Tukang Ojek

Cerpen :  Lagiyono

”Sudah narik, Om?” tanya seorang tukang ojek di samping Yono. ”Belum nih!” jawab Yono dengan nada lesu. Yono punya  kesibukan nyambi jadi tukang ojek bila selesai jam kantor sore hari. Dia biasanya mangkal di perempatan besar dekat kantornya. Di sana dia bergabung dengan orang sipil dan juga sejumlah rekan kantor yang mau mencari tambahan. Paling cepat dia mangkal pukul 15.30 WIB. Dia sudah mangkal satu jam lebih tapi belum satu pun penumpang menghampiri.

”Ojek Bang! Gang Haji Muhin ya!” tiba-tiba seorang anak SMP datang minta diantar dan langsung menyebut tujuannya.

“lya Dik,” jawab Yono sambil menstater kendaraan roda duanya.

Dalam benaknya Yono bersyukur, mesti bawa anak sekolah daripada tidak ada. Memang anak sekolah dengan orang biasa tarifnya berbeda. Setelah mengantar, dia balik lagi ke tempat mangkal.

”Berapa kali narik, Mas?” tanya Marno yang kebetulan orang Jawa.

”Satu kali, satu jam lebih nih, agak sepi,” jawab Yono.

”Ojek, Mbak?” Marno menawari cewek yang melintas di dekatnya.

”Tidak Bang!” jawab cewek itu. Di kawasan itu, memang pengojek cari penumpang sendiri-sendiri, artinya motor tidak diantri  seperti tempat lain. Jadi penumpang tinggal pilih, mana yang dikehendaki. Yono tidak pernah menawari orang yang lewat atau penumpang angkot yang turun di situ. Dia berprinsip ditawari kalau tidak ngojek ya tetap tidak, seperti yang sering dia lihat. Jalan Akses UI tempat Yono mangkal, adalah jalan yang ramai dan padat kendaraan. Maklum di situ jalan penghubung dari Bogor ke
Pasar Minggu atau Depok ke Kampung Rambutan dan sebaliknya.

”Pulang jam berapa, Mas?” tanya Yono untuk mencairkan suasana.

”Sehabis Maghrib atau sebelum Isyak, Mas,” jawab Marno.

”Sampai warung sunda Rp2.000 Mbak!” jawab pengojek yang tak jauh dari Yono.

”Jadi Rp1.500 tidak mau Bang?” tanya cewek yang berseragam putih hitam itu.

”Coba yang lain deh,” jawab pengojekitu, yang ternyata Bang Roji asli Betawi.  Yono melihat cewek itu sudah lima pengojek yang dihampiri tapi semua menolak. Apalagi alasannya kalau bukan ongkosnya yang kurang. Memang dari pangkalan ke tempat tujuan perempuan itu ongkosnya Rp2.000, kalau anak sekolah ya Rp1.500. Jaraknya cuma 1,2 km, tapi di kota orang-orang tidak mau repot, tidak seperti di desa Yono, orang mau berjalan berkilo-kilo.

”Pak, minta tolong antar ke gang samping Warung Sunda, Rp1.500 bisa tidak?” tanya cewek itu.

”Segitu, Mbak?” Yono balik bertanya.

”Iya Pak!” jawab perempuan itu.

”Ya sudah, tidak apa-apa!” jawab Yono.

”Terima kasih banget Pak!” kata gadis itu kegirangan sambil membonceng di belakang Yono.

“Mantab! Mantab!” begitu teriak pengojek yang tadi menolaknya, setelah melihat Yono mau mengantar cewek itu. Ada yang tepuk tangan, ada yang mengacungkan jempol ke arah Yono.

Bukan karena penumpang cewek, Yono mau mengantar dengan ongkos segitu. Dia menyadari yang berseragam putih hitam biasanya masa training, sehingga ada yang dapat ongkos transport ada yang tidak dapat, lagipula Yono sudahpunya pekerjaan  tetap, sedangkan pengojek hanyalah sambilan.

”Kerja di mana Mbak?” Yono membuka dialognya.

