Amplop Merah Nenek

Kabar yang tak kuduga datang tanpa disangka-sangka. Matahari bahkan belum keluar dari haribaannya. Namun, kabar  meninggalnya nenek sudah sampai di telinga keluargaku. Padahal baru kemarin sore aku dan ayah berpamitan untuk kembali pulang ke rumah. Rasa sedih, duka, dan bahagia muncul menjadi satu. Rasa sedih dan duka harus ku rasakan karena harus kehilangan nenek yang menyayangiku. Sementara rasa bahagia datang karena aku sudah tidak perlu melihat penderitaan nenek yang harus operasi berulang kali untuk menghilangkan rasa sakit di kakinya.

Upacara pemakaman nenek dimulai setelah salat Jumat. Satu persatu orang yang kenal dengan nenek maupun keturunannya  datang mengucapkan bela sungkawa. Kesedihan muncul dari setiap orang yang datang. Mereka tampak haru karena nenekku merupakan salah satu orang yang dituakan di kampung. Usianya lebih dari 100 tahun. Setelah semua acara selesai nenek  dimakamkan tak jauh dari rumah.

Anak, cucu, bahkan cicit semua berkumpul di rumah setelah upacara pemakaman selesai. Rasa kehilangan itu semakin terasa ketika adik ayah menangisi kepergian nenek. Kami berusaha untuk menenangkannya. Namun, tampak sia-sia saja usaha kami.
Adik ayah justru menangis semakin keras dan akhirnya pingsan.

Matahari semakin condong ke barat. Aku meminta izin kepada ayah untuk kembali ke rumah untuk membersihkan badan bersama adik. Sekalian juga aku ingin mengambilkan baju ganti untuk ayah dan bundaku. Ayah pun mengizinkanku pulang. Namun, sebelum pulang aku berpamitan kepada sepupuku, orang yang selama ini tinggal dekat dengan nenek. Alangkah terkejutnya aku
mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.

“Kenapa kok pulang? Tidak bantuin buka dulu amplopnya?”

Bagai petir di siang bolong, ucapan itu telah menampar wajah danhatiku. Aku sadar jika selama  ini aku sekeluarga tidak tinggal
bersama dan tidak merawat nenek setiap hari. Akan tetapi, kami selalu berusaha meluangkan waktu untuk menjenguk nenek
meskipun hanya satu jam. Aku hanya bisa diam dan menahan amarah di dalam dada. Di sepanjang perjalanan pulang aku  menangis. Setiap ditanya adik, aku hanya menjawab,”Kakak tidak apa-apa.”

Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Sekembalinya aku, sepupuku masih saja membahas masalah amplop. Aku berusaha
untuk menahan segala rasa amarah. Namun, rasa itu sudah tidak bisa kubendung lagi. Benteng kesabaranku roboh sudah. Sambil
beruraian air mata aku bicara.

“Ayah atau pun keluarga yang lain tak mengambil satu sen pun uang dalam amplop merah nenek. Semua perlengkapan untuk upacara dibiayai ayah dan tante. Uang yang didapat dari kotak semua diberikan ke masjid. Biar uang itu menjadi amal nenek dan orang yang memberi.”

“Kami sadar bukan anak dan cucu yang baik untuk nenek dan kakek. Mungkin selama ini kalian orang yang merawat nenek semenjak kakek pergi menghadap Tuhan. Namun, apa pantas Mbak berbicara seperti itu?” ucapku dengan berlinangan air mata.

“Aku…”

“Aku tak tahu apa-apa soal amplop merah nenek. Aku hanya ingin pamitan pulang sebentar untuk bersih-bersih. Tapi apa yang aku dapat. Bukan nasihat untuk hatihati agar selamat, tapi cacian yang begitu menyayat.”

Semua orang tampak diam melihat emosiku yang meluap bagai tsunami. Aku yang biasanya diam seribu bahasa, kali ini bicara tiada henti tanpa koma. Aku sudah tak peduli dengan keadaan yang ada. Aku hanya ingin mengeluarkan apa yang kurasakan di hati. Rasa sakit, sedih, kesal, dan kecewa pastinya.

“Tanah kuburan nenek belum kering. Baru beberapa jam nenek masuk ke liang lahat, tapi kenapa?” aku tak melanjutkan ucapanku
karena air mata mengalir deras di pipiku.

“Aku tahu, Mbak lebih paham soal agama dari aku atau pun keluargaku. Namun, Mbak jangan merasa benar sendiri. Kita manusia
yang tak luput dari dosa. Pasti kita pernah menyakiti dan disakiti. Jadi, Mbak jangan pernah merasa seperti malaikat yang dijamin diampuni dosanya dan bisa masuk surga. Karena kata maaf itu sulit untuk didapat.”

“Kalau Mbak tidak setuju dengan keluarga memasang kotak di depan ngomong dari awal. Jangan bicara ketika nasi sudah jadi bubur. Terlambat.”

Kata itu yang terucap terakhir kali dari mulutku sebelum aku pergi untuk tak kembali. Rasa sakit yang ada di hati membuat kata maaf sangat sulit kuberikan kepada sepupuku. Sampai sekarang rasa sakit itu masih membekas begitu dalam di hati meskipun  hampir dua tahun nenek meninggalkanku. Mungkin orang yang menyakitiku sudah tidak peduli dengan semua itu. Namun aku, orang yang disakiti, masih merasakan. Bahkan setiap kata yang terucap dari mulutnya masih terdengar jelas di telingaku.

Tinggalkan Balasan

Back to Top