Proyek

Cerpen: Dendy Rudiyanta

Kang Dogar termenung di teras rumahnya. Wajahnya nglangut, dan tak tampak daya hidup yang berarti. Tatapannya hanya tertuju
pada satu titik, pohon sawo, yang persis berada di samping rumahnya.

Rumahnya besar penuh dengan pohon yang menghijau dan sejuk. Tapi, itu toh tak bisa membuat wajah Kang Dogar menjadi sejuk. Padahal kalau dilihat, rumah Kang Dogar adalah rumah yang paling bagus di antara rumah tetangganya.

Rumahnya besar, dengan perabotan interior yang mewah. Memang, Kang Dogar termasuk orang terpandang di kampung itu.  Tetangganya banyak yang memanggilnya “Si Bos Dogar”. Bisnisnya macam-macam. Kang Dogar memiliki 35 karyawan. Gaji para karyawan itu pun di atas UMR ratarata. Kebanyakan Kang Dogar mengambil karyawan untuk seabrek bisnisnya itu dari tetangga dan familinya sendiri.

“Pokoknya bagaimana caranya proyek itu harus kita dapatkan, Gar!”

Begitulah pembicaraan siang itu, di dalam kantor perusahaan kontraktor milik Mas Pramasto, teman Kang Dogar sewaktu kuliah
di Yogya dulu. Dia lulusan sarjana teknik. Sekarang punya sebuah perusahaan kontraktor yang memiliki puluhan pekerjaan proyek
dan nilai proyeknya kalau dihitung uang bisa miliaran rupiah.

Mas Pramasto memang seorang lobbying yang ulung. Koneksinya sangat luar biasa sekali. Dari yang kelas penguasa kampung  sampai ke tingkat menteri, Mas Pramasto pasti punya koneksi. Koneksi itu pun bukan hanya koneksi pertemanan biasa, tapi sudah mengarah kepada hubungan proyek.

Dan dipastikan apa yang menjadi tujuan dari hubungan dengan para pejabat itu, Mas Pramasto pasti mendapatkan hasil. Entah sebuah proyek pembangunan konstruksi, dana hibah dari pemerintah sampai program pinjaman lunak. Mas Pramasto tak ketinggalan pasti dapat jatah dari bancakan program pemerintah itu.

Mas Pramasto memang orang yang hebat, kaya raya dan mempunyai power yang kuat di lingkungan birokrat. Mungkin karena bapaknya dulu seorang pejabat kepala dinas di kabupaten setempat. Jadi, paling tidak Mas Pramasto nunut nama besar bapaknya.

Kalau dibandingkan kekayaan antara Kang Dogar dengan Mas Pramasto, Kang Dogar kalah kaya dan tidak ada apa-apanya.
Kang Dogar hanya memiliki satu mobil, rumah juga satu. Tapi kalau Mas Pramasto, rumahnya tiga, mobilnya ada lima keluaran tahun terbaru. Punya sawah berhektare-hektare.

Kang Dogar bisa memiliki usaha banyak itu juga atas bantuan modal dari Mas Pramasto, yang dulu merasa kasihan melihat Kang Dogar setelah lulus kuliah menjadi seorang penganggur. Makanya, Mas Pramasto memberikan modal usaha untuk temannya itu agar tidak menjadi sarjana pengangguran. Akhirnya, mereka berdua berhasil menjadi pengusaha yang sukses.

Tapi di siang itu, di kantornya Mas Pramasto yang ber-AC, terjadi perbincangan serius. “Tapi, aku nggak mungkin menjual rumah itu, Pram!”

“Tapi ini kesempatan kita untuk mendapatkan laba yang luar biasa, Gar!” Mas Pramasto sama tegasnya untuk menundukkan Kang Dogar.

“Ini sudah saya hitung semua.Untuk pekerjaan proyek itu, kita akan mendapatkan laba bersih Rp 10 miliar, Gar.Bayangkan, Rp 10
miliar bersih, Gar,” Mas Pramasto mengiming-imingi hasil lumayan itu kepada Kang Dogar.

“Dan pembagiannya seperti biasa, kamu 40 persen, aku 60 persen. Segala pembelian material semuanya dari toko besimu, bagaimana?” Mas Pramasto coba merayu.

“Tapi, Pram. Itu tanah milik orangtuaku, meski sekarang sudah menjadi milikku. Dan sudah aku buat lebih besar, karena aku membeli beberapa tanah yang ada di sampingnya. Aku nggak berani, Pram. Takut kuwalat sama orangtua…”

“Aaah..! Kamu itu kuno. Orangtuamu sekarang sudah tidak ada semua. Lagi pula itu proyek besar, Gar! Setelah ini kan kamu bisa beli rumah dan tanah yang lebih besar daripada rumahmu sekarang. Bagaimana? Sudahlah. Sekarang, mana surat-surat sertifikat tanahnya? Biar semuanya aku yang urus. Besok kamu harus sudah menyerahkan surat-surat itu di mejaku ini.”

