Nok Nuning

Serombongan orang datang bersama Pak Lurah. Mereka membawa mobil bagus. Orang-orang itu berdandan seperti robot. Wajahnya ditutup topeng yang bermoncong dan membawa alat canggih. Semacam bazoka di film-film layar tancap. Para penduduk hanya boleh memandangi dari jauh. Kata Pak Lurah, nanti bisa terkena racun.

Rombongan itu menuju punden Mbah Sodi. Penduduk waswas dan mengira-ngira apa yang akan mereka lakukan. Sebenarnya, tempat yang disebut punden itu adalah pohon yang tumbuh miring dan sudah berumur ratusan tahun.

Penduduk menganggap pohon itu pohon keramat, sehingga mereka membuatkan semacam pagar yang melingkarinya. Setiap malam pada hari tertentu, para penduduk setempat mengirim sesaji. Sambil mengisi kendi dengan air yang menggenang di cekungan pohon itu.

Kata emak, Mbah Sodi adalah cikal bakal kampung ini. Dulu, dia musnah di tempat itu ketika melawan kompeni. Beberapa waktu kemudian, di tempat itu pula tumbuh pohon yang batangnya miring menyerupai orang tua yang badannya bongkok. Mirip postur tubuh Mbah Sodi, dan orang-orang kampung meyakini pohon itu memang jelmaan Mbah Sodi.

Tapi Pak Lurah bilang pohon itu pohon penyakit. Harus ditebang. Penduduk mati-matian mempertahankannya. ”Tenang, hanya diobati,” kata Pak Lurah sewaktu penduduk mengingatkan berkalikali kampung ini bisa kuwalat sama Mbah Sodi.

Lantas, dari jauh terlihat gumpalan asap mengepul. Para penduduk hanya bisa memandang cemas. Antara harapan baik dan ketakutan.

Dia datang lagi semalam. Tubuhnya kini lebih panjang, tapi agak kenyal. Mirip benda karet yang bisa melar dan ditarik dua ujungnya. Berkali-kali
ia mengucap kalimat yang tidak kumengerti. Tidak seperti bahasa yang biasa dikenalkan emak kepadaku. Ia memiliki mata, hidung dan sebuah
lubang yang agak lonjong bentuknya. Tapi sedikit tak beraturan. Jika lubang itu mulutnya, tapi mengapa tak ada bagian tebal seperti punyaku dan punya emak?

Kali pertama aku melihatnya, meski di mimpi, membuat rasa takut ini terus mendekam di urat-uratku selama 24 jam, meskipun aku sudah terbangun di pagi harinya. Sehingga memaksa kelenjar keringat meludahkan air asin yang dingin. Selama itu pula aku meracau sambil sesekali berteriak memanggil emak. Kemudian, emak akan datang membawa kain yang kering, setelah menjemur kain sebelumnya yang telah basah oleh keringatku.

Sambil membersihkan keringatku, emak tak hentinya memaksa aku untuk mengaku, bahwa aku telah bermain di punden Mbah Sodi. ”Tidak Mak, Ning hanya numpang cuci kaki. Sungguh Mak!” berontakku, sewaktu pulang dari main betengan*). Dan saat itu badanku mulai panas dingin.

”Panggil Mantri Sukri saja!” kata Lik Sarto, adik emak. Dia datang bersama orang-orang kampung.

”Ya, dia punya suntikan!” timpal yang lain. Aku merasa ruangan ini semakin sempit. Dan, samar-samar kulihat banyak manusia berjubal. Banyak pula suarasuara yang mendengung di telingaku. Samar-samar dan sesekali terdengar jelas dan sesekali pula hanya semacam gumaman.

”Mantri Sukri ndakbisa diutang.”

”Biar Pak Lik RT yang bicara nanti.”

”Mbah Kamit saja. Paling dia hanya minta seikhlasnya!”

”Nok harus dikipasi terus.”

”Katanya dingin, kok!”

”Apa ndak kasihan itu? Air matanya ngalir terus gitu.”

”Mana gombalnya tadi?”

Tapi perlahan panas menjalari ujung kakiku. Kemudian naik ke mata kaki. Terus naik. Naik lagi hingga lutut. Di situ terasa sakit yang luar biasa.  Kemudian panas itu naik lagi.

Di perut kurasakan makanan yang emak suapkan tadi siap memberontak. Mulas dan sangat sakit. Lalu ke dada. Sesak. Lalu mata. Seperti nyala api yang didekatkan airmata. Jerit. Suara orang-orang. Teriak emak. Lalu sepi. Hening.

Lalu sosok itu kembali datang. Sosok yang merah. Di tubuhnya muncul lendir. Sungguh menjijikkan. Lalu tangan. Lalu kaki. Lubang di wajahnya meruncing. Kini menyerupai mulut. Menyembul di ujungnya adalah benda kecil yang berkilau. Juga runcing. Sosok itu mendekatiku.

Mulutnya seperti senyum mengejek. Sinis. Kejam. Darah. Dan lenguh panjang. Tangan itu menjulur. Kuku tajam juga meruncing. Berkilau di sela-sela tetes lendir yang berbau menyengat.

Jantungku seakan tersumpal ribuan ton batu berat. Begitu sesak dan menyiksa. Napasku semakin tak berirama. Samar-samar terdengar pekik emak yang panjang. ”Niiing…!!!”

Hadirin belum berkedip. Seakan menunggu akhir ceritaku tadi. Aku mencoba memandang satu per satu wajah mereka. Wajah polos yang sebagian besar tak tersentuh pendidikan.Mereka kebanyakan  adalah ibu rumah tangga. RTsetempat, mengundangku untuk memberikan semacam  penyuluhan.

”Lalu bagaimana dengan Nok Nuning, Bu?” celetuk seorang di antaranya.

”Setelah dukun-dukun tak mampu menangani, orang-orang akhirnya memutuskan memanggil Pak Lurah. Dengan cepat Pak Lurah membawa Nok Nuning ke Puskesmas. Di sana, Nok Nuning diberi pertolongan pertama kemudian mendapat rujukan untuk dirawat di rumah sakit kota.”

”Apa penyakitnya, Bu?”

”Demam berdarah. Diduga pohon itu penyebabnya.”

”Ada apa dengan pohon itu, Bu?”

”Itu pohon Akasia yang kebetulan condong, sebab sudah berumur terlampau tua. Di bagian atasnya ada cekungan yang terbentuk dari kikisan air hujan. Sisa hujan menggenang di cekungan itu. Dan, cekungan itulah sumber penyakit, sebab nyamuk demam berdarah sangat senang hidup di sana. Maka, tak lama setelah kejadian itu Pak Lurah membawa serombongan orang. Mereka adalah petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Mereka menyemprotkan obat berupa asap. Namanya fogging.”

”Apa pohon itu ditebang?”

”Tidak, dengan catatan para penduduk sekitar harus membersihkan air di sekitar pohon setiap seminggu sekali. Dan tak hanya di sekitar pohon itu, mereka pun harus mencegah air menggenang di sekitar rumah mereka.”

”Nasib Nok Nuning?”

”Sekarang Nok Nuning jadi pegawai penyuluh kecamatan. Memberikan pengertian kepada masyarakat tentang bahaya malaria dan demam berdarah. Nama sebenarnya adalah Haningsih.”

Para hadirin tersenyum kepadaku sambil tepuk tangan cukup lama. Ada beberapa airmata di sana.

Tinggalkan Balasan

Back to Top