Ratu Kecoak

”Si Ratu Kecoak datang tuh!” Seluruh kelas memperhatikan. Hanan memegang tasnya erat-erat, takut lepas dari punggungnya. Ia
memperhatikan sekeliling, pandangan teman-temannya sungguh sangat tidak menyenangkan. Ledekanledekan itu membuatnya kehilangan kata-kata. Semua bermula dari tiga hari yang lalu saat beberapa temannya ke rumah Hanan.”Nan, PR-mu sudah selesai
kan?” tanya Lika.

”Aku belum, habis susah sekali. Bisa kamu mengajari kami Nan?” pinta Raski.

”Iya Nan, tolong ajarin kami dong. Kamu kan yang paling pintar di kelas kita,” Wanda juga memohon.

”Baiklah, aku akan bantu kalian semua,” Hanan menyetujui permintaan ketiga temannya. ”Sebentar ya, aku ambil buku ke kamar.”

”Kita boleh lihat kamar kamu tidak Nan?” tanya Lika antusias.

”Jangan, kalian di sini saja,” larang Hanan. Hanan kelihatan gugup.

”Kenapa?” larangan Hanan malah membuat ketiganya penasaran.

”Kamarku belum dibersihkan.”

Hanan beranjak ke kamarnya. Diam-diam ketiga temannya mengikutinya. Mereka sangat penasaran apa yang disembunyikan
Hanan, dan mengapa mereka sampai tidak boleh masuk ke kamar itu? Hanan sudah masuk ke dalam kamarnya.

Pintu kamar Hanan mereka buka lebar-lebar kemudian tanpa mereka sadari, beberapa binatang terbang ke wajah mereka. ”Apa ini?” teriak Lika sambil mengibaskan tangannya.

”Wuahhhh! Menjijikkan!” Raski melindungi wajahnya dari serangan binatang yang tidak diketahui.

”Kecooaaaak!” Wanda yang bisa melihat mereka dengan jelas, mulai berteriak sangat keras.

”Teman-teman, apa yang kalian lakukan di sini?” Hanan terkejut melihat teman-temannya sudah berada di depan pintu kamarnya.

”Hanan, apa itu kamarmu?” tanya Raski yang masih menyembunyikan wajahnya.

”Ya ampun, lihatlah itu… gunungan sampah di manamana! Sungguh kotor!” kata Lika.

”Apa kamu memelihara kecoak di kamarmu Hanan? Makanya kamu tidak mengizinkan kami masuk ke dalam,” Wanda  memberondong pertanyaan.

”Bukan begitu, Teman-Teman. Aku tidak memelihara mereka, mereka datang sendiri ke kamarku,” Hanan memberi penjelasan.

”Tentu saja mereka datang,lihat saja kamarmu itu. Seperti  tempat sampah,” tuding Lika.

”Kita pergi teman-teman. Aku tidak ingin berteman dengan Ratu Kecoak! Menjijikkan!” ucap Raski tidak suka.

”Ya kamu benar. Aku juga tidak mau berteman dengan orang yang tidak mau menjaga kebersihan,” Wanda pun menyetujui keputusan Raski.

Ketiganya meninggalkan Hanan seorang diri.

”Nak, Mama kan sudah pernah bilang padamu. Jangan malas merapikan kamar, sehingga serangga-serangga tidak akan ada yang betah tinggal,” kata Mama.

”Maafkan Hanan, Ma,” jawab Hanan menyesal.

”Kalau sudah begini, apa kamu tetap akan membiarkan kamarmu seperti itu?”

”Tidak, Hanan akan membereskannya sekarang juga.”

”Anak yang baik. Kalau begitu,Mama akan membantumu.”

”Terima kasih Ma…”

Hari itu juga Hanan kerja bakti dengan Mama membersihkan kamarnya. Tumpukan sampah yang tercecer mulai ia punguti dan masukkan ke dalam kantong plastik. Saat membersihkan kamarnya, banyak kecoak yang bersembunyi di sela-sela kumpulan sampah yang sudah lama tak dibuangnya. Ia sampai heran mengapa ia bisa begitu betah tinggal dan tidur di kamarnya. Padahal kamarnya sungguh sangat kotor, dan menjijikkan.

”Nak, sekarang kamarmu sudah rapi dan bersih. Kamu akan lebih nyaman tidur dan belajar di kamar seperti ini,” kata Mama, merasa puas dengan hasil kerja anaknya.

Beberapa hari kemudian Lika, Wanda, dan Raski kembali bermain ke rumah Hanan. Ketiganya tidaklagi duduk di ruang tamu, tapi
mereka sudah bisa bermain di kamar Hanan yang bersih dan rapi.

”Kamarmu bersih Nan,” Lika memuji.

”Iya, karena mulai sekarang aku akan merapikannya setiap hari. Supaya kecoak-kecoak tidak mau singgah ke kamar ini.”

”Ratu Kecoak sudah jadi pengusir Kecoa sekarang,” ujar Raski.

Tinggalkan Balasan

Back to Top