Bau Sampah

”Ih, sampahnya bau. Anjani, kita tunggu saja tukang sampah itu sampai berhenti di bagian barat rumah. Nanti kita bisa lewat bagian timur,” kata Fiza pada sepupunya yang bernama Anjani, sebelum mereka berangkat ke sekolah.

Bersamaan dengan itu, lewatlah tukang sampah bernama Pak Udin dengan gerobaknya dari arah timur. Tak sampai tiga menit kemudian Pak Udin berhenti di depan rumah Fiza di bagian barat.

”Ayo Anjani, kita langsung lari saja, biar tidak kena baunya,” kata Fiza tak berapa lama kemudian sambil memencet hidungnya.

”Ayo lari…”

Ibu Fiza yang melihat tingkah mereka dari dalam rumah hanya tersenyum sambil menggelenggelengkan kepala.

Setiap berangkat sekolah, mereka memang selalu berpapasan dengan Pak Udin, tetangga dari kampung sebelah yang berprofesi sebagai tukang pijat, sekaligus tukang sampah di pagi hari. Sebenarnya dulu Pak Udin sempat membuang sampah di waktu sore hari. Tapi karena banyak anak-anak yang protes, dengan alasan waktu bermain mereka menjadi terganggu, akhirnya Pak Udin membuang sampah di pagi hari. Kebetulan setelah itu Pak Udin juga hanya memiliki waktu luang di pagi hari.

Setelah itu Fiza, Anjani dan anakanak yang lainnya bisa bermain dengan leluasa. Tapi walaupun begitu, jadwal Pak Udin di pagi hari sebenarnya juga cukup mengganggu mereka. Karena dengan jadwal baru itulah, mereka harus rela menunggu lama di depan rumah agar tidak berpapasan dengan gerobak sampah Pak Udin yang bau.

”Bu, sampah di depan kita sudah menumpuk. Apakah Pak Udin sudah tidak mau buang sampah lagi, ya Bu?” kata Fiza setelah
selesai mengeluarkan sampahsampah yang ada di dalam rumah, ke bagian depan rumah.

”Ibunya Pak Udin sedang sakit, Fiza. Jadi untuk sementara waktu Pak Udin tidak bisa membuang sampah. Tolong bawakan  rantang itu. Biar Ibu yang bawa tandon pisang ini,” kata Ibu sambil menunjuk sebuah rantang yang ada di atas meja.

”Kita mau ke mana Bu?”

”Ke rumahnya Pak Udin, buat jenguk Ibunya Pak Udin.”

”Ke rumah Pak Udin, Bu? Fiza tidak mau ke rumahnya Pak Udin. Rumahnya Pak Udin pasti bau sekali,” tolak Fiza.

”Fiza, Fiza tidak boleh berkata seperti itu. Kita tidak boleh membedabedakan orang lain. Semua profesi itu sama saja dan saling melengkapi. Apa jadinya kalau seluruh manusia yang ada di dunia ini bekerja sebagai dokter? Dokter tidak akan laku, banyak rumah sakit yang kosong, tidak akan ada beras karena tak ada petani. Sama halnya kalau seluruh dunia ini semuanya bekerja sebagai tukang sampah. Tidak akan ada dokter, tidak akan ada rumah sakit. Sebagai manusia, kita hidup bersosialisasi dan saling melengkapi. Bahkan dengan tidak adanya Pak Udin, kampung kita terlihat sangat kumuh sekali. Dia adalah penyelamat  lingkungan, Jadi jangan kau hina pekerjaan Pak Udin itu. Coba,beberapa hari ini Fiza betah tidak kalau bermain di depan rumah?”

Fiza menggeleng. Benar kata ibu. Walaupun beberapa hari ini Fiza bisa berangkat sekolah dengan senang, tanpa adanya gangguan dari gerobak Pak Udin yang mengangkut banyak sampah, tapi Fiza harus kesusahan untuk mencari tempat bermain saat sore hari.

Dia, Anjani dan teman-temannya yang lain tidak lagi bisa bermain di jalanan depan rumah mereka seperti biasanya, karena  sampah-sampah yang ada di depan rumah mereka sudah menumpuk hingga mengundang banyak lalat, serta bau tidak sedap.

Ibu-ibu pun juga tidak kalah ributnya. Setiap pagi setelah salat Subuh, mereka sudah mengomel panjang lebar, mengeluhkan Pak
Udin yang tak kunjung datang, sambil membersihkan sampah-sampah yang berceceran di sepanjang jalan, karena malam harinya tong-tong sampah itu biasanya diobrak-abrik oleh kucing, tikus-tikus got atau bahkan anjing. Fiza sendiri juga merasakannya karena setiap pagi dia selalu mendapat jatah untuk menyapu teras rumah, hingga jalan yang ada di depan rumah.

“Lalu kalau sudah begini, kita harus bagaimana Bu?”

“Tidak ada jalan lain selain Fiza harus menggantikan Pak Udin untuk sementara waktu,” kata Ibu sambil terkekeh-kekeh, melihat  raut muka Fiza merah padam.

“Fiza tidak mau Ibu,” protes Fiza kemudian.

“Fiza, kita butuh orang yang peduli lingkungan. Selama ini Fiza selalu meremehkan PakUdin, menjauhi Pak Udin, setiap  kali Pak Udin lewat. Tapi lihat saja sekarang, Pak Udin tidak ada satu hari saja, akibatnya seperti ini.Sampah di tiga kampung menggunung. Padahal sampah itu adalah sumber penyakit.”

“Kalau begitu, Fiza ikut Ibu. Fiza mau minta maaf karena sudah meremehkan Pak Udin. Setelah ini Fiza tidak akan mengulanginya
lagi, Bu,” kata Fiza mantab sambil meraih satu tandon pisang yang hendak dibawa Ibu.

“Biar Fiza yang membawa semuanya ya Bu,” lanjut Fiza lagi membuat Ibu tersenyum senang.

Tinggalkan Balasan

Back to Top