Kisah Ibu

Aku tak ingin menghangatkan perjalananku pagi ini dengan kenangan. Entah kenangan yang pernah terjadi tujuh atau sepuluh tahun yang lalu. Apa yang kupunyai tentang dulu terlalu pahit untuk diendapkan ingatan. Terlebih, aku juga tak ingin membebani diriku sendiri dengan pikiranku. Semisal aku nekat membiarkan otakku sibuk dengan kisah-kisah hidupku sebelum aku bisa mencecap panasnya Kota Batam, barangkali aku tak akan sempat berkenalan dengan bapak-bapak yang kini duduk di sebelah kananku.

Bagaimana jika kuganti pikiranku dengan hal semacam ini: aku pulang ke Wonosobo yang dingin dengan segudang oleh-oleh untuk orang tuaku? Kubayangkan, mereka bangga. Anak laki-laki semata wayangnya pulang dengan kesuksesan di tangan.
Bahkan, aku sendiri pun tak pernah tahu parameter apa yang digunakan untuk menilai kesuksesan seseorang. Kukira banyak di antara orang yang mengira seseorang sukses lantaran kecukupan harta, tetapi siapa yang tahu apa yang ada dalam hati seseorang?

Bapak dan Ibu tentu tak akan lupa saat kami sulit dulu. Bagiku sendiri, melupakan hal itu sesulit melupakan tentang Wonosobo. Barangkali juga sesulit memendam keinginan untuk pulang ke kampung halaman. Ibu meneleponku beberapa hari lalu. Katanya, Om Harjo datang ke rumah. Uang Ibu yang kukirimkan setiap bulan, ia pinjam. Dari Ibu pula aku tahu, istri Om Harjo, Tante Leni, sekarang ini memang tengah terjebak budaya hedonisme. Dari semula memang hidup mereka sudah glamor. Ya, aku masih ingat sekali, dulu saat aku dan Thomas bermain, tentu mainan Thomas lebih bagus dari yang kupunyai. Mainannya lebih mahal dari anak-anak yang lain.

Setelah perjalanan cukup panjang, aku pun menginjak Wonosobo. Udara bersih dan segar seperti hal yang tak bisa kupungkiri tentang kota kelahiranku ini. Menyusuri jalan-jalannya, seperti menapaki jejak peristiwa masa kecil. Layaknya tak ada tempat mana pun yang tak disinggahi kenangan.

“Anda ini pemuda yang melankolis,” aku ingat ucapan bapak yang duduk di sebelahku tadi setelah kusuguhi ia tentang masa kecilku yang tak seberuntung Thomas.

Mungkin ada benarnya. Aku tak menampik akan sikapku yang tak bisa beralih dari masa lalu. Untuk ini aku membenarkan pepatah, saat kecil bagai mengukir di atas batu. Akan membekas lama dan kuat.

“Sudah bolong berapa puasamu?” senyum terburai di bibir Ibu. Guyonan khas yang— setinggi apa pun nada suaranya—tak akan
pernah membuatku tersinggung.

“Alhamdulillah belum, Bu,” Ibu terdiam. Aku menekuni wajahnya yang sepuh. Amat berbeda dengan saat aku pertama kali pulang dari Batam beberapa tahun silam.

“Ibu pinjamkan tabungan Ibu untuk Om Harjo semuanya,” lirih Ibu berkata.

“Semuanya?! Untuk apa?” Mataku terbelalak.

“Kemarin Ibu bilang hanya separuh, bukan? Itu uang untuk keperluan Ibu selama Ramadan, juga untuk berlebaran nanti,” nadaku tak bisa kurendahkan lagi.

“Ibu dan Bapak masih cukup punya…”

“Tidak akan cukup untuk sampai Hari Raya,” potongku.

Mendadak wajah Om Harjo dan keluarganya berseliweran di kepalaku. Bagaimana mungkin Ibu bisa berbuat demikian kepada orang yang dulu tak pernah membaikinya? Aku tak mungkin lupa saat aku diajak Ibu ke rumah Om Harjo menjelang kelulusanku saat SMA. Thomas tentu tak akan pusing memikirkan bagaimana mendapat universitas pilihannya. Uang papanya lebih dari cukup untuk mendapatkan apa yang ia kehendaki. Tapi tidak untukku. Jika bukan karena Ibu yang memaksa, mungkin aku tak akan pernah mau lagi berhubungan dengan Om Harjo dan keluarganya.

Apa daya, kami pulang dari rumahnya dengan tangan kosong, setelah ia habishabisan mengataiku dan Ibu. Uang pinjaman tak jadi kami dapatkan, justru cacian yang terus mengandap bersama kenangan.

“Usaha Om Harjo sedang mundur, Rul. Nilai rupiah sedang jatuh,” nada pengucapan Ibu sungguh terdengar seperti guru TK mengajari anaknya.

“Ibu tak ingat apa yang pernah mereka lakukan pada kita?!”

“Tentu Ibu ingat, tetapi Ibu berusaha melupakan. Tak perlu hal semacam itudiingat-ingat.”

“Kalau begitu biarkan aku saja yang mengingatnya,” kata-kataku yang belum sempat kurampungkan, memberi dampak perubahan di wajah Ibu. Begitu dingin.

“Apa yang kau dapatkan dari puasamu jika dendam yang kamu agung-agungkan? Ibu lebih baik punya anak yang miskin tetapi punya hati nurani, daripada banyak harta tetapi menyimpan dendam pada saudara sendiri.”

Samar suara azan terdengar. Waktu berbuka tiba. Sampai pada tanda petik dua, kututup cerita. Semisal kupungkasi dengan: Akhirnya, aku bertandang ke rumah Om Harjo saat Lebaran. Kupasang senyuman termanis sebagai tanda bahwa sakit hatiku sudah hilang. Kami berbincang panjang lebar.

Ah, betapa pembaca nanti akan menilai akhir ceritaku begitu klise. Maka kugantung saja cerita ini sampai di sini. Lebih baik kurebahkan tubuh untuk berbaring sebentar. Semisal nanti, dalam mimpi aku mendapat inspirasi, barangkali cerita pendek ini akan kuikutkan dalam lomba novel yang selalu gagal kuikuti lantaran habis deadline-nya. Dan, aku tahu, jika kupaksakan mengakhiri cerita ini dengan keangkuhan dendamku, aku tak tega menempatkan Om Harjo— adik Ibu—sebagai tokoh antagonis. Untuk kalimat Ibu yang terakhir itu, aku setuju.

Tinggalkan Balasan

Back to Top