Mengakui Kesalahan

Hari itu hari Senin. Seperti biasa, anak-anak SD Makmur Jaya mengikuti upacara bendera. Namun, jantung mereka berdebar-debar dengan kencang. Ya, karena mereka menantikan pengumuman, siapa yang akan menjadi pemenang lomba kebersihan kelas.

Rangkaian demi rangkaian acara telah dilewati.Tibalah acara pada pengumuman pemenang lomba kebersihan.Dan, pemenangnya
adalah… kelas IC! Kepala sekolah pun memberikan hadiah dan trofinya kepada pemenang. Bagaikan pusaran air yang terbawa arus sungai, barisan yang semula rapi berubah menjadi kerumunan siswa.

Kegembiraan anak-anak kelas IC selangit, mengelu-elukan hadiah dan trofi kejuaraan yang mereka menangkan. ”Hore… hore…hore IC… hidup IC!” begitulah sorak sorai mereka sambil mengacungacungkan tangan. Pemandangan seperti ini dapat disaksikan setelah upacara bendera pada setiap awal semester.

Sementara siswa-siswa kelas IC merayakan kemenangan, Iwan dan anak-anak kelas ID lainnya merasa kecewa. Dengan lesu mereka berjalan menuju kelas.

”Aku nggak habis pikir, kenapa kelas IC yang menjadi juara,” kata Andre setelah beberapa saat teman-temannya duduk membisu.
”Tak ada yang melebihi kelas kita. Mereka hanya menghias kelas dengan potpot bunga biasa. Sedangkan kita dengan susah payah menciptakan taman di dalam kelas. Lengkap pula dengan kolam mininya,” protes Andre disambut dengan anggukan teman-temannya.

”Jadi apa gunanya kita capek-capekmembuat taman, kolam, bak sampah, hiasan dinding dan sebagainya kalau hasilnya hanya
seperti ini?” tambah yang lain.

”Ah, jangan terlalu dipikirkan! Lebih baik kita santai saja, nggak ada beban mental,” Vita mencoba mengajak teman-temannya untuk tidak terlalu memikirkan kekalahan itu.

Suasana kelas menjadi semakin tidak menyenangkan. Dito sebagai ketua kelas berusaha mengantisipasi keadaan. Ia berdiri di depan kelas dan berkata, ”Temanteman semua, saya kira tak ada gunanya terus menerus menyesali keadaan. Apakah tidak lebih baik jika kita belajar dari kekalahan ini? Mencari kesalahan orang lain memang gampang. Tetapi coba kita introspeksi diri dulu. Kita memang sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, barangkali masih banyak kekurangan yang tidak kita sadari.”

Tiba-tiba saja Abu sudah berdiri di samping Dito. ”Apa yang kamu katakan itu benar, Dito. Kita memang punya taman mungil di depan kelas. Tetapi, ketika Ibu Ira mengontrol kelas kita, beliau menjumpai beberapa helai daun yang layu di sana.”

Perkataan Abu ini menyadarkan anak-anak yang lain akan kekurangan mereka.

”Iya, maafkan aku juga teman-teman. Aku terlambat menyapu kelas,” Arif yang sedari tadi diam saja, tiba-tiba membuka suara.

Belum sempat perkataan Arif itu dikomentari oleh anak-anak lain, Mahendra tiba- tiba juga mengakui kesalahannya. ”Aku juga lupa membenahi taplak meja, temanteman,” kata Mahendra menyesal.

”Aku pun lupa mengelap kaca jendela,” kali ini Santi yang bicara.

Dalam waktu sekejap saja, suasana kelas jadi ribut kembali. Kali ini karena setiap orang berlomba-lomba mengakui kesalahan
masing-masing.

”Nah, mulai sekarang kita harus berusaha membenahi diri. Kita masih punya kesempatan. Penilaian kebersihan untuk periode berikutnya akan dimulai bulan depan. Bagaimana?” tanya Dito dengan semangat yang berkobar.

”Setuju…,” jawab teman-temannya serentak.

Wajah anak-anak jelas ID yang semula tertunduk lesu pun kembali ceria dan bersemangat. Masing-masing anak telah mengakui
kesalahannya. Mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan akan berusaha keras untuk mengerjakan tugasnya masing-masing dengan penuh tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Back to Top