Pemburu Anjing

Ketenangan desa mendadak pecah. Semua itu bermula sejak kematian anjing milik warga yang terjadi tiba-tiba. Semula warga menganggap itu hanya kejadian biasa. Namun melihat kondisi mayat anjing tersebut membuat mereka berpikir lain.

Sebagian warga tampak ketakutan. Sebagian lagi menyimpan geram. Ingin rasanya mereka menghajar sosok misterius yang  meneror desa. Namun apa daya, warga tak bisa berbuat banyak. Ketakutan jauh lebih kuat menjajah nyali mereka.

“Pelakunya pasti seseorang yang tengah menjalani ritual ilmu hitam,” ujar Mbah Rejo. Ia adalah tetua desa yang cukup disegani. Keyakinannya kuat karena melihat kondisi mayat anjing yang dibantai secara tidak wajar.

“Aku sependapat dengan Mbah Rejo. Tak mungkin pelakunya orang biasa. Ia pasti seorang berdarah dingin dan sangat kejam,”  sambung Jaka. Sepengetahuannya, yang kerap terjadi selama ini adalah kasus pencurian anjing, bukan pembantaian.

Adapun yang melatarbelakangi pencurian anjing saat itu adalah faktor ekonomi. Anjing dihargai Rp300.000-Rp400.000. Wajar jika banyak pencuri yang mengincar anjing. Apalagi warga yang kehilangan anjing jarang melaporkan kasusnya ke polisi. Hal itulah yang membuat pelaku leluasa menjalankan aksinya. Di samping itu, daging hasil curian mudah dijual karena banyak warung makan yang menyediakan menu makanan dari daging anjing: mulai dari sate hingga rica-rica anjing.

Hanya, kasus kali ini benarbenar berbeda!

Belum juga warga bisa bernapas tenang, kegemparan kembali terjadi. Kali ini menimpa anjing milik Banu. Kematiannya sangat
tragis. Lehernya koyak hampir putus. Matanya terlihat melotot. Sepertinya anjing itu mengalami penyiksaan luar biasa sebelum
mengembuskan napas terakhirnya. Dan yang lebih mengejutkan, isi perut anjing tersebut terburai. Darah berceceran memerahi
tanah di sekitarnya.

Satu hal yang paling membuat warga bergidik ketakutan: bagian jantung anjing malang itu lenyap! Sama dengan kondisi mayat anjing yang ditemukan sebelumnya.

Banu yang malam itu berada di rumah memberi kesaksian yang sama dengan warga yang mengalami kejadian serupa. Ia tak mendengar anjingnya menggonggong malam itu. Hal ini tak wajar mengingat anjing memiliki daya penciuman hingga radius 1-5 kilometer jauhnya.

Kejadian misterius tersebut membuat warga semakin yakin sosok yang meneror desa bukan orang sembarangan. Mereka kian yakin pelakunya adalah orang sakti yang tengah melakoni ritual untuk menyempurnakan kesaktiannya.

“Benar-benar tidak memiliki belas kasih pada binatang,” ujar Pak Dani sambil menggelenggelengkan kepala seusai menyaksikan
mayat anjing milik Banu. Ia nampak terpukul. Beberapa warga memakluminya.

Pak Dani adalah seorang penjual daging di pasar. Duda berambut keriting yang tinggal sendirian itu sehari-harinya dikenal ramah. Istri dan anaknya meninggal karena penyakit misterius. Ia dikenal sangat dermawan, terutama pada anjing. Tak jarang ia  memberikan sisa daging kepada anjing yang lewat di depan rumahnya. Warga berpikir ia pasti sedih dengan kejadian yang meneror desa belakangan ini.

Mayoritas penduduk desa memiliki anjing. Hanya beberapa warga yang tidak memiliki anjing, termasuk Pak Dani. Dulu, Pak Dani tidak menyukai anjing. Itulah kenapa ia tidak memelihara anjing. Namun istri dan anak Pak Dani yang masih berusia belasan  tahun sangat menyayangi anjing.

Keadaan berubah sejak kematian istri dan anak Pak Dani beberapa tahun silam. Sejak saat itu ia mulai menyukai anjing. Bahkan
ia sering membagikan sisa daging yang dijualnya di pasar untuk makan anjing yang kebetulan lewat di depan rumahnya. Warga beranggapan mungkin dengan cara itu ia mengobati kerinduannya pada anak-istrinya.

Kasus pembantaian anjing yang meresahkan warga pun menjadi perbincangan serius. Beberapa warga berkumpul untuk  menanggulangi ancaman teror yang dari hari ke hari kian meresahkan.

“Poskamling di desa kita harus kembali digalakkan. Sudah lama kita tidak menghidupkan kegiatan ronda,” ujar Burhan berapi-api
saat memimpin rapat darurat. Burhan adalah seorang kepala desa.

Poskamling pun mulai digalakkan. Pemuda-pemuda mulai diberdayakan untuk kegiatan ronda. Selain itu, beberapa ruas jalan yang gelap saat malam hari mulai dipasang lampu. Hal itu tidak lain untuk mempersempit ruang gerak pelaku.

Hari demi hari. Pekan demi pekan. Tak ada kejadian aneh yang terjadi. Kegiatan poskamling pun mulai mengendur. Warga beranggapan pelaku mulai jera. Bahkan mereka menduga pelaku mengalihkan sasarannya ke desa lain.

Aku telah bertekad akan menghabisi nyawa anjing-anjing di desa ini. Aku akan mengambil setiap jantung anjing agar mereka tahu bagaimana sakitnya perasaanku kehilangan jantung hati. Mereka telah menebarkan virus yang tak pernah dikenali. Aku tak peduli. Semua anjing milik warga harus mati. Mereka harus membayar sunyi yang harus kukecap setiap hari.

Beruntung aku menemukan cara membuat ramuan untuk membuat anjing-anjing tak berkutik. Dengan begitu aku lebih mudah menjadi algojo bagi binatang keparat itu. Seluruh warga yang tolol itu takkan pernah tahu siapa pelakunya. Aku hanya tertawa  dalam hati saat tetua desa menyimpulkan kejadian ini sebagai ritual ilmu hitam.

“Malam ini aku akan menikam anjing milik Burhan!”

Tinggalkan Balasan

Back to Top