Di Antara Kalian

”Icha!!!” teriak seorang cewek di depan rumahku. Ternyata Rara, sahabatku sejak kami sama- sama di SMP. Dia tiba-tiba datang ke rumahku.

Namun anehnya, dia datang bukan dengan Mega, yang juga sahabatku. Dia datang bersama seorang cowok. Yapz! Cowok itu bernama Ino. Ino adalah pacar baru Rara. Aku terkejut bukan main. Baru sebulan lalu dia berpacaran dengan teman sekelasku,
kini Rara sudah memiliki pacar baru.

”Icha, gimana kabarmu? Aku kangen sama kamu. Lama nggak ketemu,kata Rara padaku.

”Iya, aku baik-baik aja kok,”jawabku.

”Kenalin ini Ino, dia pacarku,” katanya sambil senyum pada Ino.

”Hai, aku Ino,” sapa Ino padaku.

Wauw! Rara memang pandai memilih pacar. Ino sungguh perfect! Tampan, tinggi, berwibawa, dan senyumnya… so sweeeettt! Seandainya Ino bukan milik Rara, jujur aku tertarik. Tapi, dia kan pacar sahabatku sendiri.

Siang itu, kami bertiga ngobrol banyak hal. Tapi ternyata Ino sungguh anak yang pendiam. Memang imbang kalau dipadukan dengan Rara. Itulah Rara, cewek cerewet, namun wajah imut dan status sebagai anak dance, membuat banyak orang terpikat padanya.

Berbulan-bulan tak ada kabar dari mereka. Hingga suatu kali, HP ku berbunyi tanda SMS masuk. Ternyata yang mengirim SMS itu adalah Ino! What?!

Betapa kaget dan gembiranya aku, saat dia SMS aku. Namun, aku mengelakkan perasaanku yang kusimpan sejak aku bertemu dengannya.

”Hai, ini Icha kan? Gimana kabarnya? Masih ingat aku? Aku Ino yang dulu pernah ke rumah kamu, bales ya,” kata Ino salam SMS-nya.

Lama tak kubalas SMS darinya. Aku bingung mau membalas apa. Aku nggakmau Rara mikir macam-macam kalau sampai dia tahu Ino SMS aku. Beberapa jam kemudian.

”Cha, kok nggak dibalas sih SMS ku?” isi SMS Ino padaku.

Tanpa kupikir panjang, aku pun membalasnya. ”Maaf, Ino siapa ya?” balasku.

”Ini Ino, cowok Rara yang pernah ke rumah kamu dulu. Inget nggak?”

Dari situ, kami mulai mengobrol tanpa aku memikirkan perasaan Rara seandainya dia tahu, bahwa aku dekat dengan Ino.

Tiap hari Ino menghubungiku. Bukan hanya SMS, dia juga sering meneleponku. Hingga saat ia meneleponku, ia menceritakan hubungannya dengan Rara.

Ternyata Rara dan Ino sudah lama tidak berhubungan, atau bisa dikatakan ‘menggantung’ selama setahun. Sejak Ino pindah
keluar kota, Rara sudah tidak mempedulikannya. Nomor HP Rara sudah tidak pernah aktif lagi. Bahkan Ino pernah menanyakan Rara pada Mega, sahabat Rara. Mega bilang bahwa sebaiknya Ino melupakan Rara. Rara sudah punya pacar baru!

”Tapi apa bener? Siapa tahu aja itu cuma isu, mending kamu pastiin aja ke dia,” jawabku saat di telepon.

”Buat apa Cha, aku udah nggak mikirin itu lagi. Terserah dia aja,” kata Ino padaku.

Sejak saat itu, aku bersemangat saat Ino menghubungiku. Dia selalu memberi perhatian lebih saat dia menghubungiku. Setidaknya aku ngrasa kalau dia meresponsku. Tapi harapanku pupus, saat aku bertanya padanya.

”No, sebenarnya kamu ada maksud apa sama aku? Kenapa tiap SMS atau telepon, kamu kasih perhatian ke aku?” tanyaku lewat
SMS.

”Aku nggak ada maksud apa-apa. Aku cuma care sama kamu. Maaf kalo perhatianku kelewatan,” jawabnya.

Kupikir dia akan bilang kalo dia suka sama aku. Ternyata dia nggak bilang apaapa. Rasanya sedih, saat cewek diberi perhatian oleh cowok yang dia suka, tapi ternyata nggak ada maksud apa-apa di balik itu.

Ino memang nggak pernah ngerti perasaanku yang sebenarnya. Hingga sampai suatu hari dia mengatakan sesuatu yang tidak
kuduga.

”Cha, aku udah nggak mau lagi sama Rara. Jadi jangan bahas Rara lagi. Tahu nggak Aku sekarang sayang sama siapa?” tanyanya serius.

”Sama siapa?” tanyaku balik.

”Aku nggak tahu kenapa, aku sekarang ini sayang sama kamu. Meski kamu bilang kalo kamu beda sama Rara, aku nggak peduli. Daripada aku sayang sama orang, tapi nggak setia sama aku,” jelasnya meyakinkanku.

Dan aku nggak bisa jawab apa-apa, karena aku tahu bahwa Ino dan Rara masih punya hubungan. Meski hubungan mereka belum jelas. Dan saat aku membuka salah satu situs pertemanan milik Ino, aku melihat pesan Rara untuknya. Ternyata Rara masih mengharapkan Ino. Saat Ino kuberi tahu, Ino menyuruhku yang membalas pesan itu dengan kata-kataku sendiri.

”Kamu aja yang bales, ya? Terserah kamu mau bales apa,” kata Ino.

Akhirnya kubalas pesan Rara:

”Mau kamu sekarang apa? Kamu hilang gitu aja, kamu ingin lanjut atau gimana, itu terserah kamu sekarang!”

Sekarang aku nggak mau merasa munafik di depannya. Aku sadar aku siapa, dan aku tahu kalo aku juga merasakan apa yang Ino rasakan. Tapi aku bingung dengan ini semua. Jika aku menerima Ino, itu berarti aku harus siap dengan segala risiko. Aku harus backstreet dari Rara dengan pengkhianatanku sebagai perebut pacar sahabat, atau aku mundur dan memilih untuk menjaga persahabatanku dengan Rara meskipun Rara hanya mendekatiku saat dia butuh. Hanya Tuhan yang bisa menjawab. Jika suatu ketika aku melihat kenyataan pahit, mungkin itu jalan terbaik untukku. Namun jika itu berbuah manis, mungkin ini yang dimaksud dengan kebahagiaan tak terduga.

Tinggalkan Balasan

Back to Top