Jalan Rusak

Jalan itu memang sudah rusak parah. Di berbagai tempat banyak lubang menganga yang dalamnya lebih dari 10 cm. Media telah sering memuat berita perihal jalan itu, plus korban yang berjatuhan karena terperosok ke lubang maut itu.

Pagi itu ada surat pembaca di media yang protes tentang jalan rusak. Segera kutelepon wartawan media. ”Mas, pemerintah memang akan memperbaiki jalan kabupaten itu, tetapi menunggu musim hujan usai. Kalau diperbaiki sekarang percuma,” ujarku menjelaskan.

Ya, aku merupakan pejabat yang mengelola jalan. Tetapi masyarakat tetap tidak terima. ”Pokoknya harus diperbaiki sekarang!” protesnya. Aku tersenyum tipis. Apakah mereka tidak tahu tentang ilmu kimia? Apakah mereka tidak tahu kalau musuh utama aspal itu air?

Harusnya masyarakat maklum. ”Mentangmentang euforia era kebebasan. Orang merasa paling benar, maunya serba cepat, serba gratis, dan minta dilayani serba enak bak raja. Lalu mudah saja menyalahkan orang lain,” gumamku. Kalau diperbaiki saat musim hujan, sebentar saja aspal pasti mengelupas. Jalan rusak lagi dan uang negara terbuang percuma.

Beberapa hari kemudian ada motor terperosok ke lubang. Tak hanya korban luka, bahkan ada yang meninggal. Hari-hari berikutnya selalu ada korban berjatuhan. Ah kalau perihal terperosok, itu salah mereka sendiri. Sudah tahu jalan rusak, seharusnya mereka hati-hati, jangan asal naik motor.

Aku dapat menghadapi persoalan jalan rusak ini dengan tenang, meski kecaman masyarakat datang bertubitubi, dan berita miring termuat di media setiap hari. Santai saja. Bukankah pejabat juga punya hak santai, sama dengan masyarakat yang lain?

Tetapi aku punya persoalan lain yang membuatku gelisah. Sudah sebulan ini aku selalu dihantui mimpi buruk. Dalam mimpiku masyarakat selalu mengejarngejarku, menuntut pertanggung jawabanku perihal jalan rusak.

Bahkan tadi malam merupakan mimpiku paling buruk. Aku dihadapkan di sidang mahkamah pengadilan HAM. Dituduh sebagai penjahat kemanusiaan yang telah membunuh belasan nyawa karena terperosok ke jalan maut.

Kuamati satu persatu dengan teliti, mulai dari hakim, jaksa, hingga saksisaksi.Hahh! Aku terperanjat. Ternyata  mereka semua adalah orang-orang yang sudah meninggal dunia karena terperosok ke jalan berlubang beberapa saat lalu.

Tuntutan jaksa sangat berat. Jaksa menuntutku hukuman 150 tahun penjara, karena aku dituduh melakukan pembiaran sehingga membuat puluhan korban berjatuhan. Hakim juga memberikan pertanyaan yang menyudutkanku.

”Betulkah saudara melakukan pembunuhan terhadap belasan orang?” tanya hakim. Tentu saja dakwaan ini kutolak.

”Tidak benar Pak. Semua ini dipolitisasi. Bukankah sebentar lagi akan ada Pilkada?” jawabku menyanggah.

”Selain itu, bukankah ruas jalan itu memang wingit? Dalam keadaan mulus pun sering terjadi kecelakaan. Kalau orang hatinya suci, pasti aman lewat jalan itu,” aku melanjutkan. Tetapi rupanya para saksi memberikan kesaksian yang memberatkan.

”Saya mati karena kesalahan Bapak itu,” katanya sambil menunjuk ke arahku.”Akibatnya keluarga saya menderita. Tidak  ada lagi yang bisa mencari nafkah. Padahal anak saya masih kecil-kecil dan butuh biaya sekolah,” lanjutnya.

”Saudara terdakwa berdusta. Kufur! Sebagai pejabat seharusnya mau berkorban untuk rakyat kecil, bukan malah mencelakakan.
Dimana hati nurani saudara melihat para janda dan anak kecil menangis sedih?!” kata seorang saksi berusia sepuh, yang sudah meninggal beberapa hari lalu karena terpelanting di jalan berlubang.

”Sebagai pimpinan, seharusnya saudara menutup lubang menganga itu pada kesempatan pertama. Jika belum selesai, saudara harus tidur dan berkemah di dekat lubang itu sampai jalan kembali mulus lagi,” lanjut mbah sepuh itu.

Tuntutan yang ditimpakan kepadaku terlalu berat. Tentu saja aku melawan. ”Para koruptor yang merampok uang negara puluhan miliar rupiah hanya dihukum empat bulan penjara, masak aku yang hanya karena jalan rusak saja dituntut hukuman 150 tahun?”  kataku protes keras.

Menghadapi aparat penegak hukum dan kesaksian yang menyudutkan itu, aku harus mencari celah agar bisa lolos dari jerat hukum. Kata orang, hukum di negeri ini dapat dibeli. Akhirnya kusuap satu per satu penegak hukum itu.

Dari mana uangnya? Tenang saja. Biasanya aku minta jatah beberapa persen dari pemenang tender setiap kali ada proyek jalan. Itung-itung itu sebagai tabungan risiko jabatan. Kalau tidak kena kasus, anggaplah itu sebagai bonus. Tetapi kalau tersangkut kasus, itu merupakan ongkos untuk menyelesaikan masalah hukum.

Rupanya penegak hukum yang idealis itu menolak melakukan konspirasi nista yang tidak sesuai dengan hati nurani. Persidangan tetap dilanjutkan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Akhirnya hakim memvonis 150 tahun penjara, tepat sesuai tuntutan.

Tubuhku lemas mendengarnya. Hukuman seberat itu tidak masuk akal. Kalau itu kujalani, kelak jasadku pun pasti bakal dikubur di penjara. Tiba-tiba mak gragap! Setengah kaget aku terbangun. ”Oh ternyata ini hanya mimpi. Mimpi itu hanyalah bunga tidur,” ujarku lega.

Aku beruntung. Tidak akan ada masalah serius. Bukankah selama ini korban yang meninggal hanyalah rakyat kecil? Bukankah rakyat kecil tidak akan berani menggugat pejabat teras? Kalaupun ada segelintir yang berani, pasti sebentar kemudian perjuangannya kandas.

Setelah membasuh muka, aku segera ke ruang tamu. Kuambil koran pagi. Kubaca head line halaman pertama. Hah! Aku kaget setengah mati. Ada berita penting dengan tulisan menyolok. ”Bapak kepala daerah tadi malam meninggal karena mobilnya terperosok di jalan rusak, lantas tercebur jurang,” bunyi tulisan itu lengkap dengan fotonya.

Aku gemetaran. Wajahku pucat. Kalau rakyat kecil mati karena terperosok dijalan rusak, itu tidak jadi persoalan. Tetapi kalau  rakyat besar terperosok, pasti menjadi masalah besar. Bukankah para pembesar dan orang berduit banyak yang membela di negeri ini?

Apa yang kutakutkan ternyata menjadi kenyataan. Beberapa saat kemudian empat polisi menangkapku, dengan tuduhan aku telah membunuh kepala daerah. ”Mulai hari ini saudara kami jebloskan ke tahanan,” katanya.

Ah ternyata mimpi itu bukan lagi bunga tidur, tetapi telah menjelma menjadi hantu nyata yang menakutkan.

Tinggalkan Balasan

Back to Top