasar cinta adalah kejahatan. Karena itu tidak boleh berbuat begitu. Harus suka-sama suka.”

Sekarang mereka yang tertawa. “Siapa yang membuat aturan begitu?” tanya salah seorang dari mereka.

“Alam,” jawab Gopal cepat.

“Kamu gila!”

“Tepat!” sekali lagi, ia menyahut dengan cepat. Hal ini membuat orang-orang yang masih bertahan di pos ronda itu heran bercampur kaget. Tapi ia  segera melanjutkan. “Seharusnya dunia ini dihuni oleh orang-orang gila.”

“Kalau begitu menikahlah!”

“Sudah kubilang, untuk apa?”

“Untuk mencetak orang-orang gila sepertimu!” seusai berkata begitu orang yang mengatakan kalimat tadi itu berdiri, menguap lalu meninggalkan pos ronda.

Setengah berteriak, Gopal berkata, “Hoi! Apa kau tidak tahu. Dua hal yang kubenci di dunia ini: Cermin dan persenggamaan?!”

Ucapan itu sama sekali tidak dimengerti beberapa orang yang masih tinggal. Tapi anehnya, mereka semua tertawa.

Gopal duduk di tepi pantai. Ada banyak perahu nelayan di sekitarnya. Tak ada yang tahu kenapa ia datang ke sana.

Hidup Gopal memang sering terlihat tidak jelas, tak bertujuan. Kadang ia pergi sendiri ke gunung, kadang duduk berlama-lama di pinggir kali yang membelah kampungnya. Bila ditanya tetangga atau temannya, Gopal menjawab dengan racauan yang tak dapat mereka mengerti. lnilah kenapa orang-orang menganggapnya setengah gila. Tapi dari ketidakjelasannya itu, siapa sangka, telah melahirkan tulisan-tulisan yang hebat dan membuat namanya sering muncul di koran. Hal ini, tak seorang pun di kampungnya yang tahu, termasuk juga ibunya.

Sudah sekitar dua jam ia di sana. Menikmati debur ombak, menikmati hembusan angin, menikmati para nelayan melakukan pekerjaannya. Apakah ia akan menulis tentang laut dan nelayan?

Tapi langit mulai berubah warna. Gagasan berkelebatan di otaknya. Dan ia masih saja bergeming. Belum juga mengambil kertas dan pena untuk menulisnya. Tidak. Ia tak pernah melakukan itu. Ia baru akan menulis setelah pulang dan berada dalam biliknya yang kecil dan selalu berantakan
oleh buku dan kertas yang berserakan di hampir setiap sudut ruangan. Ia masih tenang duduk di atas pasir.

“Saat kau berada di tengah lautan, apa yang kau lakukan seandainya seekor paus tiba-tiba hendak menelanmu?” semula ia tak mendengarnya suara itu memang begitu lembut, nyaris seperti bisikan tapi ketika terdengar untuk yang kedua kalinya, ia tergeragap dan baru sadar seseorang ada di sampingnya.

“Astaga! Siapa Anda?”

Orang itu hanya tersenyum. Ia dapat melihatnya. Senyum itu sungguh indah dan ini untuk kali pertama ia melihat senyum seindah itu. Mungkin ia sedang terbawa suasana. Mungkin juga karena senyum itu cocok benar terbit dari wajah orang itu. Ini membuatnya memperhatikan lebih teliti lagi pada orang itu. Dan, tahulah ia orang yang sekarang berada di sampingnya adalah seorang perempuan.

“Ayolah, jawab pertanyaan saya tadi?” Tatapan mata perempuan itu serupa anak panah yang melesat secepat kilat dan menancap di jantung Gopal. Tepat di jantungnya.

Gopal meminta agar perempuan itu mengulangi pertanyaannya. Dan untuk kali ketiga perempuan itu mengulang pertanyaannya.

“Paus itu akan aku bunuh,” jawab Gopal.

Perempuan itu kelihatan kaget. Tapi ia bertanya lagi. “Bagaimana caranya?”

“Bagaimanapun caranya, paus itu akan aku bunuh.”

“Kau laki-laki yang tangguh. Kamulah yang aku cari. Maukah kau menikah denganku?”

Kali ini ucapan perempuan itu serupa kilat yang melecut batinnya. Baru kali ini ia menemui perempuan aneh. Rupanya ada juga orang aneh selain dirinya. Dan keadaan ini telah membuat aliran darahnya terasa mendadak terhenti. Ya, jantungnya sudah telanjur koyak oleh anak panah yang melesat dari mata perempuan itu. Maka, seperti dalam pengaruh sihir, kepalanya mengangguk. Tanpa diduga, perempuan itu memeluknya dan seribu satu ciumnya mendarat di wajah Gopal.

Lalu mereka berjalan memunggungi laut, meninggalkan jejak di pasir pantai. Ada suka cita yang berlebih di hati si perempuan. Sementara, Gopal  masih belum bisa mengerti apa yang sedang ia alami.

Kabar pernikahan Gopal segera menyebar ke segala penjuru kampung. Kabar ini serupa petir di siang bolong. Selain karena mereka telanjur tahu kalau Gopal ingin membujang seumur hidupnya, mereka belum pernah melihat satu kalipun Gopal berjalan dengan seorang perempuan. Sehingga, banyak orang bertanya-tanya, “Dengan siapa?”, “Perempuan mana?”, “Anak siapa?”, “Cantik tidak, ya?”.

Tapi tidak sedikit pula di antara mereka yang mencibirnya, “Huuuu… ternyata!”, “Dasar gombal!” Dan, ada juga yang menyambut kabar pernikahan Gopal dengan gembira dan penuh suka-cita. Namun perempuan yang paling berbahagia di kampung itu adalah ibu Gopal.

Di antara gunjingan dan per tanyaanpertanyaan yang sela lu bersifat spekulatif itu, sembari menunggu hari yang menentukan, Gopal memendam resah yang mengumpalgumpal di dalam dadanya. Dan, ketika hari pernikahan itu kian dekat sehingga tinggal sehari lagi, di dalam biliknya yang kecil dan tak pernah rapi itu, Gopal meringkuk di pojok ruang sembari mulutnya mengulang-ulang kalimat: “Pernikahan. Bencanakah atau kebahagiaan, bencanakah atau kebahagiaan?”

Tinggalkan Balasan

Back to Top