Vas Bunga Kejujuran

”Praang,” Lita kaget. Vas bunga yang ada di depannya pecah berantakan. Sebenarnya dia tak sengaja memecahkannya, karena saat itu dia sedang asyik bermain dengan boneka Barbie dan karena tidak melihat, tangannya menyenggol vas. Lita berdiri dengan pucat, memandangi vas yang sudah menjadi kepingan kaca.

”Aduh, pasti dimarahi nih,” ujarnya dalam hati.

Tak lama kemudian, ia memunguti pecahan-pecahan vas dan mengumpulkan dalam plastik. Setelah semuanya terkumpul, ia mengikat plastik dan membuangnya di tempat sampah.

”Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku harus menjawab apa bila ditanya Ibu?” tanya Lita dalam hati. Dia takut sekali dimarahi.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Lita memutuskan untuk berbohong.

Sore hari, saat Ibu pulang dari mengajar, langsung bertanya kepada Lita karena melihat vas bunga yang biasanya ada di atas meja telah tiada. Lita menjawab bahwa adiknya yang memecahkan. Ibu percaya, dan segera memanggil Fena, adik Lita, Fena pun dimarahi Ibu dan dipaksa berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Sebenarnya dalam hati Lita tidak tahan, apalagi saat melihat Fena yang masih TK menangis karena dimarahi. Tapi Lita takut. Lita hanya bisa meminta maaf dalam hati.

Sepekan kemudian, Lita dan Fena kembali bermain seperti biasa. Ketika sedang asyik bermain, adik Lita disuruh Ibunya membeli gula yang habis. Fena langsung menurut dan segera berangkat. Sedangkan Lita disuruh Ibu ikut membantu membuat kue bolu untuk arisan malamharinya. Dengan senang hati Lita langsung menuju ke dapur dan membantu Ibu.

Sepuluh menit kemudian ketika sedang mencampur adonan kue, terdengar suara Fena. Dia menangis. Wah ada apa ya? Lita menghampiri adiknya. Dia bercerita bahwa uang yang diberikan Ibunya terjatuh dan hilang tidak tahu di mana. Fena menangis, karena ia takut dimarahi lagi. Ia tidak ingin membuat Ibunya marah-marah. Lita yang kebingungan juga tak tahu harus berbuat apa, dia tak berani memberitahukan Ibu.

Tak lama kemudian Fena menyeka air matanya, berusaha berhenti menangis, dan berucap, ”Aku mau bilang Ibu dulu ya, Kak? Kata bu guru, kita harus jujur dengan orang tua.”

Dan Fena berjalan ke dapur. Sementara Lita memandang dengan penuh rasa bersalah. Lita teringat kesalahan ketika memecahkan vas dan tidak mau mengaku.

”Berarti aku kalah dengan adikku. Adikku saja berani jujur, masa aku tidak,” ujar Lita dalam hati.

Lita menyesali kejadian pekan lalu, dan bermaksud untuk ikut mengakui kesalahannya.

Lita buru-buru menyusul ke dapur tempat ibunya berada. Fena tampak sedang menangis sambil dinasihati ibunya. Berkali-kali Fena mengakui bahwa ia yang salah. Akhirnya, Ibunya menyuruh Fena untuk mencoba mencari, sebagai bentuk tanggung jawab. Ketika Fena keluar dan mencari uang yang jatuh, Lita menghampiri ibu dan berkata, ”Ibu, Lita ingin minta maaf.” Wajah Lita tertunduk. Ia takut, tapi harus berani jujur. Lita
bertekad dalam hati.

”Kenapa minta maaf Lita sayang?” jawab Ibu, sambil mengaduk adonan tepung dan telur yang dicampur air.

”Lita sudah salah sama Ibu dan Fera.”

”Salah bagaimana? Coba kamu jelaskan kepada Ibu ya!” Ibu menghampiri Lita dan menatap wajahnya.

”Lita pekan lalu sudah berbohong pada Ibu. Sebenarnya yang memecahkan vas bunga bukan Fena, tapi Lita. Lita takut dimarahi Ibu, makanya Lita berbohong. Maafkan Lita, Bu!” kali ini Lita menatap wajah ibunya. Ia siap menerima akibatnya sekarang.

Ibu terdiam sebentar, dan kemudian berkata, ”Lita, Ibu bangga kamu mau mengakui kesalahan. Kamu tahu, sikap jujur harus kita miliki walaupun akibatnya pahit bagi kita. Kamu mengerti kan?”

”Iya, Bu. Lita mengerti, maafkan Lita!”

”Ibu maafkan Nak. Sebagai hukumannya, kamu harus membantu Fena mencari uang yang jatuh tadi. Dan jangan lupa, kamu juga harus meminta maaf kepada Fena. Kamu sanggup?”

Lita mengangguk mantap. Hatinya yang sebelumnya selalu dihantui perasaan bersalah menjadi lega. Lita pun berangkat menyusul Fena dan berjanji, dia juga akan minta maaf pada Fena. Karena jujur itu indah.

Tinggalkan Balasan

Back to Top