Penghargaan untuk Pohon Pisang

Suatu hari di sebuah hutan ada pesta yang meriah, pesta itu dihadiri oleh semua tanaman. Mereka saling menunjukan kelebihannya. Sebelum acara dimulai para tanaman saling berbincang-bincang, si Mawar yang cantik menyombongkan kein dahannya, si Mawar berkata, “Hai, Teman-Teman, tahu tidak? Dari semua bunga, yang paling cantik itu aku. Tidak ada yang bisa mengalahkanku. Aku itu harum, kelopakku cantik, warnakumembuat semua serangga tertarik,  kalian semua kalah sama aku.”

“Jangan bangga dulu hai, Mawar! Aku itu raja dari semuamakanan pokok, semua manusia  membutuhkan aku, kalau saja tidak ada aku, pasti semua mencariku,” kata pohon padi tak mau kalah.

“Aku dan pohon padi memang terbaik, kita berdua tak bisa ditandingi, iya kan, Pohon Padi?” kata pohon mawar.

“Iya dong, pasti,” sahut pohon padi.

“Stop-stop-stop tunggu dulu, aku juga iya. Aku punya buah yang manis, buahku banyak, setiap musim aku bisa dipanen. Mangga memaaa…ng luar biasa,” sahut pohon mangga tak mau kalah juga.

Ketika mereka bertiga saling bercerita, tiba-tiba datang sebuah pohon pisang yang sudah layu.

“Permisi…maaf, bolehkah saya bergabung bersama kalian di sini?” tanyanya. Serentak mereka bertiga menjawab, ”Hah? Enggak  salah kamu mau gabung sama kita?”

Pohon pisang menundukkan dirinya dan berkata, “Iya, bolehkah saya gabung?”

“Kamu pikir kamu punya apa? Kita itu tiga tumbuhan yang paling disukai manusia, kalau jelek seperti kamu sih mana mungkin manusia membutuhkanmu.”

Dengan suara terbata-bata si pohon Pisang menjawab, “Tap… tap…tapi…aku juga seperti kalian.”

”Jangan mimpi deh kamu. Kamu itu kan daunnnya biasa dihinggapi ulat. Ih jorok banget, terus… kadang oleh manusia kamu
sering ditebang. Kamu tidak bisa hidup lama, tidak seperti kami,” celetuk mawar angkuh.

”Iya tuh benar kata kamu, Mawar, kalau berbuah juga pisang cuma sekali, tidak seperti aku, mangga yang sering berbuah,” sahut pohon mangga ikut mengejek.

Pohon pisang akhirnya tertunduk dan diam, dia menyadari kalau ucapan tanaman lain itu benar. Dia tidak bisa mengelak.

”Kalian memang benar, aku adalah pohon yang berbuah hanya sekali dan langsung mati, daunku juga sering dihinggapi ulat daun.
Kalian benar, aku ini tak pantas bergabung dengan kalian.”

Di sela-sela perdebatan mereka, pesta pun dimulai. Pesta ini adalah perayaan penghargaan kepada tanaman yang memiliki banyak manfaat bagi lingkungan sekitar. Detik-detik dibacakan pengumuman semua tanaman tegang. Si mawar tiba-tiba dengan
sombongnya berkata, ”Pasti aku yang jadi juaranya.”

Padi membantah, ”Tidak mungkin. Yang jadi pemenang itu aku.”

”Kalian semua jangan bermimpi, pasti itu aku!” kata pohon mangga. Mereka kemudian menyindir pohon pisang.

”Yang jelas, tidak mungkin pohon pisang yang menang. Pulang saja kamu, Pisang.”

Pohon pisang tidak mengharapkanbahwa dia akan terpilih, karena  dia sadar akan dirinya dan tidak mungkin terpilih, karena tanaman yang lain lebih segalanya. Detikdetik sebelum pengumuman dibacakan, semua tanaman tegang. Mereka saling memuji dirinya. Tak ketinggalan pula si tiga tanaman yang sombong yaitu: mangga, mawar dan padi.

Pengumuman pun dibacakan,dan yang keluar sebagai juara adalah pohon pisang. Tiga tanaman  yang sombong tidak terima akan kekalahan itu, mereka menanyakan kepada juri kenapa pohon pisang bisa terpilih. Juri akhirnya menyebutkan bahwa di diri pohon pisang terdapat hal-hal yang hebat. Selagi muda daunnya dimanfaatkan untuk membungkus makanan, buahnya dikonsumsi
dan banyak mengandung vitamin, batangnya juga bisa dipergunakan, bahkan tunasnya atau bonggolnya bisa dibuat keripik. Semua bisa dimanfaatkan.

”Tapi kan dihinggapi ulat,” sero bot Mawar.

Dewan juri tegas menjawab, ”Iya, tetapi di balik semua itu, daun itu bisa untuk melindungi si ulat daun, dia jadi bisa tinggal dan tidak terganggu oleh mangsanya. Selain itu, daun yang sudah keringjuga bisa dimanfaatkan sebagai  bahan bakar pengganti kayu untuk keperluan memasak.”

Awalnya mereka bertiga tetap tidak terima dengan keputusan juri, tetapi mereka akhirnya menyadari dan meminta maaf kepada pohon pisang.

”Maafkan kami ya, kami sudah salah menilai kamu. Ternyata kamu memang tanaman hebat. Kamu baik hati, walaupun kamu dihina.”

Pohon pisang mengangguk, ”kalian itu sudah aku maafkan sejak pertama, aku tidak marah. Yang penting kalian jangan ulangi hal itu lagi. Tidak semua makhluk hi dup itu memiliki kekurangan, dibalik kekurangan ada kelebihannya juga.”

Pohon pisang memaafkan ketiga tanaman itu. Akhirnya mereka bersahabat, hidup nyaman dan subur.

Tinggalkan Balasan

Back to Top