Ma, temanku Buta!

Manik duduk di bangku kedua, dia melihat sosok anak perempuan di samping ibu guru. Anak perempuan itu memperkenalkan dirinya di depan kelas. Namanya Kirana. Bertubuh ramping dan satu tongkat berada di genggaman tangan kanannya.

“Ya, sekarang Kirana menjadi teman kalian. Kalian harus bisa menjaga pertemanan kalian dengan Kirana. Dan sekarang Kirana duduk di sebelah Manik!” Setelah itu Ibu Nani, guru Bahasa Indonesia, menuntunnya ke kursi dekat Manik. Manik hanya melihatnya dengan tampang heran. Mata Kirana sama sekali tak memandang wajahnya. Padahal Manik ingin sekali berkenalan dengannya. “Hai, namaku Manik!” Manik mencoba memperkenalkan diri, karena dia sudah tidak sabar ingin mengenal lebih lanjut teman barunya itu.

“Hai juga, namaku Kirana!” jawab Kirana, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Manik. Manik agak sedikit kesal karena Kirana bersikap sombong kepadanya.

Kemudian mereka mengikuti pelajaran dengan keadaan diam, sampai pelajaran terakhir usai.

Setelah Salat Magrib, Manik menghampiri mamanya yang berada di ruang tengah. Seulas senyum manis dari mama meluncur
begitu saja.

“Mama!” gumam Manik sambil duduk di sebelah mama.

“Ada apa? Apa ada masalah di sekolah?” Manik melihat mata mama sesaat, lalu memeluknya.

“Ma, tadi ada anak baru di kelas Manik, dia juga menjadi teman sebangku Manik.”

“Lalu kenapa? Apa Manik tak suka pada teman baru Manik?” Manik menggeleng mendengar pertanyaan mama. Mama lagi-lagi
tersenyum.

“Lantas kenapa Manik terlihat sedih?” Kali ini Manik melihat mata mama cukup lama, terlihat jelas mata jernih itu berkaca-kaca.

“Ma, temanku buta!” kata Manik lirih, mama agak terkejut mendengarnya. Manik terisak.

“Manik tak boleh bersedih seperti itu! Sudah, jangan menangis!”

“Ma, Manik kasihan kepadanya. Manik kira dia sombong karena tak sekali pun menatap Manik saat berkenalan tadi. Tadi setelah
pulang sekolah, Manik tak sengaja melihatnya terjatuh, tapi teman-teman malah mengoloknya, Ma!” Mama tersenyum, melihat
anaknya yang sudah bisa mengerti keadaan orang lain.

“Manik menolongnya?” Manik menggeleng.

“Harusnya Manik menolongnya. Manik harus menjadi teman yang baik untuk teman Manik itu, siapa namanya?”

“Kirana, Ma!”

“Iya, Manik harus bersikap baik sama siapa saja, termasuk Kirana. Manik juga harus lebih bersyukur karena Manik diberi kesempurnaan fisik oleh Tuhan. Masih banyak teman-teman di luar sana yang tak seberuntung Manik!” Manik mengangguk.

“Dan mulai besok Manik harus bisa menerima Kirana apa adanya. Biar pun buta, dia tetaplah makhluk Tuhan yang harus kita
sayangi. Jangan pernah membeda-bedakan teman!”

“Kirana maafkan aku! Aku sudah berprasangka buruk kepadamu. Aku tak tahu kalau kamu tak bisa melihat. Maafkan aku Kirana!”
kata Manik dalam hati.

Manik dan Kirana. Mereka berdua terlihat sangat akrab. Mereka bergurau bersama di saat jam istirahat. Sangatlah menyenangkan
jika persahabatan itu dilakukan dengan hati yang tulus tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Apalagi kita tidak boleh memandang status teman kita itu. Entah dia kaya, miskin, cacat ataupun tidak. Kita harus menerimanya dengan senang hati, karena merekalah kita bisa tersenyum dan bersedih bersama. Menikmati dunia dengan kebersamaan, menjadikan kita bahagia.

Tinggalkan Balasan

Back to Top