Akhirnya luluh juga hati Kang Dogar mendengar penjelasan dari teman kuliahnya itu. Kang Dogar, dengan pikiran yang mendua,
meninggalkan kantor ber-AC itu. Di dalam ruangan, Mas Pramasto tertawa bangga karena tujuannya kini bisa tercapai. Dalam kebahagiaan yang tak terhingga itu, tiba-tiba terdengar suara telepon dari handphone-nya Mas Pramasto. Di seberang terdengar suara perempuan bersuara manja, yang kelihatan sedang meminta sesuatu kepada Mas Pramasto.

“Gimana Mas, jadi kan kita berlibur ke Bali?” suara itu sangat manja sekali.

“Iya, sayang. Sabar ya. Biar nanti isteri saya dulu yang saya ajak pergi ke Hong Kong, baru setelah itu kamu nanti saya ajak ke Bali. Pokoknya, kalau proyek ini berhasil, semua yang kamu minta pasti saya belikan,” Mas Pramasto menjawab malas-malasan.

“Bener lho, Mas?”

“Iya… iya. Sudah, ya,” telepon ditutup. Kembali pikiran Mas Pramasto melayang kepada uang yang bermiliar-miliar. Pikiran itu seakan membawa angan-angannya terbang ke surga seperti tak pernah terpikirkan olehnya.

Rumah Kang Dogar sudah rata dengan tanah. Alat-alat berat dan beberapa material sudah terlihat semrawut di tanah bekas rumah Kang Dogar. Puluhan pekerja dari tukang batu, tukang kayu dan pekerja yang lain sudah memberi suasana bahwa di lokasi itu bakal ada proyek raksasa.

Beberapa teknisi sipil, arsitek yang berpenampilan agak rapi, tampak sibuk membawa lembaran kertas berisi hitung-hitungan
teknis konstruksi. Mereka tampak serius bekerja. Beberapa mobil dari para investor tampak sudah diparkir di tanah lapang yang lebih bersih di samping lokasi proyek.

Mobil mereka sangat mewah. Catnya pun tampak berkilauan. Pekerjaan proyek dari Mas Pramasto memang telah terlaksana. Di toko besi punyanya Kang Dogar, juga tampak sibuk sekali. Beberapa kali armada milik toko Kang Dogar keluar-masuk gudang penyimpanan material, mengangkut bahan bangunan yang akan digunakan untuk proyek raksasa tersebut.

Tampak wajah penuh kepuasan terbesit di raut muka Kang Dogar. Begitu juga Mas Pramasto, dengan gaya yang sangat yakin, dia  memerintahkan beberapa teknisi agar bekerja sebaik-baiknya. Sesekali dia mengangkat handphoneyang setiap menit selalu berdering, menandakan ada kesibukan yang berarti dari lalu-lintas alat komunikasi tersebut.

Siang itu memang sangat sibuk, debu dan hilir mudik truk pengangkut material proyek keluar-masuk kawasan proyek. Kepulan debu yang beterbangan memenuhi langit kota, yang sebentar lagi akan berdiri pusat perbelanjaan mega spektakuler.

Terasa sepi dan lenggang kawasan yang katanya akan berdiri pusat pertokoan. Sekarang, daerah itu seperti tempat yang tak  bertuan. Semua tampak beda. Kotor, berdebu, barang-barang bekas proyek masih berhamburan tak beraturan. Pasir, batu, karung bekas semen berserakan ke mana-mana. Padahal proyek itu belum selesai.

Orang-orang, kuli bangunan, para teknisi tak tampak aktivitasnya. Yang ada hanya kelengangan yang tak ada artinya. Tiba-tiba,
datang rombongan aparat berseragam dengan mengendarai beberapa kendaraan roda empat. Ada sekitar hampir 20 aparat.

Orang-orang bertubuh tegap itu langsung membersihkan kawasan proyek. Tampak beberapa orang sedang memasang plakat tulisan yang besar di depan akses pintu masuk proyek. “Proyek ini sementara dihentikan!” Begitulah tulisan yang terpampang
dalam plakat besar tadi.”

Di kantor penyidik, Mas Pramasto tak bisa lagi menghindar dari pertanyaan petugas. Mas Pramasto terbukti melakukan tindakan
penyuapan terhadap beberapa pejabat untuk meloloskan proyeknya yang bernilai miliaran rupiah. Mas Pramasto tak bisa berkata
apa-apa, matanya berkaca-kaca, mukanya pucat.

Yang terpikir cuma nasib keluarganya dan nasib teman kuliahnya Dogar yang harus ikut menjadi korban karena tanahnya kini harus hilang. Siang itu, di depan sebuah pasar kota, Kang Dogar dengan sigap mengarahkan beberapa mobil yang antre parkir. Kini, sebuah peluit yang selalu setia melingkar di lehernya, menemani kehidupan Kang Dogar menjadi seorang juru parkir di depan pasar kota.

Tinggalkan Balasan

Back to Top