”Di kawasan Cimanggis Pak!”

”Training sudah berapa bulan Mbak?”

”Baru tiga pekan, Pak!” jawab penumpangnya itu.

Setelah hampir 15 menit menyusuri jalan akhirnya hampir tiba tujuan.

”Lha itu warungnya Pak, saya berhenti di gang sampingnya!”

”Ya Mbak!” jawab Yono sambil menepikan motornya.

”Saya berterima kasih banyak Pak, sudah mau mengantar, moga-moga lancar ya Pak!”

”Sama-sama Mbak, moga-moga diterima kerja,” jawab Yono sambil menerima ongkos dan balik ke pangkalan.

Yono menerima ongkos Rp1.500 dengan suka cita, meskipun hidup di Jakarta, uang segitu di tahun 2006 hanya dapat segelas es teh. Baru berjalan beberapa meter, seorang ibu menghentikan laju motornya.

”Perempatan ya, Pak,” kata ibu itu.

”Ya, Bu!” jawab Yono sambil menjalankan motornya.

Ibu itu tahu kalau yang dihentikan adalah pengojek, karena melihat penampilannya yang berjaket, kusam lagi. Semua pengojek pakai jaket, yang kebanyakan kusam dan helm juga kusam karena terkena terik matahari. Yono tahu, yang dimaksud perempatan adalah tempat dia mangkal. Memang di situ perempatan besar, orang biasa menyebutnya perempatan Guna Dharma atau  perempatan Kelapa Dua.

”Terima kasih Bu!” kata Yono. Belum sempat Yono menstandarkan motornya, seorang lelaki menghampirinya, ”RTM ya Mas!” pinta bapak itu.

”Ya Pak!” jawab Yono sambil menjalankan motornya menuju tempat penumpangnya.

”Di gang yang ada ibu berdiri itu berhenti Mas.”

”Ya Pak!”

”Ini kembaliannya ambil,” kata bapak itu sambil menyerahkan uang dan berlalu.

”Terima kasih banyak Pak!” sambut Yono gembira.

”Bang, saya diantar ke Cimanggis Mall ya!” kata wanita muda itu, ternyata nungguojek, pas Yono turunkan penumpang di  situ dan wanita itu naik.

”Ya Mbak!” jawab Yono, setelah penumpang naik langsung menuju ke tempat tujuan.

”Terima kasih Bang, kembaliannya ambil!”

”Terima kasih banyak Mbak!” Yono kemudian meninggalkan wanita itu.

”Ojek…. ojek Bang!” Yono mendengar suara perempuan memanggil ojek dan dilihatnya lewat spion, ternyata benar, seorang ibu melambaikan tangan, dan Yono berhenti, lalu ibu itu menghampirinya.

”Minta tolong antar ke Perum Kalisari Mas, bisa?”

”Bisa Bu, mari,” Yono mengantarpenumpangnya dengan perasaan senang.  Setelah dia mengantar cewek yang berseragam putih hitam tadi, penumpang datang silih berganti menghampirinya.Padahal sebelumnya satu jam lebih tidak  dapat penumpang dan hampir putus asa. Entah berapa banyak penumpang yang sudah merasakan jok belakang motornya sore itu. Setelah maghrib ia
standby di pangkalan dan sudah agak sepi penumpang.

Dia merogoh saku jaket kusamnya dan menghitung uang yang dia dapat. ”Alhamdulillah ya Allah,” ucap Yono lirih. Dia tidak percaya sore itu dia mendapatkan uang hampir Rp50.000, uang yang besar untuk kerjaan sambilan. Biasanya kalau sore mangkal tiga sampai empat jam paling dapat Rp15.000-Rp25.000-an.

Yono memang menjalani sambilan di waktu luang, dia tidak mau dan tidak gengsi meskipun ada sejumlah rekan yang memandang sebelah mata.”Ini Jakarta Bung! Kalau loe gengsi mau makan apa?”Begitulah mungkin kata-kata bijak yang tepat mengungkapkan.

Tinggalkan Balasan

Back to Top