Takut Disuntik

Sore itu, hujan mengguyur desa tempat Didi tinggal. Bukannya dimanfaatkan untuk belajar atau sekadar istirahat di dalam rumah, Didi malahan
keluar rumah sambil membawa bola sepaknya.

”Didi, mau ke mana kamu?” tanya ibu.

”Aku mau main sepakbola sama kawan-kawan, Bu! Hujan-hujan begini asyik!” sahut Didi.

”Hujan-hujan begini kok malah keluar? Awas, nanti kalau sakit!” ingat ibunya.

”Ah, tenang saja, Bu. Aku kan anak kuat,” bantah Didi seraya berlari keluar.

Ibu pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah Didi itu.

Malam harinya, kepala Didi terasa pusing. Badannya demam. Ia pun menggigil.

Sementara itu, ingus terus saja mengalir keluar dari lubang hidungnya. Sebentar-sebentar ia pun mulai batuk-batuk.

Rasanya serba tidak enak. Tidur tidak enak, makan tidak enak. Segalanya serba salah. Ibu sudah menyuruhnya pergi ke dokter. Tapi Didi tidak mau. Takut kalaukalau disuntik oleh sang dokter.

”Kak, Kak Didi!” seru Ima, adiknya.

”Bangun! Ayah datang membawa rambutan lima ikat,” lanjut Ima.

”Males ah,” sahut Didi tanpa beranjak dari tempat tidurnya.

”Hai, kenapa kamu terus mengurung diri di kamar?” seru ayah saat melihat Didi tergolek lemas di kamar.

”Sakit demam, Yah,” jawab Didi.

”Ah, cuma sakit demam biasa…” sahut ayah sambil tertawa.

”Tapi rasanya sangat tidak nyaman, Yah!” kata Didi sambil menyeringai.

”Sudah diobati?” tanya ayah.

Didi menggeleng.

”Bagaimana bisa sembuh kalau tidak diobati?” tanya ayah lagi.

”Makanya jangan suka mencari penyakit kalau takut dokter,” timpal ibu yang melongok dari pintu.

”Ah… Ibu ini ada-ada saja. Masak saya mencari penyakit?” protes Didi.

”Habis, tadi sore kamu kanmain hujan-hujanan. Apa itu namanya tidak mencari penyakit?” sambung ibu.

”Ah, saya kan hujan-hujanannya cuma sekali,” bantah Didi.

”Ya, sekali setiap hujan,” tukas Ima.

”Husss!” bentak Didi.

Ima pun lari sambil mengunyah rambutan. ”Coba sini lihat seperti apa?” ujar ayah.

Ayah lalu memegang kening Didi. ”Hemm… Besok kita bawa ke dokter. Mungkin tidak perlu disuntik,” ujar ayah pula.

”Lalu diapakan, Yah?” tanya Didi was-was.

”Sepertinya diberi obat saja cukup.”

”Heemm… Rambutannya manis sekali, Kak. Biar untuk Kakak semua, asal… kau makan sekarang. He..he..hee,” ejek si Ima.

”Jangan mengejek kau Ima. Kalau kamu masuk angin nanti, baru tahu rasa kamu,” sahut Didi mulai jengkel.

”Ah, mana mungkin aku masuk angin. Aku kan tidak pernah hujan- hujanan,” jawab Ima sambil terus saja mengunyah rambutan.

”Wah, rambutannya manis sekali, Yah. Terima kasih,” sekali lagi Ima mengejek Didi.

Didi menjadi semakin geram. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain nyengirdan mendesis-desis.

Sekali lagi Didi harus menghela napas panjang. Ia begitu iri melihat adiknya yang tengah mengunyah rambutan. Dalam hati, ia berjanji tidak akan nekat hujan-hujanan lagi.

”Kalau sudah sakit begini, aku sendiri yang rugi!” sesal Didi.

Esok harinya, Didi pun mau dibawa berobat ke dokter.

Tinggalkan Balasan

Back to Top